Namanya Kennedy, temen baru gue dari Sunter yang kemaren pergi bareng ke Australia. Nope, dia bukan pacar baru gue. Dan nope, dia bukan gebetan gue juga. He... mungkin bisa dibilang, just another ordinary face in the crowd. Tapi entah kenapa, manusia setengah setan tengil ini begitu menarik perhatian gue since the start.
Cerita persahabatan semacem ini selalu dimulai dengan perkenalan. Perkenalan bodoh gue sama si Kennedy ini dimulai dari pesawat, begitu kita sampe di Melbourne 2 minggu lalu. Dari gue cuman sekedar ikut-ikutan ngocol sama anak Sunter jadi ngobrol secara intense sama semua murid Sunter yang ikut --termasuk Kennedy. First impression: INI ANAK KOK ASIK. Gue harus kenalan. Sencond impression: INI ANAK MALU-MALUIN. But oh well, kita kenalan juga dan ternyata nyambung. Nyambung banget, malah.
Makin kesini gue makin deket sama dia, dan karena 2 udah minggu ngga nulis essay, rasanya gue bisa mati beku nulis beginian doang. Anyway, cowok setengah setan ini juga toh males baca yang panjang-panjang (jadi bakal gue bikin pendek aja, gitu). OKE LANJUT.
Kemaren, di kesempatan gue seharian sama dia penuh di dalem pesawat gue habiskan dengan duduk disebelah dia. Buat gue, kehadiran dia disisi gue aja udah melebihi cukup untuk ngatasin penyakit kangen gila yang bakal gue hadepin setelah pisah secara official sama dia. Tapi nasib ga bisa ditolak, gue masih kangen sama dia sekarang. Hal yang gue lupa dari peraturan soal 'kangen-mengkangen' adalah bahwa rasa kangen itu kekal, macem ga bakal bisa diilagin kecuali ketemuan --macem jadi kayak ekstasi yang adiktif, harus ngambil terus biar rasa pengennya sedikit hilang. Dan masalahnya yang lebih besar adalah itu: semakin kita pikir kita udah ngambil cukup maka makin besarlah keinginan kita untuk mau lagi dan lagi; tanpa mikirin bahwa sebenernya kita udah kenyang.
Gini deh. Gue harap ini adalah penjelasan yang logis atas perasaan gue. Gue kangen sama dia bukan karena dia sok ganteng ato karena dia jualan bakso (I know only he knows this slang), tapi karena dia adalah orang yang membuat gue bisa senyum lebih lama dan ketawa lebih lebar. He's the only one that can do what he does. Dia satu dari sedunia. Gue ngga suka fisik, tapi ada sebuah charm didalam dia yang begitu memesona, sehingga mau ngga ngobrol aja tuh rasanya jahat bener.
Prinsip hidup dia, pola pikir dia, cara dia hadapin masalah menginspirasi gue. Dan ga biasanya gue bakal bikin janji yang gue gatau bisa gue tepatin apa ga -- kecuali janji yang gue barusan gue janjiin ke dia sendiri; bahwa gue akan selalu mengingat dia. Gue ngga akan pernah bisa lupain dia --karena ngelupain dia sama dengan melupakan bagian terbaik dari perjalanan ke Australia. Karena dia adalah orang yang berarti di hidup gue, ngga sekedar cuman "aktor" yang numpang lewat diatas panggung.
Namanya akan selalu ada di hati gue,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar