Kamis, 16 April 2015

Mencintai dan Dicintai



“Gue pengen dicintai dan mencintai dengan tulus,” kata dia.
‘BULLSHIT.’ Teriak gue dalam hati.
Namun tentu saja, mulut gue tidak memberikan respons apapun – sesuatu yang biasanya diasumsikan sebagai tanda setuju bagi lawan bicara kita.
Tentu, gue juga ingin mencintai dan dicintai dengan tulus. Namun jika dibandingkan dengan dunia yang perlahan mati ini, gue semakin ragu dengan keinginan gue.
Dunia ini terlalu fana untuk hanya sekedar mencinta walaupun cinta memberikan perjuangan sebuah arti.
Dunia ini terlalu heboh dengan kisah cinta seseorang – tulus dan tidak, bertahan dan tidak – sehingga kita yang tak mengikuti berita seakan merupakan mahluk aneh bahkan diantara para manusia itu sendiri.
Dunia ini sudah terlalu lelah untuk melihat lagi darah yang tercurah karena cinta yang kandas ditengah jalan – pengorbanan sia-sia sebuah restu yang diturunkan langit bagi mereka.
Bagaimana kita mau mencintai dengan tulus, kalau kita pernah disakiti;
Bagaimana kita mau dicintai dengan tulus, kalau kita tidak pernah memberi;
Bagaimana kita mau mencintai, kalau yang menjadi patokan adalah kisah yang sudah berlalu;
Dan bagaimana kita hendak dicintai, jikalau hati ini sudah tak sesempurna dahulu.
Katanya, “Gue sudah move on. Gue sudah tahu rasanya. Gue ngga akan ngelakuin hal seperti itu lagi. Gue sudah lebih dewasa”.
‘BULLSHIT,’ teriak hati gue lagi.
Perkataan hanyalah sebuah ruang kosong jika kita tidak dibuktikan. Dan kita ini – jika bukan sebuah kelinci percobaan, adalah sebuah eksperimen gagal lainnya yang akan menarik pelatuk pada sakit hati lainnya.
“Aku ingin kembali memiliki hati sesempurna itu”, kata setiap orang.
Ah, bullshit.
Kita semua tahu dahulu ketika hati ini masih tulus dan belum tersakiti, kita malah ingin mencoba dan mengetahui rasanya jatuh berkeping. Namun sekarang ketika hati ini sudah hancur, kita berharap ia kembali tak ternoda.
Dan yah, begitulah. Itulah yang seringkali membuat kita susah: semakin kenal maka semakin sayang.
Semakin kenal maka semakin peduli – semakin ngerasa dia adalah elemen yang paling penting buat hidup kita; padahal sih kenyataannya engga juga. Seminggu, sebulan, setahun yang lalu kita bisa tuh menjalani hidup tanpa mereka.
Semakin kenal semakin ngga tega nyakitin – semakin baper plus kebanyakan mikir dan malah akhirnya ngga jadi ngapa-ngapain juga.
Semakin banyak tau semakin ngerasa simpatik dan ngga mau menegur dan memperbaiki. Semakin takut kalo mau ngomong apa-apa; takut kehilangan dia karna kita takut dia tersakiti dan ngga memaafkan. Padahal, cinta akan selalu mengampuni kesalahan apapun konsekuensinya.
Semakin kenal semakin nyaman dan lupa gimana rasanya untuk ngga merasa tersakiti hanya dengan omongan sederhana yang sebenernya bercanda.
Semakin kenal semakin ngga menghargai apa yang sudah ada didepan mata.
...
Namun itulah realitanya, sobat. Dunia ini sudah lelah sebagaimana kita juga sebenarnya lelah. Bagai pungguk merindukan bulan, kata pepatah. Namun demi cinta, kita akan terus berharap.
Kata mereka, demi cinta kita akan berusaha memperjuangkan sesuatu yang kita rasakan – entah perasaan itu benar atau salah.
Kata mereka, demi cinta kita akan memaafkan.
Semoga saja, demi cinta mereka dapat bersanding suatu hari nanti. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar