Kamis, 15 Oktober 2015

Lucu, Bagaimana...


Lucu, bagaimana ditengah-tengah sebuah kelas yang sudah asik dengan nyamannya masing-masing gue malah menemukan sesosok ideal diantara mereka yang masih kekanak-kanakan.
Lucu, bagaimana dahulu “mencari dan menjalin hubungan dengan lawan jenis” adalah sebuah ide yang begitu penting buat gue namun sekarang menjadi urutan yang kesekian setelah Tuhan, keluarga, teman, aktivitas kampus, dan IP.
Lucu, bagaimana gue sangat menikmati proses “menjadi anak kuliahan” lebih daripada gue menikmati masa SMA gue – masa yang datang lebih baik daripada masa yang sebelumnya.
Lucu, karena hanya ada 3 hal yang gue rindukan dari masa SMA; yakni sahabat-sahabat gue, kepala sekolah gue, dan melatih upacara.
Lucu bagaimana ditengah-tengah sebuah kelas yang baru satu bulan kenal ini malah gue merasa lebih “kompak komplak” kebanding teman-teman yang dahulu pernah bersama. Bagaimana sekian puluh tren baru sudah tercipta dalam kurun waktu yang singkat tanpa mengenal malu.
Rasanya nyaman walaupun tidak kenal mendalam; rasanya menyenangkan karena semua orang berusaha untuk diterima – karena semua orang memiliki ekspektasi yang selain tinggi juga bertoleransi tinggi.
Lucu bagaimana pertemanan yang seharusnya dari awal menjadi “lawan” malah menjadi “teman seperjuangan”, menjadi lebih perhatian diantara saling ketidak-tahuan.
Bagaimana dengan kehadiran mereka semua yang tidak seberapa membuat dunia gue terasa jauh lebih menyenangkan dan pantas untuk diperjuangkan kelanjutannya.
Bagaimana semua rasa ini begitu baru dan menyenangkan
...
Ya, mungkin kami semua berbeda secara dominasi, latar belakang, agama, ras – tetapi kami tetap bersatu.
Mungkin kami seharusnya menjadi lebih individualis – tapi toh individualis bukanlah ciri bangsa ini, bukan?
Kami memilih untuk peduli – namun peduli yang berbeda dan bertanggung jawab.
Kami memilih untuk menjadi bagian yang membuat kampus kita ini – dan lebih spesifiknya jurusan kami (atau mungkin kelas kami diantara satu angkatan ini) – berbeda: karna ada orang-orang yang bedoa, karna ada orang-orang yang mau berkomitmen untuk menjadi baik dan tidak tenggelam dalam arus.
Kami memilih untuk berjuang dengan kesederhanaan, keberanian, dan kepedulian.
Kami ingin orang lain tahu bahwa di Indonesia masih ada anak-anak muda seperti kami: pejuang kebenaran dan integritas masa depan.
Kami memilih untuk menjadi solid dan berbeda demi Indonesia yang lebih baik.

Indonesia hanya perlu menunggu waktu sebentar lagi sebelum kami datang: waktu 3 tahun untuk lulus bukanlah waktu yang lama. Indonesia hanya perlu menanti sebentar saja sebelum pemimpin-pemimpin besarnya bertelur. Indonesia tidak perlu bingung lagi karna kami sebenarnya sudah dicipta untuk mereka. Indonesia tidak usah takut akan demoralisasi karna ada 1 kelompok kecil yang mampu mengubah seluruh negeri. Dan Indonesia bisa bernafas lega karna akhirnya akan ada generasi gila yang mampu mengurusinya dimasa tua. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar