Sabtu, 09 November 2013

Friendship

-->
Above all things that I could’ve written about tonight, entah kenapa I chose this topic to write on. Seriously, gue aja nggak tau kenapa because it just clicks and happens like that.
So, pertama-tama, what is “Friendship”? Kalo menurut wikipedia sih ini:

“Friendship is a relationship of mutual affection between two or more people. Friendship is a stronger form of interpersonal bond than an association. A World Happiness Database study found that people with close friendships are happier.
Although there are many forms of friendship, some of which may vary from place to place, certain characteristics are present in many types of friendship. Such characteristics include affection, sympathy, empathy, honesty, alturism, mutual understanding and compassion, enjoyment of each other’s company, trust, and the ability to be oneself, express one’s feelings, and make mistakes without fear of judgement from the friend.
While there is no practical limit on what types of people can form a friendship, friends tend to share common backgrounds, occupations or interests, and have similar demographics.”

Tapi karena wikipedia sendiri adalah buatan manusia dimana banyak orang menuangkan idealisme persahabatan mereka masing-masing, orang-orang disekeliling gue juga boleh dong punya perspektif mereka sendiri mengenai persahabatan?
Salah satu temen gue yang gue kebetulan tanyain bilang bahwa persahabatan berarti bisa menjadi diri kita sendiri – nunjukkin seberapa ‘gila’nya kita, rasa sayang kita, peduli, dan masih banyak lagi. Rings a bell? Exactly. Dia juga bilang, bahwa kita bisa jadi tempat curhat mereka dan bantuin mereka kalo ada masalah. Masalahnya, apa kita bisa ngelakuin semua itu tanpa pamrih?
Temen gue yang idealis beneran malah ngejawab bahwa persahabatan yang baik adalah persahabatan yang ketika kita ngebutuhin seseorang dan dia ada buat kita dan kita ada buat dia dan orang itu bawa kita ke arah yang lebih positif (TUH KAN, IDEAL BANGET!)
And then suddenly, everything hits me again: semua orang memimpikan sebuah persahabatan yang ideal, betul? Gue rasa ide “persahabatan” itu sendiri udah bukan cuman sebuah stereotyping lagi –malah memburuk- menjadi sesuatu yang semua orang coba raih dalam kehidupan duniawi mereka. Everybody (and that includes me) is trying so hard to make up what their perfect friendship would be until they did not realize that the relation-friend-ship that they are having now MAY BE the best friendship they could’ve ask for in their entire life.
Pertanyaan gue adalah: gimana jadinya kalo semua orang udah terlalu sibuk membayangkan persahabatan yang sempurnanya masing-masing sampe ngga ada lagi yang perduli untuk mengambil langkah pertama dan mewujudkan cita-cita tersebut?

Friendship itu adalah sesuatu yang emang gila. Dan emang bener – kita bisa beneran gila tanpa kehadiran orang lain disisi kita. Dari semua manusia jomblo yang ngaku hina, orang tanpa sahabat adalah orang yang lebih hina daripada jomblo. Hinanya itu macem jomblo akut ngenes kuadrat pangkat -10 dikali 10.000 malem minggu sendirian (oke sebenernya gue ngga tau lagi ngomongin apa terus kenapa tiba-tiba muncul istilah matematika yang menyesatkan seperti ini. YAUDAH MOVEON AJA KENAPA SIH). Artinya mereka beneran bisa mati gara-gara ngga punya temen. Silahkan coba sendiri kalo berani. Ga ada yang bisa gantiin sahabat, ga akan pernah ada.
Kalo gue disuruh milih mati muda ato mati ga punya temen, gue akan lebih milih mati ngga punya temen. Haha, lucu ya? Tapi maksud gue gini: kalo gue mati muda tapi punya temen-temen yang ga
But now, after all those things, if you ask me what friendship means,  I would rather say in my own words, that it is the arrival of a new life journey – because different people leave different life journey for us to take and learn. However they are or whoever they shall be depends on how you live the moment and keep it rolling on.
If they ask me about what would I do without friendship, I’d say I’d die of being forever alone. Because no friendship means no sharing whatever you love with the world. -red
           

"Each friend represents a world in us, a world possibly not born until they arrive, and it is only by this meeting that a new world is born." –Anais Nin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar