Gimana rasanya kalo lu gak bisa manggil orangtua lu dengan sebutan “PAPA” dan “MAMA” lagi? Atau simpelnya, gimana deh perasaan lu ketika lu tau bahwa lu ngga pernah
diinginkan dari awal? Gimana rasanya, kalo kasih sayang yang lu terima itu bukan kasih sayang yang orang lain
dapetin, yang SEHARUSNYA lu dapetin juga? Gimana kalo faktanya adalah lu nggak akan pernah ngerasain kasih sayang itu selama-lamanya?
Air langit membasahi bumi pertiwi
Indonesia sementara kelas IPS TBCS Gading Serpong termakan dalam kesunyian saat 16
orang lainnya tidak berada didalam kelas siang itu. Pelajaran musik yang hanya bergiliran latihan untuk ujian praktek menyisakan waktu yang cukup banyak untuk gue menyendiri;
menulis lagi. Indra pembau gue terbawa jauh kembali ke Australia, dimana hari itu hujan dan dingin; – namun gue ga pernah sempat bermain dengan airnya. Hujan mereka tak melimpah seperti kita dan baunya tak seperti bau rumah.
Sembari berdiri didepan toilet lantai 5 gue memandang jauh kedepan; mencoba melihat dan membayangkan Australia lagi. Adik gue ada disana; adik yang berbeda ibu tapi gue anggap sebagai adik gue sendiri. Bau hujan bercampur tanah basah memenuhi indra penciuman gue, membawa tetes-tetes air naik untuk
diteteskan dari konjungtiva gue.
Gue selalu cerita sama orang mengenai adik gue ini – gimana dia ngga akan
pernah bisa manggil papa dan mamanya yang sekarang dengan sebutan yang patut
mereka sebut lagi. Gue selalu bilang sama orang untuk belajar bersyukur untuk
orangtua mereka – karena gue belajar sendiri dari adik gue bahwa mereka udah
ngga akan pernah bisa lagi merasakan apa yang kita rasakan. Walaupun mungkin
keluarga kita sudah tidak lengkap, setidaknya kita pernah merasakan kasih
sayang orangtua kita yang sebenarnya. Sementara mereka? Mungkin mereka tidak
pernah mengetahui kenapa mereka bisa berakhir di rumah ini.
Gue ngga pernah kebayang gimana kalo itu adalah gue yang ada diposisi
mereka –harus ngiri sama orang lain karena dapet kasih sayang yang utuh dari
orangtua kandung mereka ditambah rasa pedih akibat harus memaksakan diri untuk
melupakan orang-orang yang seharusnya ingin ada dihidup mereka. Segalaya
semakin berat ketika mereka masih harus mengejar zaman dan melanjutkan sekolah.
Nama mereka adalah Trent, Tanesha, dan Jensae –tiga adik baru yang gue
dapatkan di rumah sementara gue di Australia. Adik kesayangan gue adalah
Jensae, bocah imut kelas 5 SD yang bersekolah di HCC, sekolah yang menjadi
sekolah gue selama 2 minggu. Trent, Tanesha, dan Jensae datang dari keluarga
yang sebenarnya sama. Fakta ini membuat gue mempertanyakan apa tujuan orangtua
mereka mendapatkan mereka lalu menyia-nyiakannya begitu saja dikehidupan orang
lain. Egois.
Jensae selalu terlihat tersenyum atau paling tidak mencoba terlihat bahagia
didepan gue – dia selalu menjadi alasan gue untuk bertahan 2 minggu di
Australia. Faktanya, kehidupan sehari-hari Jensae tak semenyengangkan
senyumannya atau tawa candanya itu ketika ia berada disamping gue. Entah untuk
keberapa kalinya dan seakan tak pernah bosan aku mendengar ibu tirinya memarahi
dirinya atas hal sepele yang seharusnya bisa saja diperingatkan kepadanya – tak
perlu sampai menarik urat. Setiap kali teriakan “JENSAAEEEE!” mulai terdengar
dirumah, detik itu pula gue mulai mencoba tutup kuping -walau sebenarnya tak
sanggup- supaya tak perlu merasa ingin ikut campur dan membela dirinya. Namun
tetap saja, perasaan sedih dan ingin membela itu muncul.
Makanya, sejak 3 hari pertama kehadiran kita dirumah dan gue sudah mulai
memberanikan diri untuk memeluk adik-adik dan kakak gue, gue selalu memastikan
bahwa Jensae ada diurutan pertama pelukan gue. Kedua kakaknya yang sudah lebih
besar gue yakin sudah mulai mengerti alasan mereka diperlakukan seperti ini.
Namun untuk bocah umur 10 tahun, apa semua ini masuk akal?
Dihari-hari yang gue temukan diri gue ada dirumah, gue selalu memeluk
Jensae minimal 2x sehari: sekali setelah makan pagi, sekali sepulang sekolah. Gue
selalu ingin melihat dia tersenyum; at
least agar dia mengetahui bahwa ada yang sayang sama dia. Dan ketika gue
lagi ngga bisa ada dirumah sama dia, it
just kills me inside on how much I want to be with him and hug him. I know I
can do nothing and that just felt horrible.
Seminggu pasca kepulangan gue dari Australia, gue ngga pernah lepas kangen
meluk Jensae. Gue selalu galau dan pengen nangis ketika namanya dan posturnya
terlintas dipusat pengontrol tubuh gue. Walaupun dia sudah kelas 5 SD, terselip
keinginan gue untuk dia selalu tetap pada ukuran itu – tidak ingin dia menjadi
dewasa. Jensae yang lucu, manis, friendly,
gentle, dan selalu mudah diajak selfie menjadi alasan kenapa gue menginginkan
semuanya yang gue sebutkan. Dia terlalu menyenangkan untuk bertumbuh dewasa dan
menjalani hidupnya sendiri.
“galauu
woy, in no time kita bakal ada di posisi dia lagi kan -_-“
“Iyaaa,
sekarang gue baru berasa cepet banget waktu itu...”
“bangetbangetbanget
glo. Gue ngga nyangka makin cepet aja weh. Bentar lagi udah mau semester 2
gaakan berasa kita udah graduation. Sad to ear that tapi trust me, it’s true.
Sedihnya lagi, THERE’S NOTHING TO DO TO SLOW IT DOWN”
Gue mungkin ngga pernah janjiin
Jensae untuk menjadi pribadi yang kuat untuk dia secara langsung, tapi ketika
temen gue ngomong ini, gue semakin sadar gue ngga akan pernah memiliki waktu
lagi untuk melihat Jensae yang sekarang, yang masih kelas 5 SD. Dan mungkin,
waktu sudah melompat terlalu jauh ketika gue bertemu lagi dengannya suatu hari
nanti. Dan hari ini, gue melanggar janji gue sendiri dengan menangis terisak karena
penyesalan... -red
“Becasue having a family that choose to not care hurts.” –GloriaErnita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar