Jumat, 29 November 2013

CINDERELLA

-->
"Oh, I will dance with Cinderella, I don't want to miss even one song
'Cause all too soon the clock will strike midnight and she'll be gone"

Dengerin lagu itu untuk kesekian kalinya masih sanggup bikin gue galau. Gue sadar bahwa waktu ngga tersisa banyak untuk gue habiskan sama bokap gue. Yes, my dad. One second he'll be there and the other second gone. Even tho lagu Cinderella ini didedicate oleh penulisnya untuk anak perempuannya, gue mau ngededicate cerita ini buat bokap gue.
Gue ceritain dulu meaning asli lagu ini dulu, biar ngerti. Namanya Steven Curtis Champman, ayah 3 anak perempuan. Sebelum ia menulis lagu ini, ia sedang mengurus kedua anak perempuan kecilnya yang masih berusia 4 dan 5 tahun kala itu. Karena sedang sibuk hendak menulis lagu dan mengatur aransemen, ia berusaha melakukan segalanya secepatnya - memandikan mereka, memakaikan baju tidur, dan mengajak mereka berdoa. Ketika semuanya sudah ia anggap selesai, ia keluar dari kamar putrinya dan menutup pintu dibelakangnya. Beberapa detik kemudian, terbesit dipikirannya mengenai anaknya yang sudah berumur 17 tahun dan ia sadar bahwa jika momen ini tidak ia gunakan dengan baik akan lewat dengan begitu saja tanpa ada apapun yang tersisa dari kedua putri ciliknya – sama seperti dalam kisah Cinderella. Ketika waktu itu sudah habis dan jam sudah berdentang 12 kali, maka mereka sudah tak kan ada lagi.
Dalam kehidupan gue yang sebenernya bersama bokap gue dan gue masih jomblo begini, the only thing I can do is reversing a bit of the song’s meaning and put my dad in the “Cinderella” part and I in the “dad” part. Maksud gue begini: gue ngga berusaha untuk mengajak bokap gue dansa whatsoever karna gue juga ngga bisa nari. Tapi untuk cherish setiap momen yang bisa gue habiskan sama bokap gue, that’s the thing I know I can do as a daughter right now. Karna dari kecil, role model gue yang pertama adalah bokap dan nyokap gue. Tapi darah bokap gue-lah yang mengalir dalam tubuh gue yang fana ini, yang mewariskan sebagian besar aksi-reaksi otaknya dan perilakunya. Let me tell you a little bit about my old man.
Bokap gue bukanlah bokap yang diidam-idamkan oleh anak kecil; bukan tipe-tipe bokap yang sempurna secara fisik dan mental seperti Bapa kita yang di surga atopun yang dicerita buaian tidur anak-anak. Tapi bokap gue yang ini adalah bokap yang gue tau ada bersama gue melalui masa kecil gue. Dari dulu gue sebenernya jarang ngobrol sama bokap karena bokap adalah tipe orang yang lebih suka kerja daripada suka ada dirumah. Rumah buat dia adalah bener-bener cuman tempat untuk ngistirahatin kepala – cuman akhir-akhir ini aja dia betah di rumah karena usia juga. Entah apa yang dia pikirin selama ini, tapi gue tau bahwa beberapa sifatnya adalah sifat yang gue miliki juga.
Gue pernah punya bokap yang gue anggap sebagai bokap asli gue juga ketika gue bertandang ke Australia belum lama ini. Ia, hampir sama seperti sosok bokap di rumah, di Indonesia. Ia jarang ngobrol sama gue, dan ia jarang membuka pembicaraan untuk mengenal gue lebih jauh. Namun entah darimana, dalam kesunyian tutur katanya, gue bisa belajar 2 hal paling penting dari dirinya yang membuat gue mengubah segala persepsi mengenai sosok bokap dirumah:
1.    Sejarang apapun ia membuka mulut, sebenarnya ayah pasti akan selalu menyayangi anak-anaknya. Ia pasti memiliki sisi hati yang sangat lemah lembut yang hanya bisa ia berikan kepada anaknya.
2.    Sebagai anak, gue harus puas dengan seperti apapun bokap kita di rumah karena merekalah orang-orang yang paling bertanggung jawab atas jiwa kita – mau kita anggap senyebelin apapun mereka.
Valuable lesson semacem insight ini ngga akan gue dapetin kalo aja gue ngga dateng ke Australia dan diijinkan Tuhan untuk tinggal di rumah yang seperti ini.
Jujur aja, udah sejak setengah taun terakhir ini gue sadar bahwa gue ngga bisa sia-siain waktu ini begitu aja. Gue takut kalo gue semakin tua nanti seiring dengan semakin ngerasa benarnya gue, gue ngga mau lagi dengerin apa kata bokap gue seperti ketika gue kecil dulu. Gue takut kalo gue gak punya waktu lagi untuk dilalui bersama sosok ini, yang sayang sama gue. Gue takut, kalo gue ngga akan bisa lagi meluk cium dan gandeng tangan orang yang selama gue kecil gue tau suka banget meluk gue dan nganggap gue putri kecilnya. Gue hanya ngga bisa membiarkan waktu ini lewat begitu aja, membiarkannya ngambil bokap gue seenaknya dari gue.
Yang menjadi penghalang terbesar buat gue untuk balik jadi kayak “daddy’s little girl” adalah penundukkan diri yang makin kesini makin sulit. Gue udah mulai ngerti yang namanya punya pendirian sendiri dan punya landasan kehidupan sendiri semata-mata membuat gue jadi males dengerin ceramahan bokap karena alasan klasik anak remaja: ‘bodo amat, I’ll get through it myself’. Itu sih susah loh serius.
Gue tau gue masih harus belajar untuk menjadi anak yang baik sebagaimana selama ini bokap gue juga masih belajar jadi ayah yang baik buat gue. Tapi dari bokap, gue belajar untuk memberikan waktu untuk mendengarkan orang lain karna bisa menjadi pendengar yang baik adalah pemberian yang tak ternilai harganya – yang belum tentu semua orang bisa kuasai dengan baik. Menurut gue, itulah hadiah terbaik yang bokap gue bisa turunkan buat gue sebagai Cinderella kecilnya. –red
“Always spend some time to listen to people. It is as indescribable gift not everyone is able to posses or to master”  -GOD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar