Sabtu, 09 November 2013

W h a t H U R T S


Gimana rasanya kalo lu gak bisa manggil orangtua lu dengan sebutan “PAPA” dan “MAMA” lagi? Atau simpelnya, gimana deh perasaan lu ketika lu tau bahwa lu ngga pernah diinginkan dari awal? Gimana rasanya, kalo kasih sayang yang lu terima itu bukan kasih sayang yang orang lain dapetin, yang SEHARUSNYA lu dapetin juga? Gimana kalo faktanya adalah lu nggak akan pernah ngerasain kasih sayang itu selama-lamanya?
Air langit membasahi bumi pertiwi Indonesia sementara kelas IPS TBCS Gading Serpong termakan dalam kesunyian saat 16 orang lainnya tidak berada didalam kelas siang itu. Pelajaran musik yang hanya bergiliran latihan untuk ujian praktek menyisakan waktu yang cukup banyak untuk gue menyendiri; menulis  lagi. Indra pembau gue terbawa jauh kembali ke Australia, dimana hari itu hujan dan dingin; – namun gue ga pernah sempat bermain dengan airnya. Hujan mereka tak melimpah seperti kita dan baunya tak seperti bau rumah.
Sembari berdiri didepan toilet lantai 5 gue memandang jauh kedepan; mencoba melihat dan membayangkan Australia lagi. Adik gue ada disana; adik yang berbeda ibu tapi gue anggap sebagai adik gue sendiri. Bau hujan bercampur tanah basah memenuhi indra penciuman gue, membawa tetes-tetes air naik untuk diteteskan dari konjungtiva gue.
Gue selalu cerita sama orang mengenai adik gue ini – gimana dia ngga akan pernah bisa manggil papa dan mamanya yang sekarang dengan sebutan yang patut mereka sebut lagi. Gue selalu bilang sama orang untuk belajar bersyukur untuk orangtua mereka – karena gue belajar sendiri dari adik gue bahwa mereka udah ngga akan pernah bisa lagi merasakan apa yang kita rasakan. Walaupun mungkin keluarga kita sudah tidak lengkap, setidaknya kita pernah merasakan kasih sayang orangtua kita yang sebenarnya. Sementara mereka? Mungkin mereka tidak pernah mengetahui kenapa mereka bisa berakhir di rumah ini.
Gue ngga pernah kebayang gimana kalo itu adalah gue yang ada diposisi mereka –harus ngiri sama orang lain karena dapet kasih sayang yang utuh dari orangtua kandung mereka ditambah rasa pedih akibat harus memaksakan diri untuk melupakan orang-orang yang seharusnya ingin ada dihidup mereka. Segalaya semakin berat ketika mereka masih harus mengejar zaman dan melanjutkan sekolah.
Nama mereka adalah Trent, Tanesha, dan Jensae –tiga adik baru yang gue dapatkan di rumah sementara gue di Australia. Adik kesayangan gue adalah Jensae, bocah imut kelas 5 SD yang bersekolah di HCC, sekolah yang menjadi sekolah gue selama 2 minggu. Trent, Tanesha, dan Jensae datang dari keluarga yang sebenarnya sama. Fakta ini membuat gue mempertanyakan apa tujuan orangtua mereka mendapatkan mereka lalu menyia-nyiakannya begitu saja dikehidupan orang lain. Egois.
Jensae selalu terlihat tersenyum atau paling tidak mencoba terlihat bahagia didepan gue – dia selalu menjadi alasan gue untuk bertahan 2 minggu di Australia. Faktanya, kehidupan sehari-hari Jensae tak semenyengangkan senyumannya atau tawa candanya itu ketika ia berada disamping gue. Entah untuk keberapa kalinya dan seakan tak pernah bosan aku mendengar ibu tirinya memarahi dirinya atas hal sepele yang seharusnya bisa saja diperingatkan kepadanya – tak perlu sampai menarik urat. Setiap kali teriakan “JENSAAEEEE!” mulai terdengar dirumah, detik itu pula gue mulai mencoba tutup kuping -walau sebenarnya tak sanggup- supaya tak perlu merasa ingin ikut campur dan membela dirinya. Namun tetap saja, perasaan sedih dan ingin membela itu muncul.
Makanya, sejak 3 hari pertama kehadiran kita dirumah dan gue sudah mulai memberanikan diri untuk memeluk adik-adik dan kakak gue, gue selalu memastikan bahwa Jensae ada diurutan pertama pelukan gue. Kedua kakaknya yang sudah lebih besar gue yakin sudah mulai mengerti alasan mereka diperlakukan seperti ini. Namun untuk bocah umur 10 tahun, apa semua ini masuk akal?
Dihari-hari yang gue temukan diri gue ada dirumah, gue selalu memeluk Jensae minimal 2x sehari: sekali setelah makan pagi, sekali sepulang sekolah. Gue selalu ingin melihat dia tersenyum; at least agar dia mengetahui bahwa ada yang sayang sama dia. Dan ketika gue lagi ngga bisa ada dirumah sama dia, it just kills me inside on how much I want to be with him and hug him. I know I can do nothing and that just felt horrible.
Seminggu pasca kepulangan gue dari Australia, gue ngga pernah lepas kangen meluk Jensae. Gue selalu galau dan pengen nangis ketika namanya dan posturnya terlintas dipusat pengontrol tubuh gue. Walaupun dia sudah kelas 5 SD, terselip keinginan gue untuk dia selalu tetap pada ukuran itu – tidak ingin dia menjadi dewasa. Jensae yang lucu, manis, friendly, gentle, dan selalu mudah diajak selfie menjadi alasan kenapa gue menginginkan semuanya yang gue sebutkan. Dia terlalu menyenangkan untuk bertumbuh dewasa dan menjalani hidupnya sendiri.
“galauu woy, in no time kita bakal ada di posisi dia lagi kan -_-“
“Iyaaa, sekarang gue baru berasa cepet banget waktu itu...”
“bangetbangetbanget glo. Gue ngga nyangka makin cepet aja weh. Bentar lagi udah mau semester 2 gaakan berasa kita udah graduation. Sad to ear that tapi trust me, it’s true. Sedihnya lagi, THERE’S NOTHING TO DO TO SLOW IT DOWN”
            Gue mungkin ngga pernah janjiin Jensae untuk menjadi pribadi yang kuat untuk dia secara langsung, tapi ketika temen gue ngomong ini, gue semakin sadar gue ngga akan pernah memiliki waktu lagi untuk melihat Jensae yang sekarang, yang masih kelas 5 SD. Dan mungkin, waktu sudah melompat terlalu jauh ketika gue bertemu lagi dengannya suatu hari nanti. Dan hari ini, gue melanggar janji gue sendiri dengan menangis terisak karena penyesalan... -red
“Becasue having a family that choose to not care hurts.” –GloriaErnita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar