Kamis, 15 Oktober 2015

Siapakah Aku


Inilah Jakarta, kota yang kenyataannya adalah bis dari besi rongsokan, gedung-gedung tak selesai yang terlantar, dan got terbuka yang mengeluarkan bau sengit menusuk.
Kota yang, kenyataannya adalah CO2 namun paru-paru kita sudah diperlengkapi untuk menyaring sisa-sisa oksigen yang ada dikerumunan CO tersebut, in which they give gracefully within their misery.
Kota yang, diantara kemewahan masyarakatnya masih banyak kekosongan yang berjuang untuk dipenuhi.
Kota yang, dalam haru birunya, menyimpan rapih sejuta harapan dan cita-cita indah anak bangsanya.
...
Malam ini, perjuanganku melawan lupa ditemani dengan sebuah bus tua yang aku tidak yakin mampu bertahan dalam satu bentuk yang utuh begitu kami tiba sampai ke tujuan.
Sebuah bus tua yang sudah mengisahkan daya perjuangan masyarakat melalui besi berkarat kursi, dan busa yang menganga.
Sebuah bus tua yang salah-salah injak, lantainya akan langsung jebol.
Sebuah bus, yang tetap mengangkut cerita walaupun lampunya hanya bersinar redup sampai masa akhir tugas.
Aku sebenarnya ingin banyak mengkritik kota kelahiranku ini; namun apalah dayaku – Jakartapun bukan duniaku untuk mengkritik.
Angin berhembus masuk dari pintu kiri belakang; tepat disamping tempat dimana aku duduk. Gordyn melambai seiring dengan ruas demi ruas jalan yang kami lalui dalam diam. Lampu remang dalam bus menambah sendu kota Jakarta yang biasanya tangguh dihadapan mataku – seolah sedang runtuh – membelai tiap tarikan napas dan hembusannya. Suara mesin tua terus meraung, berusaha bertahan hidup.
Aku pasti sudah tertidur terbuai angin jika bukan karena pikiran yang terus menerus disuarakan pusat pengontrol tubuhku. Masalah “Jakarta ini adalah tempat yang kurang baik untuk tempat penghidupan” masih membayangiku.
Memang; Jakarta adalah kota sejuta impian bagi orang yang pertama kali datang – kota sejuta lampu yang seolah mampu menerangi tiap inci kehidupan seorang manusia yang masih bingung hendak dibawa kemana. Namun sering kali orang juga lupa bahwa Jakarta yang penuh mimpi ini juga masih Jakarta yang mampu melindas mimpi sampai kepingan terkecil – terlupakan, seakan tidak ada – dalam waktu semalam. Seperti usaha membangun sebuah bangunan yang kemudian berhenti setelah beton bergabung dengan beton lain karena kehabisan uang – atau bensin yang kurang bagi bus kopaja yang mogok ditengah jalan; kurang mempersiapkan mental untuk berjuang sehingga harus berakhir gelandangan.
Mereka lupa bahwa Jakarta sama kejamnya dengan penyediaan CO2 yang kita hidup ditengah peradabannya; menjadi racun bagi tubuh renta yang akan terus dihantui usia.
Mereka lupa bahwa Jakarta yang terkesan “mimpi indah” ini juga adalah Jakarta yang sama bobroknya dengan tirani pemerintahan lain. Bahwa keamanan, persatuan utuh, dan kedamaian bagi seluruh umat sejuta agama dan keberagaman hanylah sebuah ilusi yang mampu dipikiran oleh manusia.
Ketika akhirnya seluruh dunia mereka mulai hancur, mereka tidak mau mengingat bahwa lampu yang sudah lama pudar ini hanya diganti dengan lampu kecil 5 watt; lampu seadanya yang melambangkan kehidupan mepet pas-pasan jika tidak berhasil tembus pasar masyarakat.
Mereka tidak mau mempercayai bahwa CO2 tidak baik untuk tubuh – mimpi tanpa persiapan untuk yang terburuk adalah penyakit yang perlahan-lahan mengerogoti badan.
Namun Jakarta, ditengah paginya yang penuh debu, dusta dan asa adalah juga Jakarta yang mampu memberi penghargaan terbaik jika manusia mau berjuang sedikit lagi; bertahan sedikit lebih lama lagi. Jakarta, ditengah malamnya yang penuh doa jutaan masyarakat beriman terdapat jutaan bisik dan harapan agar kota ini tidak hancur ditengah peradaban dunia; agar kota ini bertahan dan tetap menjadi mimpi bagi Indonesia untuk maju.
Aku sendiri tidak mampu membayangkan apapun mengenai Jakarta jika bukan tentang orang-orang yang kehidupannya adalah perjuangannya; yang kegagalannya dibisikkan dari satu telinga kepada telinga yang lain. Yang aku mau adalah semua impian adalah untuk tercapai, semua gedung layak untuk ditinggali, semua orang memiliki kehidupan yang berarti untuk dibagikan kepada sesamanya.

Namun siapakah aku, jika bukan satu dari bagian pemimpi-pemimpi Jakarta yang masih belum yakin mengenai apa yang mampu aku lakukan untuk memperbaiki Jakarta? Siapakah aku jika bukan satu dari sejuta kemungkinan yang gagal dalam meraih cita-citaku? Siapakah aku, jika bukan satu bagian dari ilusi juga? –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar