Jumat, 02 Oktober 2015

#OnMyWayHomeTour



-Dalam rangka kangen 3 Juni 2015 dan segala hal yang terjadi didalamnya-





Ngga berasa udah 3 bulan semenjak salah satu cita-cita gue yang ngga pernah gue perkirain bakal kesampean eh beneran kesampean. Mimpi apa gue 3 taun lalu bisa Pentatonixnya beneran dateng ke Jakarta dan gue nonton sama sahabat gue sendiri?
Ga berasa udah masuk taun ketiga gue mencintai sebuah aliran musik yang sebelumnya dipegang rekor terpanjang oleh Ne-Yo; itupun aliran musik yang masih pake full band. Ini adalah aliran musik non-band pertama yang bisa gue suka sampe bener-bener sepanjang ini. Gue sebenernya masih ngga nyangka aja gitu gue bisa ngeliat evolusi artis yang gue sukai menjadi sesuatu yang di Indonesia sendiri banyak yang suka (walopun sih, yah, yang suka juga kalo bukan kumpulan anak-anak imbisil dibawah umur ya bakteri-bakteri jahanam yakult yang gagal move on). Gue bangga bisa menjadi bagian dari perubahannya.
Ngga berasa udah 4 bulan juga kurang lebih kenal sama manusia-manusia yang dihati ini gue pribadi cap sebagai #squadgoals gue sepanjang masa a.k.a “KDB ++”.
Udah 4 bulan kenal, berarti udah 4 bulan terbentuk. Udah mulai ngerti senggol bacotnya mereka-mereka ini. Gue baru pernah ngerasa yang namanya “pengen banget temu kangen sama orang-orang yang sebenernya gue baru pernah ketemu sekali tapi uda berasa sayang aja gitu”. Udah 4 bulan bertahan diantara 100an orang jahanam yang ngga ngerti revolusi mental disebuah grup terpisah – udah 4 bulan sepak terjang bareng ngadepin PHP-an masing-masing gebetan. Cerita mereka semua masih segar diingatan gue seakan baru kemarin mereka kumandangkan.
Dan dengan segala keunikan itu, dimana adalah keunikan positif yang sangat gue syukuri, bisa semuanya gue rasakan 3 bulan yang lalu disebuah event pengubah dunia gue: konser #OnMyWayHomeTour Pentatonix 2015 pertama di Indonesia.





Iya, ini bukan konser pertama mereka dibeberapa negara Asia Tenggara lainnya. Ini udah beberapa kali di Jepang atau Singapur – tapi ini yang pertama untuk Indonesia.
Iya, ini bukan konser pertama artis luar negri di Balai Kartini – tapi ini konser pertama tanpa alat musik disana – bahkan akustik pun tidak.
Iya juga, ini bukan konser band yang pada kala itu terkemuka; tapi ini adalah sebuah konser dimana gue belajar untuk menghormati keterciptaan suara dan keindahannya tanpa latar belakang alat musik apapun – keajaiban Tuhan yang dibalik semua ciptaan lainnya.
Iya, ini adalah konser yang gue secara sadar ingin datang dengan keinginan yang begitu kuat. Ini adalah konser pertama gue.
Entah kenapa ketika orang-orang merasakan PCD seminggu setelah konser itu berlangsung gue malah baru merasakan hal tersebut 3 bulan kemudian. Mungkin karna gue bisa begitu kangen sama suara harmoni yang gue ngga akan pernah denger lagi, mungkin? Entahlah – gue masih berharap bisa nonton lagi kalo kiamat belum datang.
Mungkin gue ngga beli merchandise apa-apa ketika Pentatonix datang ke Indonesia. Gue ngga bakal punya bukti konkrit bahwa gue datang ketempat dimana mereka pertama kali manggung dinegara gue tercinta. Tapi gue punya teman-teman seperjuangan ini yang akan membantu gue untuk mengingat – dan mereka adalah lebih daripada merchandise apapun yang bisa gue dapatkan sore itu di Balai Kartini: mereka semua ngga ternilai harganya dihati ini.
Orang bisa aja kehilangan benda – tapi gue ngga akan pernah kehilangan memori gue sebagaimana gue ngga akan pernah akan kehilangan orang-orang yang merayakannya bersama gue. Gue punya foto yang konon bercerita lebih banyak daripada apapun yang pernah dituliskan dan dibuat oleh tangan manusia. Gue punya foto bersama mereka semua ketika malam itu berlalu. –red




Tidak ada komentar:

Posting Komentar