Lucu ya,
bagaimana orang yang paling kita harapin malah adalah orang yang paling
nyakitin kita. Awalnya semua seperti begitu biasa namun waktu berkonspirasi
lebih cepat diatas kita dan malah membiarkan bintang itu redup tiba-tiba. Dan
walaupun kita udah tau mengenai hal semacam ini, seringkali kita masih menolak
bahwa kenyataan itu benar-benar ada; bahwa pada suatu titik emang kita pasti tersakiti
atau menyakiti orang lain. Kita masih berharap bahwa orang yang sekarang datang
adalah orang yang lebih baik daripada sebelumnya, dan kita dengan tulus
memberikannya kesempatan untuk memberikan perasaan lain pada hati yang sudah
tak sempurna. Siklus seperti ini selalu terjadi – dan entah kenapa, selalu kita
yang kena.
Dia nangis. Dia bilang ini sakit banget. Bahkan lebih
sakit daripada ditusuk dari belakang – ini lebih daripada sekedar cuman
ditusuk. To be honest, gue belom pernah denger sahabat gue nangis gara-gara
cowok yang bukan pacarnya sendiri. Yang gue tau, dia adalah sosok yang selalu
lebih kuat daripada apa yang dia pikirkan. Tapi entah kenapa, malem ini dia
begitu hancur dan sedih. Gue ngga kuat ngeliat perubahan drastis sahabat gue.
Dia yang biasanya senyum dan ketawa malah jadi kayak kambing ilang gini kalo
udah nangis.
Seseorang
pernah bilang sama gue bahwa orang nangis itu sebenernya bukan karena dia sok
kuat, tapi karena udah bertahan cukup lama. Awalnya gue ngga percaya sama
kalimat barusan; tapi untuk detik ini, gue ngerasain esensinya.
Hati gue juga lagi sakit sebenernya, dan bisa pas banget
dengan pain sahabat gue. I’ve been hurt so many times because I expected too
much when I know I shouldn’t. Susah emang jadi cewek, mau nutupin perasaan
kayak gimanapun pasti akhirnya kejerat juga. Tapi gue rasa gue udah belajar
banyak dari mantan-mantan gue untuk ngga toleransi sama keputusan yang udah gue
buat. Mau dia ngemis kayak apapun pada akhirnya, lebih baik untuk
mempertahankan apa yang lu percayakan pada diri lu sendiri untuk lakukan
daripada labil dan goyang. Gue ga sebego ketika gue masih sama mantan gue. I’ve
learnt since then.
Gue ngomong sama sahabat gue bahwa gue udah pengen sensi
sama orang ini dan ngata-ngatain dia sejadi-jadinya. Atau at least, gue
kepengen potong lehernya biar ga usah ada cewe lain yang ngerasain sakitnya
diginiin sama orang yang sama. Sakit banget. Tapi kemudian gue tanya sama diri
gue sendiri: kalo gue melakukan semua hal yang gue sebutkan, lalu apa faedahnya
gue sekolah di sekolah Kristen selama 4,5 tahun cuman buat ngata-ngatain orang
yang ga bermaksud untuk nyakitin gue? Makanya walaupun rasanya kayak apapun
hati gue, gue masih ngasih batasan perkataan dan cara penyampaian gue. Gue
masih mikirin perasaan orang. Toh, pada kenyataannya gue masih cewek.
There’s a burning flame inside of me to be honest.
Sebagai cewek yang paling ga bisa nunjukkin emosi apapun selain seneng dan
bete, gue ngerasa lucu bahwa gue akhirnya bisa “jahat” beneran sama orang di
chat. I hoped that this is the only time I have to do this to someone. Walaupun
gue tau hati gue sedih banget dan sejujurnya ga tega, tapi gue udah cukup
tau labil dan ga punya pendirian itu bagai cewek ga tau value dia apa sebagai
wanita. Prinsipnya begini: secepat apa lu tertarik sama orang kayak gini,
secepat itu jugalah lu akan ngerasa engga nyaman. Despite gue emang orangnya
bosenan, I would rather speak truth and jadi jauh gara-gara kejujuran daripada harus boong-boongan dan hancur lebih parah. I told you, I’ve
learnt my lesson.
Pertanyaannya kini muncul: kenapa sih dulu gue ngga
pernah berani mutusin cowo? Kenapa mereka selalu berani? Kenapa sekarang gue
berani? Gue masih ngga ngerti. Was it because gue nganggap yang ini sahabat?
Wait. Apa itu dulu berarti mereja nganggap gue sahabat? Ngga, ngga mungkin. Suddenly
everything just doesn’t make sense anymore.
Iya yah, people won’t appreciate the things they have
until they lost it. Dan emang bener, bahwa di dunia ini cuman ada 2 tipe cowo:
kalo bukan homo ya dia bajingan – as simple as that.
Dan as in bajingan includes Douchebag. The term
“DOUCHEBAG” generally refers to a male with certain combination of obnoxious
characteristics related to attitude, social ineptude, public behaviour or
outward presentation. Though the common douchebag thinks he is accepted by the
people around him, most of his peer dislike him. He has an inflated sense of
self-worth, compounded by a lack of social grace and self-awareness. He behaves
inappropiately in public, yet is completely ignorant to how pathetic he appears
to others.
And the thing I realized again adalah, bagaimana
kehadiran sosok yang gue anggap spesial itu bisa merubah segala persepsi gue
dan ajaran bonyok gue for 16 years. Makanya emak gue suka sewot kalo gue udah
punya cowok, soalnya gue bakal ngga dengerin dia ngomong. Lagipula hati gue
juga belom siap komitmen gini. Mending leha-leha dulu deh. HAHAHAHA. Masa
sebulan doang bisa ngerubah gaya hidup lu selama ini sih? And that made no
sense the most. -red
“Don’t raise your intonation; raise the
quality of your argument”
“Love is
like sand in the hand. The more you keep it the more you lose it”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar