Kamis, 16 April 2015

The Deep Confession



INFJ – satu kata 4 huruf, sebuah kutukan dan berkat.
Gloria – satu nama 6 huruf, sebuah nama yang merupakan doa orangtua gue tapi belom berhasil gue hidupi selama 18 tahun kehidupan fana ini.
Sampe hari ini gue masih ngga tau siapa Gloria yang selalu termakan dengan kepribadian INFJ-nya ini karna setiap kali gue berusaha untuk meredefinisikan dirinya, gue selalu dihadapkan kepada sisi kedagingan gue yang lain – sama kayak soal geografi yang selalu berbeda disetiap paket soal.
Sampe hari ini gue masih ngga bisa ngebela apa yang menurut gue bener – bahkan kadang gue mikir gue sendiri ngga tau apa yang bener. Satu detik pikiran gue bilang A bener, detik lain bilang salah. Entah apa orang lain merasakan hal yang sama, tapi buat gue kali ini the struggle is real.
Sampe hari ini gue masih ngga berani mengatakan pendapat gue walaupun gue berharap gue bisa sepemberani mereka – orang lain yang gue lihat sebagai pemberani itu. Walaupun mungkin apa yang gue katakan itu benar, gue masih ngga berani. Ngga tau, gue ngga bisa berani aja.
Sampe hari ini gue masih selalu lari dari konflik dan bukan menantangnya. Gue masih ngga tahan dengan gesekan; walaupun jika gesekan itu datang dari orang yang tidak gue kenal. Teriakan mereka hanya menusuk hati dan telinga gue; bukan membawa gerakan tubuh ini untuk membela.
Sampe hari ini gue masih terlalu berpikir panjang dalam konotasi negatif – makanya gue ngga banyak kasih pendapat. Gue takut omongan gue jadi bumerang buat diri gue atau hanya kekosongan. Gue terlalu berhati-hati terhadap lawan main gue dan terlalu pemilih sehingga banyak ide yang tidak tersalurkan. I think I might have trust issues – or having to open up to a lot of people.
Sampe hari ini, ketika dihadapkan pada posisi “lakukan yang benar atau bikin mereka seneng”, gue masih sering merasakan kontradiksi dalam hati gue. Semua orang lain disekitar gue selalu mendorong gue untuk menyimpang dari apa yang menurut gue benar. Satu sisi gue pengen bikin mereka seneng, tapi gue tau hati nurani gue berteriak ingin didengarkan juga. Gue tau apa yang benar, tapi gue struggle untuk memperjuangkannya.
Dan terakhir, sampe hari ini gue masih terlalu introverted; masih menyimpan rahasia tergelap gue sendiri tanpa ada satupun yang mengetahui – not even my parents nor my bestfriends.
Gue masih terlalu terluka untuk mengumbar kisah itu.

Gue jago ngasih masukan, tapi gue belom banyak mengalami.
Gue jago ngomong didepan orang, tapi gue tidak menghidupi.
Gue minta mereka untuk tidak jatuh, tapi gue sendiri berteriak dari dalam lubang – terkadang ingin menjerat, terkadang pula ingin mereka terbebas.
Gue jago membaca perasaan orang dan melihat lapisan terluar mereka, namun gue ngga sendiri ngga tau perasaan gue apa.
Gue ngga terbiasa tidak menghiraukan celah gue – gue terlalu sadar kamera.
Gue ngga tau harus tampil sebagai siapa – sebagai sisi “quiet extrovert” atau “introvert bawel” gue.
Gue selalu menyesali perkataan gue – baik atau buruk.
Gue berharap gue “dewasa”, tapi gue sendiri ngga tau apa yang menjadi tolok ukur kedewasaan seseorang kalo mereka bilang usia dan agama tidak menjadi jaminan.
Gue bingung untuk banyak hal didunia ini. Masih terlalu banyak pertanyaan dan perlu banyak pembuktian, sejujurnya. Gue ngga mau nyesel tapi udah nyesel juga.
Selalu berusaha menyeimbangkan ternyata sulit. –red


People look at me don’t see toughness. But how do you define that? –Jeremy Lin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar