INFJ – satu kata 4 huruf, sebuah kutukan dan berkat.
Gloria – satu nama 6 huruf, sebuah nama yang merupakan
doa orangtua gue tapi belom berhasil gue hidupi selama 18 tahun kehidupan fana
ini.
Sampe hari ini gue masih ngga tau siapa Gloria yang
selalu termakan dengan kepribadian INFJ-nya ini karna setiap kali gue berusaha
untuk meredefinisikan dirinya, gue selalu dihadapkan kepada sisi kedagingan gue
yang lain – sama kayak soal geografi yang selalu berbeda disetiap paket soal.
Sampe hari ini gue masih ngga bisa ngebela apa yang
menurut gue bener – bahkan kadang gue mikir gue sendiri ngga tau apa yang
bener. Satu detik pikiran gue bilang A bener, detik lain bilang salah. Entah
apa orang lain merasakan hal yang sama, tapi buat gue kali ini the struggle is
real.
Sampe hari ini gue masih ngga berani mengatakan pendapat
gue walaupun gue berharap gue bisa sepemberani mereka – orang lain yang gue
lihat sebagai pemberani itu. Walaupun mungkin apa yang gue katakan itu benar,
gue masih ngga berani. Ngga tau, gue ngga bisa berani aja.
Sampe hari ini gue masih selalu lari dari konflik dan
bukan menantangnya. Gue masih ngga tahan dengan gesekan; walaupun jika gesekan
itu datang dari orang yang tidak gue kenal. Teriakan mereka hanya menusuk hati
dan telinga gue; bukan membawa gerakan tubuh ini untuk membela.
Sampe hari ini gue masih terlalu berpikir panjang dalam
konotasi negatif – makanya gue ngga banyak kasih pendapat. Gue takut omongan
gue jadi bumerang buat diri gue atau hanya kekosongan. Gue terlalu berhati-hati
terhadap lawan main gue dan terlalu pemilih sehingga banyak ide yang tidak
tersalurkan. I think I might have trust issues – or having to open up to a lot
of people.
Sampe hari ini, ketika dihadapkan pada posisi “lakukan
yang benar atau bikin mereka seneng”, gue masih sering merasakan kontradiksi
dalam hati gue. Semua orang lain disekitar gue selalu mendorong gue untuk
menyimpang dari apa yang menurut gue benar. Satu sisi gue pengen bikin mereka
seneng, tapi gue tau hati nurani gue berteriak ingin didengarkan juga. Gue tau
apa yang benar, tapi gue struggle
untuk memperjuangkannya.
Dan terakhir, sampe hari ini gue masih terlalu
introverted; masih menyimpan rahasia tergelap gue sendiri tanpa ada satupun
yang mengetahui – not even my parents nor my bestfriends.
Gue masih terlalu terluka untuk mengumbar kisah itu.
Gue jago ngasih masukan, tapi gue belom banyak mengalami.
Gue jago ngomong didepan orang, tapi gue tidak
menghidupi.
Gue minta mereka untuk tidak jatuh, tapi gue sendiri
berteriak dari dalam lubang – terkadang ingin menjerat, terkadang pula ingin
mereka terbebas.
Gue jago membaca perasaan orang dan melihat lapisan
terluar mereka, namun gue ngga sendiri ngga tau perasaan gue apa.
Gue ngga terbiasa tidak menghiraukan celah gue – gue terlalu
sadar kamera.
Gue ngga tau harus tampil sebagai siapa – sebagai sisi
“quiet extrovert” atau “introvert bawel” gue.
Gue selalu menyesali perkataan gue – baik atau buruk.
Gue berharap gue “dewasa”, tapi gue sendiri ngga tau apa
yang menjadi tolok ukur kedewasaan seseorang kalo mereka bilang usia dan agama
tidak menjadi jaminan.
Gue bingung untuk banyak hal didunia ini. Masih terlalu
banyak pertanyaan dan perlu banyak pembuktian, sejujurnya. Gue ngga mau nyesel
tapi udah nyesel juga.
Selalu berusaha menyeimbangkan ternyata sulit. –red
People look at me don’t see
toughness. But how do you define that? –Jeremy Lin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar