Lucu, bagaimana ditengah-tengah
sebuah kelas yang sudah asik dengan nyamannya masing-masing gue malah menemukan
sesosok ideal diantara mereka yang masih kekanak-kanakan.
Lucu, bagaimana dahulu “mencari
dan menjalin hubungan dengan lawan jenis” adalah sebuah ide yang begitu penting
buat gue namun sekarang menjadi urutan yang kesekian setelah Tuhan, keluarga,
teman, aktivitas kampus, dan IP.
Lucu, bagaimana gue sangat
menikmati proses “menjadi anak kuliahan” lebih daripada gue menikmati masa SMA
gue – masa yang datang lebih baik daripada masa yang sebelumnya.
Lucu, karena hanya ada 3 hal yang
gue rindukan dari masa SMA; yakni sahabat-sahabat gue, kepala sekolah gue, dan
melatih upacara.
Lucu bagaimana ditengah-tengah
sebuah kelas yang baru satu bulan kenal ini malah gue merasa lebih “kompak
komplak” kebanding teman-teman yang dahulu pernah bersama. Bagaimana sekian
puluh tren baru sudah tercipta dalam kurun waktu yang singkat tanpa mengenal
malu.
Rasanya nyaman walaupun tidak
kenal mendalam; rasanya menyenangkan karena semua orang berusaha untuk diterima
– karena semua orang memiliki ekspektasi yang selain tinggi juga bertoleransi
tinggi.
Lucu bagaimana pertemanan yang
seharusnya dari awal menjadi “lawan” malah menjadi “teman seperjuangan”, menjadi
lebih perhatian diantara saling ketidak-tahuan.
Bagaimana dengan kehadiran mereka
semua yang tidak seberapa membuat dunia gue terasa jauh lebih menyenangkan dan
pantas untuk diperjuangkan kelanjutannya.
Bagaimana semua rasa ini begitu
baru dan menyenangkan
...
Ya, mungkin kami semua berbeda
secara dominasi, latar belakang, agama, ras – tetapi kami tetap bersatu.
Mungkin kami seharusnya menjadi
lebih individualis – tapi toh individualis bukanlah ciri bangsa ini, bukan?
Kami memilih untuk peduli – namun
peduli yang berbeda dan bertanggung jawab.
Kami memilih untuk menjadi bagian
yang membuat kampus kita ini – dan lebih spesifiknya jurusan kami (atau mungkin
kelas kami diantara satu angkatan ini) – berbeda: karna ada orang-orang yang
bedoa, karna ada orang-orang yang mau berkomitmen untuk menjadi baik dan tidak
tenggelam dalam arus.
Kami memilih untuk berjuang
dengan kesederhanaan, keberanian, dan kepedulian.
Kami ingin orang lain tahu bahwa
di Indonesia masih ada anak-anak muda seperti kami: pejuang kebenaran dan
integritas masa depan.
Kami memilih untuk menjadi solid
dan berbeda demi Indonesia yang lebih baik.
Indonesia hanya perlu menunggu
waktu sebentar lagi sebelum kami datang: waktu 3 tahun untuk lulus bukanlah
waktu yang lama. Indonesia hanya perlu menanti sebentar saja sebelum
pemimpin-pemimpin besarnya bertelur. Indonesia tidak perlu bingung lagi karna
kami sebenarnya sudah dicipta untuk mereka. Indonesia tidak usah takut akan
demoralisasi karna ada 1 kelompok kecil yang mampu mengubah seluruh negeri. Dan
Indonesia bisa bernafas lega karna akhirnya akan ada generasi gila yang mampu mengurusinya
dimasa tua. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar