Ada
satu kejadian bulan lalu yang membuat gue berpikir inilah cara gue menjadi
teman yang baik buat orang lain: dengan pelukan. Emang sih, gue demen melukin
temen gue dari dulu – it is a well known story especially to Cindy my high
school buddy, tapi giliran kuliah dimulai gue ngga bisa pelukin orang
sembarangan karna bisa dikira macem-macem kalo gue tiba-tiba pelukin mereka tanpa
alasan. Sebelomnya ngga pernah kepikir sampe akhirnya hari itu akan tiba bahwa
ada temen cewe yang bakal dateng trus minta gue peluk, tapi ketika itu terjadi
gue sejujurnya seneng sendiri mengetahui fakta bahwa my hugs are actually contagious to some dan ngga semua orang bisa
dengan nyaman dikasih (atau nerima) pelukan gue dengan bahagia. Tapi gue sih
seneng-seneng aja kalo ada orang yang menghargai pelukan gue. Kita akan bahas
lebih jauh tentang hal ini beberapa menit kedepan; tapi mari gue ceritakan darimana
gue jadi suka pelukin orang.
Awal
gue suka pelukan sebenernya ngga tau juga sih dari mana (#JEDUAR), tapi kalo
diinget-inget sih waktu kelas 10 gue mulai deket sama sahabat gue yang namanya
Mei, gue sama dia suka gandengan tangan. EH BUKAN, gue bukan lesbi – gue masih
suka cowok bro. Tapi emang cara kita nunjukkin affection yang dianggap ngga
“berlebihan”, rasanya cuman dari pegangan tangan yang friendly (dan kemudian
setelah itu muncullah pernyataan cowok-cowok yang bilang “tuh kan! Kalo cewek
gandengan gak apa-apa, kalo cowok dikatain homo!”). Setelah itu ketika gue
mulai kelas 11 sekelas sama Mei dan Cindy, gue masih biasa aja sampe pas kelas
11 semester 2 gue mulai suka pelukin Cindy atas dasar semangat “kalo 20x sehari
peluk orang bisa nambah tinggi”, gandengan sama Mei, dan pelukan sama Cindy
sambil gandeng tangan Mei. Mulai bingung gimana caranya? Sama, gue juga. Tapi
dari situlah awalnya kenapa sampe akhir kelas 12 gue masih hobi pelukin si
Cindy walopun udah ngga sesering ketika kelas 11. Sekarang sih gue udah ngga
pelukin Cindy lagi karna kita udah beda jurusan dan beda jurusan berarti jarang
ketemu. Karna udah ngga ada Cindy-lah makanya gue cari target lain buat
dipelokin – dan siapa lagi kalo bukan temen-temen sekelas yang ultra aktif.
Sekarang juga gue sering pelukin orang. Apalagi kalo bukan atas alasan “butuh
kehangatan” dan “galau gegara kesepian”? HAHAHA, I KNOW RIGHT, GUE KEREN BANGET.
So.
Back to the relationship of “hugging and being a good friend” thing. I actually
have no problems about making new friends or admitting to people that I love
them; but it would be weird to tell people that I love them on their face –
especially if our current frienship level is as an acquaintance. I also have to
agree that showing that you care about someone does not necessaily have to come
only from hugging or any affectionate actions, but it is the most comfortable
(and easiest to do too!) thing I can afford to offer without having too much to
explain about anything while at the same time sharing the feeling of warmth. I think it’s just so much easier to prefer to
hugging or hold their hands if they are open to any of either.
I would
not really consider myself as a “hug bear”, but that would be a perfect new
term applied to someone who enjoys giving good quality hugs to their friends
and a “hug bearer” will definitely suit the term for someone who enjoys
receiving a hug from the hug bears. I AM EITHER A GENIUS OR EMANG UDAH ADA YA
TERM INI SEBELOMNYA? Huahaha let’s pretend I am a genius instead of the latter.
So next
time you see me and you needed a hug regardless of your reasoning, I will be
happy to share a hug with you if you ask for one! Siapa tau nanti dimasa depan
gue akan bisa nge-hasilin duit dari cuman pelokin orang! (YEAH RIGHT GLOR, yeah
right.) –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar