“Udah Glo, lu mah jadi penulis aja! Cocok banget!” |
“Nah iya, penulis aja! kamu bagus nulisnya...” | “Lu kenapa ga jadi penulis aja
Glo, kalo udah tau suka dan enjoy?” | “Udah deh Glo, lu nulis aja mendingan
kalo udah gede nanti, gausah kerja yang lain!”
Semua
manusia di dunia jagad unyu ini berbeda. Ada sih beberapa kesamaan yang
akhirnya menjadi daya tarik persahabatan, tapi sebagian besar terbentuk karena
perbedaan. Eh tapi ngga jadi deh; gue cabut perkataan gue. Buat gue, mereka
semua sama: sama-sama selalu nyuruh gue nulis kalo gue udah nyinggung hal
semacem ginian didepan mereka.
Waktu
gue chat sama salah satu sahabat gue dan nyinggung hal ini, dia nanya ke gue
“why not jadi penulis dan ambil resiko?”. Gue yang sejujurnya udah agak capek
ditanyain begituan jawab aja seenak jidat gue “kenapa harus ‘why not’? kenapa
ga not ‘why’?” Daann dia ngga ngerti pola pikir gue mengenai pertanyaan dia
yang cuman gue balik itu.
Gue
udah sering sebenernya consider mengenai pekerjaan tulis-menulis ini segitu gue
dewasa nanti – malah gue udah sempet memikirkan outcome kasarnya alias bikin
buku. Namun dibalik semua consideration yang gue anggap “sudah matang” ini, gue
merasa lebih takut akan resikonya kebanding usaha gue dalam berkecimpung di
dunia seni tulis. Analogi menulis buat gue, adalah seperti sebuah rumah, rumah
yang penuh memori...
Rumah
yang terletak diseberang gue sudah kosong untuk sekitar setahun – terdiam
bersama waktu; tak berpenghuni. Sebelum hari itu dimana sang pemilik
berkeputusan untuk pindah, rumah ini selalu terisi dengan kehidupan sebuah
keluarga kecil yang bahagia. Tawa, canda, dan kehidupan seperti kebanyakan
keluarga lainnya di negara ini. Entah sudah berapa lama mereka merencanakan
perpindahan, gue sebagai pengamat hanya bisa menebak-nembak apa yang akan
terjadi ketika sebuah mobil angkut datang ke rumah tersebut dan membawa pergi
barang mereka entah kemana. Hingga suatu hari, rumah yang sudah siap
ditinggalkan dibiarkan begitu saja dengan taman dan perabotan yang masih utuh;
namun kini sudah siap ditinggalkan. Berarti tak akan pernah ada lagi canda dan
tawa seperti dulu.
Seiring
berjalannya waktu, gue kembali menyadari sebuah perubahan: atap rumah seberang
mulai dihancurkan oleh tukang-tukang. Entah untuk apa. Hari demi hari rumah
yang dahulu dibangun dengan susah payah kini juga dihancurkan seiring dengan
mengalirnya peluh anak manusia yang bekerja keras demi rejeki. Gue terdiam
memandang dari kejauhan rumah gue, mengawang-awang akan apa yang terjadi
setelah rumah ini seutuhnya rata dengan tanah. Akankan sebuah cerita keluarga
baru dibangun diatas lembaran baru ini? Atau, apakah ada pemikiran lain sang
pemilik tanah? Gue hanya bisa menebak-nebak tanpa kepastian.
Menulis
itu sama dengan rumah seberang ini; yang dibangun - diisi - ditinggalkan -
dilupakan - dihancurkan - dan akhirnya dibangun kembali. Ada sebuah siklus yang
sama ketika seseorang mengambil keputusan untuk mencintai sesuatu sampai
akhirnya membuat sebuah komitmen dan membangun fondasi baru diatasnya. Setelah
diisi dengan cerita, cenderung kita bosan dengan rutinitas kebiasaan kita ini
lalu meninggalkannya begitu saja; melupakan komitmen yang pernah dibuat untuk
senantiasa menjaga dan mengembangkan potensi kita. Setelah sekian lama, kita
kemudian mengambil keputusan untuk menghancurkan segala sesuatu dan berharap
dapat membangun sesuatu yang lebih baru dan lebih menyenangkan.
Kita
boleh dan sangat bisa mengganti kebiasaan dan komitmen lama itu dengan sesuatu
yang baru, namun kita tidak kan pernah bisa melupakan apa yang telah menjadi
kebiasaan lama kita seutuhnya. Mau sudah terbiasa apapun kita dengan kebiasaan
baru, diatas tanah yang tak pernah berubah itu kita menyisakan bibit-bibit
kebiasaan kita. Pasti ada suatu saat dimana kita kan secara tak sadar datang
kembali ke ruang nostalgia rumah itu dan mengenang segala sesuatu yang pernah
terjadi dalam kehidupan ini.
Rumah
dan segala kisah didalamnya, hidup yang sudah dianugrahkan sang Maha Kuasa,
cinta yang senantiasa kita rasakan, tawa yang selalu menyertai, sebenarnya tak
akan terhapus atau hilang dalam unsur fondasi komitmen yang pernah kita buat. Gue
tidak akan meninggalkan menulis atau sedetikpun memikirkan untuk melupakannya;
namun juka gue bisa tetap menjadikan kebiasaan ini terbangun berdampingan
dengan sebuah taman yang luas untuk gue jelajahi potensi gue yang lain, lalu
mengapa tidak?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar