-Dalam rangka kangen 3 Juni 2015 dan
segala hal yang terjadi didalamnya-
Ngga berasa udah 3 bulan semenjak salah satu cita-cita
gue yang ngga pernah gue perkirain bakal kesampean eh beneran kesampean. Mimpi
apa gue 3 taun lalu bisa Pentatonixnya beneran dateng ke Jakarta dan gue nonton
sama sahabat gue sendiri?
Ga berasa udah masuk taun ketiga gue mencintai sebuah
aliran musik yang sebelumnya dipegang rekor terpanjang oleh Ne-Yo; itupun
aliran musik yang masih pake full band. Ini adalah aliran musik non-band
pertama yang bisa gue suka sampe bener-bener sepanjang ini. Gue sebenernya
masih ngga nyangka aja gitu gue bisa ngeliat evolusi artis yang gue sukai
menjadi sesuatu yang di Indonesia sendiri banyak yang suka (walopun sih, yah,
yang suka juga kalo bukan kumpulan anak-anak imbisil dibawah umur ya
bakteri-bakteri jahanam yakult yang gagal move on). Gue bangga bisa menjadi
bagian dari perubahannya.
Ngga berasa udah 4 bulan juga kurang lebih kenal sama manusia-manusia
yang dihati ini gue pribadi cap sebagai #squadgoals gue sepanjang masa a.k.a “KDB
++”.
Udah 4 bulan kenal, berarti udah 4 bulan terbentuk. Udah
mulai ngerti senggol bacotnya mereka-mereka ini. Gue baru pernah ngerasa yang
namanya “pengen banget temu kangen sama orang-orang yang sebenernya gue baru
pernah ketemu sekali tapi uda berasa sayang aja gitu”. Udah 4 bulan bertahan
diantara 100an orang jahanam yang ngga ngerti revolusi mental disebuah grup
terpisah – udah 4 bulan sepak terjang bareng ngadepin PHP-an masing-masing
gebetan. Cerita mereka semua masih segar diingatan gue seakan baru kemarin
mereka kumandangkan.
Dan dengan segala keunikan itu, dimana adalah keunikan
positif yang sangat gue syukuri, bisa semuanya gue rasakan 3 bulan yang lalu disebuah
event pengubah dunia gue: konser #OnMyWayHomeTour Pentatonix 2015 pertama di
Indonesia.
Iya, ini bukan konser pertama mereka dibeberapa negara
Asia Tenggara lainnya. Ini udah beberapa kali di Jepang atau Singapur – tapi
ini yang pertama untuk Indonesia.
Iya, ini bukan konser pertama artis luar negri di Balai
Kartini – tapi ini konser pertama tanpa alat musik disana – bahkan akustik pun
tidak.
Iya juga, ini bukan konser band yang pada kala itu
terkemuka; tapi ini adalah sebuah konser dimana gue belajar untuk menghormati
keterciptaan suara dan keindahannya tanpa latar belakang alat musik apapun –
keajaiban Tuhan yang dibalik semua ciptaan lainnya.
Iya, ini adalah konser yang gue secara sadar ingin datang
dengan keinginan yang begitu kuat. Ini adalah konser pertama gue.
Entah kenapa ketika orang-orang merasakan PCD seminggu
setelah konser itu berlangsung gue malah baru merasakan hal tersebut 3 bulan
kemudian. Mungkin karna gue bisa begitu kangen sama suara harmoni yang gue ngga
akan pernah denger lagi, mungkin? Entahlah – gue masih berharap bisa nonton
lagi kalo kiamat belum datang.
Mungkin gue ngga beli merchandise apa-apa ketika
Pentatonix datang ke Indonesia. Gue ngga bakal punya bukti konkrit bahwa gue
datang ketempat dimana mereka pertama kali manggung
dinegara gue tercinta. Tapi gue punya teman-teman seperjuangan ini yang akan
membantu gue untuk mengingat – dan mereka adalah lebih daripada merchandise
apapun yang bisa gue dapatkan sore itu di Balai Kartini: mereka semua ngga ternilai harganya dihati ini.
Orang bisa aja kehilangan benda – tapi gue ngga akan
pernah kehilangan memori gue sebagaimana gue ngga akan pernah akan kehilangan
orang-orang yang merayakannya bersama gue. Gue punya foto yang konon bercerita
lebih banyak daripada apapun yang pernah dituliskan dan dibuat oleh tangan
manusia. Gue punya foto bersama mereka semua ketika malam itu berlalu. –red




Tidak ada komentar:
Posting Komentar