Cinta Segi
Ketek
-Ketika
Pantat dan Pantat Bersatu-
“Kita putus yah.” Kata dia
“HAH?! Apa-apaan sih kamu?”
“Kamu ngga ngerasa apa?
Sekarang tuh kita salah paham terus tau gak?! Gue capek harus terus berantem terus
dan nyakitin orang yang gue sayang dengan kata-kata gue!”
“Oh? Jadi kamu kira putus
ngga lebih nyakitin daripada tetep bertahan walaupun harus berantem? Aneh
kamu.”
“Ya terserah lah. Pokoknya
gue gak mau lanjut lagi”
“Egois yah, kamu tau gak
EGOIS?!”
“Denger ya, kamu tuh udah
aku ajakin baik-baik untuk LDR tapi kamu nolak dan ini semua dengan alasan ini
terlalu berat buat kamu. Kamu ngga tau emangnya ini juga berat buat gue? Dan
inget, itu KAMU yang nolak!”
“Jadi cuman gara-gara itu
kamu mau putus? Cuman atas dua alasan bodoh yang masih bisa gue ubah kalo lu
sabar ngehadapin gue? Gitu? Yaudah kita putus aja”
Itulah
pertama kalinya gue nangis terisak didepan dia. Siang itu, kita lagi berdua
makan siang di sebuah restoran. Gue ngga nyangka dia bakal memulai lagi
semuanya.
Ketek
sebentar lagi akan kembali ke Jerman. Dia mau lanjutin kuliahnya sambil kerja
dengan hasil yang sangat menjamin disana. Dengan satu kondisi, pekerjaannya
yang baru itu menuntut kontrak dengan Ketek untuk tidak kembali ke tanah air
selama 10 tahun. Siapa sih yang ngga tergiur dengan gaji yang besar dalam
pekerjaannya yang bisa dilakukan separuh waktu sembari menuntut ilmu? Gue sama
sekali mendukung Ketek dalam hal ini; tapi bukan dengan “tidak bertemu selama
10 tahun” itu.
Kita udah
terlalu sering ngomongin soal ini, bahkan sampai terlalu berlebihan dan
bertengkar. Puncaknya adalah malam ini. Sebenernya gue ngga terlalu masalah
sama LDR; malah gue ngga keberatan sama sekali. Tapi cara dia ngomong dan
mengajukan ide LDR itu ngga pernah sesuai sama harapan gue yang tersirat dalam
nada bicara dia. Maksud gue, ayolah, kita udah saling mengenal cukup lama kan?
Kenapa dia masih ngga bisa membaca cara ngomong yang gue suka dan yang gue ngga
suka?
Hal
terakhir yang gue inget sebelum gue balik ke mobil dan terisak disana selama
kurang lebih satu jam adalah pelukan dia yang mendarat buat gue. Dia ngomong
satu kalimat terakhir buat hubungan kita itu: “Maaf yah, aku ngga sempet
buktiin janji aku buat kamu. Tapi aku tau kok, aku akan selalu ada buat kamu.”
Dan sebuah ciuman hangat dikening gue.
Gue nangis
sejadi-jadinya. Ngga mungkin lagi ada dia yang selalu ada di sisi gue.
Satu hal
yang gue sadar sesaat gue kusut dimobil adalah bahwa kita emang udah ngejalanin
semua ini semakin lama semakin tidak ada kata sepakat; terutama beberapa minggu
terakhir. Ya itulah, kita semakin bertolak belakang.
Sifat keras
kepala dia yang dulu dia pake cuman buat mempertahankan gue dari ancaman luar
malah dia pake untuk menghancurkan kita. Istilahnya tuh kita udah kayak bukan
ketek yang nyambung lagi: tapi malah pantat sama pantat beradu. Pantat ngga
pernah saling ngeliat – cuman saling ngebelakangin muka kita doang. Dia bukan
lagi Ketek yang gue kenal.
Dua malem
sebelum kita putus itu, gue sempet ngomong sama Vicky soal sebuah teori yang
gue temuin. Entah, apakah teori ini bakal bisa sejalan apa ngga sama
realitanya. Teori itu gue kasih nama Prinsip Ketek yang bilang “walaupun selalu
dijepit, dia tetap bertahan dan terus bertumbuh”. Iya, itu ketek kita dalam
arti yang sebenarnya. Tapi kalo ‘Ketek’ yang ini? Kayaknya Vicky berhutang
karena dia berhasil membuat gue nyaris percaya eksistensi Cinta Segi Ketek
apalah yang gue sebut-sebut.
Ironis, prinsip yang baru akan menetas itu sudah hancur
lagi berkeping-keping seiring dengan kejadian putus gue ini. Gue ngga tau lagi
apa yang gue inginkan lebih daripada membuktikan bahwa prinsip gue masih ada
benernya, tapi..... yasudahlah kalau memang sudah tidak mungkin.
Ketika pantat
dan pantat beradu, gue cuman bisa menyarankan kalian untuk melakukan hal ini:
diam. Jangan pernah bersitegang atas fakta yang dia sendiri sebenarnya sudah
tahu. Jangan paksakan kehendak. Tiba-tiba saja tanpa gue minta semua flashback
itu mengenai bagaimana dulu kita bertemu dan semua pengalaman manis yang kita
lalui bersama. Rasanya sakit man.
Kalo kata
Raditya Dika, sedih banget ya bagaimana semua putus cinta yang menyakitkan
diawali dengan jatuh cinta yang menyenangkan. Pada satu titik di hidup gue,
akhirnya gue bener-bener ngerasain apa yang dirasain bang Radit waktu itu.
Sekarang gue ngerti, rasa itu namanya NYESEK. Hmph.
Setelah
berapa tahun ini, hari libur gue yang biasanya gue habiskan bersama dengan dia
berdua dikafe – entah itu untuk mengobrol sejuta hal yang seakan tidak ada
habisnya atau untuk sekedar nongkrong dan melakukan hal yang kita masing-masing
suka – sekarang akasn gue jalani sendirian; lagi. Sama persis seperti saat gue
belum bertemunya.
Sekarang
bagaimana gue harus mempertanggung jawabkan teori gue kepada Vicky? Apa yang
harus gue bilang sebagai alasan gue atas ketidak-absolutan prinsip tersebut
yang udah gue gembar-gemborin sebagai “kenyataan manis” itu hanya karena gue
baru mengalami bagian pahitnya sebuah buah pala? Gue ngga mau ngecewain temen
gue tapi sekarang malah faktanya berkata sebaliknya: gue baru saja dikecewain
salah satu orang yang paling gue sayang di dunia ini. Apa gue juga udah terlalu
sering mengecewakan dia sampai harus seperti ini?
-Akhir
bagian empat-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar