Jumat, 24 April 2015

Cinta Segi Ketek



Reminiscing of what it was, 2 years ago
            Apa sih Cinta Segi Ketek? Memang ada yang namanya cinta segi ketek? Kalau ada, apakah cinta segi ketek itu nyata? Apa bukti keberadaannya di dunia ini?
Namaku Selin, tapi teman-temanku yang jomblo lebih mengenalku sebagai Joselin Mariska, SJJ. Istilah SJJ adalah istilah baru saat seseorang lulus S4 dari jurusan Jomblo, sehingga SJJ adalah singkatan dari Sarjana Jomblo (iya, menyedihkan sekali memang). Ini adalah Cinta Segi Ketek, sebuah anomali baru dibawah naungan teori besar cinta segitiga. Semua ini berawal dari obrolan penuh pasrah antara diriku dengan sahabat jombloku Vicky Adelin mengenai cinta segitiga.Vicky sendiri juga sudah memiliki gelar jomblo, tetapi jomblo tingkat akut alias Vicky Adelin, MeMar. MeMar adalah singkatan dari orang-orang yang berhasil lulus dari jurusan Magister perMartabakan. Karena Vicky terlalu jomblo, maka martbak menjadi pacarnya. Sore tiga tahun lalu itu didepan twitter, aku dan Vicky sedang membicarakan tentang sesuatu dan menyinggung soal gebetan dan ketek.
“Emang ada ya cinta segi ketek, Sel?” tanya Vicky dengan antusias.
“Ya ada, orang barusan gue sebutin kok.” Jawabku PeDe.
“Kalo misalnya cinta segi ketek itu beneran ada, kita-kira dia kayak apa ya?”
“Hah? Dia apaan? Ketek? Kan keteknya benda mati.”
“Ya, siapa tau ketek itu sebenernya bukan cuman benda mati yang berfungsi ketika kita hidup doang. Gimana kalo ketek itu sebenernya seseorang, yang kalo kehadirannya nyata didekat kita akan sangat membuat kita menjadi diri kita apa adanya....”
Ketek; sebuah elemen tubuh yang tidak pernah asing bagi manusia karena semua manusia pernah –atau setidaknya masih memiliki ketek serta sari-sarinya. Aku sendiri tidak pernah mengerti esensi ketek sejak hari dimana aku mengambil keputusan untuk duduk dibangku kelas ketek-mengketek. Tetapi entah mengapa, hanya ada satu pertanyaan yang selalu melekat dipikiran ini mengenai cinta segi ketek: ada cerita apa yang tidak pernah kita ketahui tentang ketek. Kalimat Vicky masih menempel di keningku bahwa “ketek” mungkin saja bukan hanya sebuah benda mati. Ia bisa saja seorang manusia yang ternyata keberadaannya sangat dekat denganku.
Saat akhirnya aku sedang jalan keesokan harinya di sebuah pusat perbelanjaan bersama ibuku, tiba-tiba kita bertemu begitu saja. Dia, dia yang ternyata adalah anak teman ibuku. Entah apakah takdir memang nyata, tetapi begitu pertama kali kita bertemu aku sudah tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda dengannya. Tak berapa lama setelah kedua ibu kami berbincang, ia mengulurkan tangannya untuk berkenelan. Aku gugup, tapi cukup untuk tidak membuat malu diriku sendiri. Jika cinta begitu kuat, kemudian pertanyaanku adalah apa hubungan perkenalan ini dengan ketek? Aku masih belum sepenuhnya mengerti. Obrolan pertama kami hari itu tidak jauh dari suatu topik yang sangat mendunia saat ini dan perbincangan tersebut kian menarik karakter setiap pribadi untuk keluar.
Entah bagaimana, pertemuan pertama itu rasanya seperti sudah begitu lama mengenal satu sama lain. Kami bertukar nomor telpon dan berjanji untuk saling menghubungi secepatnya. Ternyata ia adalah sosok yang sangat empuk dan menarik untuk diajak bertukar pikiran.
Hari-hari berlalu, tak terasa sudah setahun lebih kami berdua menjalani semuanya. Kami berdua sudah seperti macan dan daging makanannya, tidak bisa dipisahkan. Bahkan Vikcy sampai berkata bahwa tidak ada seorangpun yang pernah mampu mengambil alih perhatianku sebesar Ketek. Terlalu banyak yang bisa aku ceritakan tentang Ketek kalau kalian mau. Sosok tampan nan serius miliknya membuatku betah duduk berjam-jam hanya untuk memperhatikannya menggambar tampilan sebuah rumah yang sedang dirancangnya atau dengan peralatannya untuk membuat sebuah mesin dibengkel tua sebelah rumahnya. Sebenarnya Ketek adalah seorang mahasiswa teknik lulusan Jerman yang bekerja disebuah perusahaan swasta asing. Untuk saat ini, ia sedang ditugaskan di Indonesia dengan waktu yang fleksibel untuk menemukan jalan keluar terhadap sebuah desain mesin. Disela-sela waktu padatnya dengan tang dan bor, Ketek masih sering menyempatkan waktu untuk keluar berdua denganku sekedar untuk menghirup secangkir kopi panas. Dalam waktu-waktu itu, aku sering menulis sambil sesekali memperhatikannya menggambar.
            Sampai satu hari setelah 2,5 tahun hubungan itu, perbincangan kami memanas dan mencapai titik dimana kami terlalu lelah untuk terus memperjuangkan. Itulah pertama kalinya aku menangis terisak didepannya. Siang itu, kami berdua sedang makan siang disebuah restoran di Jakarta. Aku sama sekali tidak menyangka dia akan memulai lagi semuanya. Ketek sebentar lagi akan kembali ke Jerman. Dia hendak melanjutkan kuliahnya sembari bekerja dengan hasil yang sangat menjamin dengan satu kondisi: pekerjaannya yang baru tersebut menuntut kontrak untuk tidak kembali ke tanah air selama 10 tahun. Siapa yang tidak tergiur dengan gaji yang besar dalam pekerjaannya yang bisa dilakukan separuh waktu sembari menuntut ilmu? Aku sama sekali mendukung Ketek dalam hal ini; tapi bukan dengan “tidak bertemu selama 10 tahun” itu. Sebenarnya aku tidak terlalu masalah dengan LDR; malah aku tidak keberatan sama sekali. Tapi cara dia mengajukan ide LDR itu tidak pernah sesuai dengan harapanku yang tersirat dalam nada bicaranya. Maksudku, ayolah, kita sudah saling mengenal cukup lama bukan? Mengapa dia masih tidak bisa membaca cara bicara yang aku suka dan yang aku tidak suka?
Satu hal yang aku sadari adalah bahwa kita memang sudah menjalani semua ini semakin lama semakin tidak ada kata sepakat; terutama beberapa minggu terakhir. Sifat keras kepalanya yang dahulu dia pakai untuk menjagaku dari ancaman luar malah dipakainya untuk menghancurkan kita. Kita sudah bukan seperti ketek yang menyambung lagi: tetapi pantat dengan pantat beradu. Pantat tidak pernah saling melihat – hanya saling membelakangi kita. Dia bukan lagi Ketek yang kukenal.


Dua malam sebelum kita putus itu, aku sempat berbicara dengan Vicky mengenai sebuah teori yang aku temukan. Entah, apakah teori ini akan bisa sejalan dengan realitanya. Teori itu kuberi nama “Prinsip Ketek” yang berkata: “walaupun selalu dijepit, dia tetap bertahan dan terus bertumbuh”. Iya, itu ketek kita dalam arti yang sebenarnya. Tetapi kalau ‘Ketek’ yang ini? Vicky berhutang padaku karena berhasil membuatku nyaris percaya pada eksistensi Cinta Segi Ketek yang ia sebut-sebut. Kini, hari libur yang biasanya aku habiskan bersamanya dikafe untuk sekedar nongkrong dan melakukan hal yang kita masing-masing suka harus aku jalani sendirian lagi; sama persis seperti saat aku belum mengenalnya.
Namun inilah dunia kita, dunia dimana fakta yang diharapkan terjadi seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan; malah sangat jauh dari cerita “bahagia selama-lamanya” yang selalu kita temukan pada akhir dongeng sebelum tidur waktu kecil dulu. Rupanya cerita-cerita tersebut hanyalah sebuah buaian untuk anak-anak yang berangsur tidak berguna untuk orang dewasa. Bagaimana jika sebenarnya Snow White tidak sebaik dan sesempurna yang diceritakan? Bagaimana jika yang sebenarnya terjadi adalah bahwa Cinderella-lah sosok yang jahat dan bukan ibu tirinya? Bagaimana jika si buruk rupa masih bertabiat buruk setelah menikah dengan Belle? Bagaimana jika lonceng tidak pernah berdentang 12 kali? Ketika aku kecil, aku tidak tahu bahwa cinta akan menjadi membingungkan dan menyedihkan seperti ini. Bagiku dulu, ketika aku mencintai dia dan dia mencintaiku kembali maka kita akan seperti putri-putri dalam dongeng itu: hidup bahagia selama-lamanya. Yang tidak aku sadari adalah zaman sudah sepenuhnya berevolusi sejak hari itu.
Lima tahun kemudian, ditemani hujan deras yang kaku dan dingin di luar jendela, aku masih termenung disebuah kafe dengan minuman hangat sembari menulis sebuah buku tulis kosong dihadapanku. Keramaian kafe itu entah mengapa membuatku merasa kesepian dalam kekosongan absolut. Apa yang aku rasakan seperti tidak nyata - selama ini terasa lengkap bersamanya. Satu jam.. Dua jam.. Setengah hari. Aku merenung; mencoba mencari jawaban keluar sementara halaman demi halaman buku kosong itu terisi dengan rajutan kata-kata indah yang melukiskan perjalanan kisah kita. Aku semakin mengerti mengapa orang banyak masih tidak percaya bahwa cinta ketek itu nyata. Cinta segi ketek adalah sebuah cinta yang tidak mungkin dinyatakan keberadaannya dengan bukti apapun yang dapat dibuktikan manusia – sama halnya dengan teori-teori lain yang tidak pernah dikonfirmasi dunia kita.
Aku beruntung, dia bukan ketekku yang sungguhan atau suatu elemen yang membentuk siku-siku ketek ini. Kalau dia adalah ketentuan yang memenuhi persyaratan ketek, maka aku tidak akan bisa membayangkan sebesar apa bagian kehilangan yang ditimbulkan dirinya pada bagian ketekku. Aku tidak dapat berpikir mengenai apapun yang lebih buruk daripada kehilangan cinta kepada orang yang selama ini telah menjadi seperti bagian dari diriku. Aku telah kehilangan keinginan untuk mencari arti cinta yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar