Inilah Jakarta, kota yang kenyataannya adalah bis dari
besi rongsokan, gedung-gedung tak selesai yang terlantar, dan got terbuka yang
mengeluarkan bau sengit menusuk.
Kota yang, kenyataannya adalah CO2 namun paru-paru kita
sudah diperlengkapi untuk menyaring sisa-sisa oksigen yang ada dikerumunan CO
tersebut, in which they give gracefully
within their misery.
Kota yang, diantara kemewahan masyarakatnya masih banyak
kekosongan yang berjuang untuk dipenuhi.
Kota yang, dalam haru birunya, menyimpan rapih sejuta
harapan dan cita-cita indah anak bangsanya.
...
Malam ini, perjuanganku melawan lupa ditemani dengan
sebuah bus tua yang aku tidak yakin mampu bertahan dalam satu bentuk yang utuh
begitu kami tiba sampai ke tujuan.
Sebuah bus tua yang sudah mengisahkan daya perjuangan
masyarakat melalui besi berkarat kursi, dan busa yang menganga.
Sebuah bus tua yang salah-salah injak, lantainya akan
langsung jebol.
Sebuah bus, yang tetap mengangkut cerita walaupun
lampunya hanya bersinar redup sampai masa akhir tugas.
Aku sebenarnya ingin banyak mengkritik kota kelahiranku
ini; namun apalah dayaku – Jakartapun bukan duniaku untuk mengkritik.
Angin berhembus masuk dari pintu kiri belakang; tepat
disamping tempat dimana aku duduk. Gordyn melambai seiring dengan ruas demi
ruas jalan yang kami lalui dalam diam. Lampu remang dalam bus menambah sendu
kota Jakarta yang biasanya tangguh dihadapan mataku – seolah sedang runtuh –
membelai tiap tarikan napas dan hembusannya. Suara mesin tua terus meraung,
berusaha bertahan hidup.
Aku pasti sudah tertidur terbuai angin jika bukan karena
pikiran yang terus menerus disuarakan pusat pengontrol tubuhku. Masalah
“Jakarta ini adalah tempat yang kurang baik untuk tempat penghidupan” masih
membayangiku.
Memang; Jakarta adalah kota sejuta impian bagi orang yang
pertama kali datang – kota sejuta lampu yang seolah mampu menerangi tiap inci
kehidupan seorang manusia yang masih bingung hendak dibawa kemana. Namun sering
kali orang juga lupa bahwa Jakarta yang penuh mimpi ini juga masih Jakarta yang
mampu melindas mimpi sampai kepingan terkecil – terlupakan, seakan tidak ada –
dalam waktu semalam. Seperti usaha membangun sebuah bangunan yang kemudian
berhenti setelah beton bergabung dengan beton lain karena kehabisan uang – atau
bensin yang kurang bagi bus kopaja yang mogok ditengah jalan; kurang
mempersiapkan mental untuk berjuang sehingga harus berakhir gelandangan.
Mereka lupa bahwa Jakarta sama kejamnya dengan penyediaan
CO2 yang kita hidup ditengah peradabannya; menjadi racun bagi tubuh renta yang
akan terus dihantui usia.
Mereka lupa bahwa Jakarta yang terkesan “mimpi indah” ini
juga adalah Jakarta yang sama bobroknya dengan tirani pemerintahan lain. Bahwa
keamanan, persatuan utuh, dan kedamaian bagi seluruh umat sejuta agama dan
keberagaman hanylah sebuah ilusi yang mampu dipikiran oleh manusia.
Ketika akhirnya seluruh dunia mereka mulai hancur, mereka
tidak mau mengingat bahwa lampu yang sudah lama pudar ini hanya diganti dengan
lampu kecil 5 watt; lampu seadanya yang melambangkan kehidupan mepet pas-pasan
jika tidak berhasil tembus pasar masyarakat.
Mereka tidak mau mempercayai bahwa CO2 tidak baik untuk
tubuh – mimpi tanpa persiapan untuk yang terburuk adalah penyakit yang
perlahan-lahan mengerogoti badan.
Namun Jakarta, ditengah paginya yang penuh debu, dusta
dan asa adalah juga Jakarta yang mampu memberi penghargaan terbaik jika manusia
mau berjuang sedikit lagi; bertahan sedikit lebih lama lagi. Jakarta, ditengah
malamnya yang penuh doa jutaan masyarakat beriman terdapat jutaan bisik dan
harapan agar kota ini tidak hancur ditengah peradaban dunia; agar kota ini
bertahan dan tetap menjadi mimpi bagi Indonesia untuk maju.
Aku sendiri tidak mampu membayangkan apapun mengenai
Jakarta jika bukan tentang orang-orang yang kehidupannya adalah perjuangannya; yang
kegagalannya dibisikkan dari satu telinga kepada telinga yang lain. Yang aku
mau adalah semua impian adalah untuk tercapai, semua gedung layak untuk
ditinggali, semua orang memiliki kehidupan yang berarti untuk dibagikan kepada
sesamanya.
Namun siapakah aku, jika bukan satu dari bagian
pemimpi-pemimpi Jakarta yang masih belum yakin mengenai apa yang mampu aku
lakukan untuk memperbaiki Jakarta? Siapakah aku jika bukan satu dari sejuta
kemungkinan yang gagal dalam meraih cita-citaku? Siapakah aku, jika bukan satu
bagian dari ilusi juga? –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar