“Gue pengen dicintai dan mencintai dengan tulus,” kata
dia.
‘BULLSHIT.’ Teriak gue dalam hati.
Namun tentu saja, mulut gue tidak memberikan respons
apapun – sesuatu yang biasanya diasumsikan sebagai tanda setuju bagi lawan
bicara kita.
Tentu, gue juga ingin mencintai dan dicintai dengan
tulus. Namun jika dibandingkan dengan dunia yang perlahan mati ini, gue semakin
ragu dengan keinginan gue.
Dunia ini terlalu fana untuk hanya sekedar mencinta
walaupun cinta memberikan perjuangan sebuah arti.
Dunia ini terlalu heboh dengan kisah cinta seseorang –
tulus dan tidak, bertahan dan tidak – sehingga kita yang tak mengikuti berita
seakan merupakan mahluk aneh bahkan diantara para manusia itu sendiri.
Dunia ini sudah terlalu lelah untuk melihat lagi darah
yang tercurah karena cinta yang kandas ditengah jalan – pengorbanan sia-sia
sebuah restu yang diturunkan langit bagi mereka.
Bagaimana kita mau mencintai dengan tulus, kalau kita
pernah disakiti;
Bagaimana kita mau dicintai dengan tulus, kalau kita
tidak pernah memberi;
Bagaimana kita mau mencintai, kalau yang menjadi patokan
adalah kisah yang sudah berlalu;
Dan bagaimana kita hendak dicintai, jikalau hati ini sudah
tak sesempurna dahulu.
Katanya, “Gue sudah move on. Gue sudah tahu rasanya. Gue
ngga akan ngelakuin hal seperti itu lagi. Gue sudah lebih dewasa”.
‘BULLSHIT,’ teriak hati gue lagi.
Perkataan hanyalah sebuah ruang kosong jika kita tidak dibuktikan.
Dan kita ini – jika bukan sebuah kelinci percobaan, adalah sebuah eksperimen
gagal lainnya yang akan menarik pelatuk pada sakit hati lainnya.
“Aku ingin kembali memiliki hati sesempurna itu”, kata
setiap orang.
Ah, bullshit.
Kita semua tahu dahulu ketika hati ini masih tulus dan
belum tersakiti, kita malah ingin mencoba dan mengetahui rasanya jatuh
berkeping. Namun sekarang ketika hati ini sudah hancur, kita berharap ia
kembali tak ternoda.
Dan yah, begitulah. Itulah yang seringkali membuat kita
susah: semakin kenal maka semakin sayang.
Semakin kenal maka semakin peduli – semakin ngerasa dia
adalah elemen yang paling penting buat hidup kita; padahal sih kenyataannya
engga juga. Seminggu, sebulan, setahun yang lalu kita bisa tuh menjalani hidup
tanpa mereka.
Semakin kenal semakin ngga tega nyakitin – semakin baper plus
kebanyakan mikir dan malah akhirnya ngga jadi ngapa-ngapain juga.
Semakin banyak tau semakin ngerasa simpatik dan ngga mau
menegur dan memperbaiki. Semakin takut kalo mau ngomong apa-apa; takut
kehilangan dia karna kita takut dia tersakiti dan ngga memaafkan. Padahal,
cinta akan selalu mengampuni kesalahan apapun konsekuensinya.
Semakin kenal semakin nyaman dan lupa gimana rasanya
untuk ngga merasa tersakiti hanya dengan omongan sederhana yang sebenernya
bercanda.
Semakin kenal semakin ngga menghargai apa yang sudah ada
didepan mata.
...
Namun itulah realitanya, sobat. Dunia ini sudah lelah
sebagaimana kita juga sebenarnya lelah. Bagai pungguk merindukan bulan, kata
pepatah. Namun demi cinta, kita akan terus berharap.
Kata mereka, demi cinta kita akan berusaha memperjuangkan
sesuatu yang kita rasakan – entah perasaan itu benar atau salah.
Kata mereka, demi cinta kita akan memaafkan.
Semoga saja, demi cinta mereka dapat bersanding suatu
hari nanti. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar