Jumat, 15 November 2013

Why Not?


“Udah Glo, lu mah jadi penulis aja! Cocok banget!” | “Nah iya, penulis aja! kamu bagus nulisnya...” | “Lu kenapa ga jadi penulis aja Glo, kalo udah tau suka dan enjoy?” | “Udah deh Glo, lu nulis aja mendingan kalo udah gede nanti, gausah kerja yang lain!”
            Semua manusia di dunia jagad unyu ini berbeda. Ada sih beberapa kesamaan yang akhirnya menjadi daya tarik persahabatan, tapi sebagian besar terbentuk karena perbedaan. Eh tapi ngga jadi deh; gue cabut perkataan gue. Buat gue, mereka semua sama: sama-sama selalu nyuruh gue nulis kalo gue udah nyinggung hal semacem ginian didepan mereka.
            Waktu gue chat sama salah satu sahabat gue dan nyinggung hal ini, dia nanya ke gue “why not jadi penulis dan ambil resiko?”. Gue yang sejujurnya udah agak capek ditanyain begituan jawab aja seenak jidat gue “kenapa harus ‘why not’? kenapa ga not ‘why’?” Daann dia ngga ngerti pola pikir gue mengenai pertanyaan dia yang cuman gue balik itu.
            Gue udah sering sebenernya consider mengenai pekerjaan tulis-menulis ini segitu gue dewasa nanti – malah gue udah sempet memikirkan outcome kasarnya alias bikin buku. Namun dibalik semua consideration yang gue anggap “sudah matang” ini, gue merasa lebih takut akan resikonya kebanding usaha gue dalam berkecimpung di dunia seni tulis. Analogi menulis buat gue, adalah seperti sebuah rumah, rumah yang penuh memori...
            Rumah yang terletak diseberang gue sudah kosong untuk sekitar setahun – terdiam bersama waktu; tak berpenghuni. Sebelum hari itu dimana sang pemilik berkeputusan untuk pindah, rumah ini selalu terisi dengan kehidupan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Tawa, canda, dan kehidupan seperti kebanyakan keluarga lainnya di negara ini. Entah sudah berapa lama mereka merencanakan perpindahan, gue sebagai pengamat hanya bisa menebak-nembak apa yang akan terjadi ketika sebuah mobil angkut datang ke rumah tersebut dan membawa pergi barang mereka entah kemana. Hingga suatu hari, rumah yang sudah siap ditinggalkan dibiarkan begitu saja dengan taman dan perabotan yang masih utuh; namun kini sudah siap ditinggalkan. Berarti tak akan pernah ada lagi canda dan tawa seperti dulu.
            Seiring berjalannya waktu, gue kembali menyadari sebuah perubahan: atap rumah seberang mulai dihancurkan oleh tukang-tukang. Entah untuk apa. Hari demi hari rumah yang dahulu dibangun dengan susah payah kini juga dihancurkan seiring dengan mengalirnya peluh anak manusia yang bekerja keras demi rejeki. Gue terdiam memandang dari kejauhan rumah gue, mengawang-awang akan apa yang terjadi setelah rumah ini seutuhnya rata dengan tanah. Akankan sebuah cerita keluarga baru dibangun diatas lembaran baru ini? Atau, apakah ada pemikiran lain sang pemilik tanah? Gue hanya bisa menebak-nebak tanpa kepastian.
            Menulis itu sama dengan rumah seberang ini; yang dibangun - diisi - ditinggalkan - dilupakan - dihancurkan - dan akhirnya dibangun kembali. Ada sebuah siklus yang sama ketika seseorang mengambil keputusan untuk mencintai sesuatu sampai akhirnya membuat sebuah komitmen dan membangun fondasi baru diatasnya. Setelah diisi dengan cerita, cenderung kita bosan dengan rutinitas kebiasaan kita ini lalu meninggalkannya begitu saja; melupakan komitmen yang pernah dibuat untuk senantiasa menjaga dan mengembangkan potensi kita. Setelah sekian lama, kita kemudian mengambil keputusan untuk menghancurkan segala sesuatu dan berharap dapat membangun sesuatu yang lebih baru dan lebih menyenangkan.
            Kita boleh dan sangat bisa mengganti kebiasaan dan komitmen lama itu dengan sesuatu yang baru, namun kita tidak kan pernah bisa melupakan apa yang telah menjadi kebiasaan lama kita seutuhnya. Mau sudah terbiasa apapun kita dengan kebiasaan baru, diatas tanah yang tak pernah berubah itu kita menyisakan bibit-bibit kebiasaan kita. Pasti ada suatu saat dimana kita kan secara tak sadar datang kembali ke ruang nostalgia rumah itu dan mengenang segala sesuatu yang pernah terjadi dalam kehidupan ini.
            Rumah dan segala kisah didalamnya, hidup yang sudah dianugrahkan sang Maha Kuasa, cinta yang senantiasa kita rasakan, tawa yang selalu menyertai, sebenarnya tak akan terhapus atau hilang dalam unsur fondasi komitmen yang pernah kita buat. Gue tidak akan meninggalkan menulis atau sedetikpun memikirkan untuk melupakannya; namun juka gue bisa tetap menjadikan kebiasaan ini terbangun berdampingan dengan sebuah taman yang luas untuk gue jelajahi potensi gue yang lain, lalu mengapa tidak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar