Rabu, 03 Juli 2013

Cinta Segi Ketek


Cinta Segi Ketek
-Ketika Pantat dan Pantat Bersatu-
“Kita putus yah.” Kata dia
“HAH?! Apa-apaan sih kamu?”
“Kamu ngga ngerasa apa? Sekarang tuh kita salah paham terus tau gak?! Gue capek harus terus berantem terus dan nyakitin orang yang gue sayang dengan kata-kata gue!”
“Oh? Jadi kamu kira putus ngga lebih nyakitin daripada tetep bertahan walaupun harus berantem? Aneh kamu.”
“Ya terserah lah. Pokoknya gue gak mau lanjut lagi”
“Egois yah, kamu tau gak EGOIS?!”
“Denger ya, kamu tuh udah aku ajakin baik-baik untuk LDR tapi kamu nolak dan ini semua dengan alasan ini terlalu berat buat kamu. Kamu ngga tau emangnya ini juga berat buat gue? Dan inget, itu KAMU yang nolak!”
“Jadi cuman gara-gara itu kamu mau putus? Cuman atas dua alasan bodoh yang masih bisa gue ubah kalo lu sabar ngehadapin gue? Gitu? Yaudah kita putus aja”
Itulah pertama kalinya gue nangis terisak didepan dia. Siang itu, kita lagi berdua makan siang di sebuah restoran. Gue ngga nyangka dia bakal memulai lagi semuanya.
Ketek sebentar lagi akan kembali ke Jerman. Dia mau lanjutin kuliahnya sambil kerja dengan hasil yang sangat menjamin disana. Dengan satu kondisi, pekerjaannya yang baru itu menuntut kontrak dengan Ketek untuk tidak kembali ke tanah air selama 10 tahun. Siapa sih yang ngga tergiur dengan gaji yang besar dalam pekerjaannya yang bisa dilakukan separuh waktu sembari menuntut ilmu? Gue sama sekali mendukung Ketek dalam hal ini; tapi bukan dengan “tidak bertemu selama 10 tahun” itu.
Kita udah terlalu sering ngomongin soal ini, bahkan sampai terlalu berlebihan dan bertengkar. Puncaknya adalah malam ini. Sebenernya gue ngga terlalu masalah sama LDR; malah gue ngga keberatan sama sekali. Tapi cara dia ngomong dan mengajukan ide LDR itu ngga pernah sesuai sama harapan gue yang tersirat dalam nada bicara dia. Maksud gue, ayolah, kita udah saling mengenal cukup lama kan? Kenapa dia masih ngga bisa membaca cara ngomong yang gue suka dan yang gue ngga suka?
Hal terakhir yang gue inget sebelum gue balik ke mobil dan terisak disana selama kurang lebih satu jam adalah pelukan dia yang mendarat buat gue. Dia ngomong satu kalimat terakhir buat hubungan kita itu: “Maaf yah, aku ngga sempet buktiin janji aku buat kamu. Tapi aku tau kok, aku akan selalu ada buat kamu.” Dan sebuah ciuman hangat dikening gue.
Gue nangis sejadi-jadinya. Ngga mungkin lagi ada dia yang selalu ada di sisi gue.
Satu hal yang gue sadar sesaat gue kusut dimobil adalah bahwa kita emang udah ngejalanin semua ini semakin lama semakin tidak ada kata sepakat; terutama beberapa minggu terakhir. Ya itulah, kita semakin bertolak belakang.
Sifat keras kepala dia yang dulu dia pake cuman buat mempertahankan gue dari ancaman luar malah dia pake untuk menghancurkan kita. Istilahnya tuh kita udah kayak bukan ketek yang nyambung lagi: tapi malah pantat sama pantat beradu. Pantat ngga pernah saling ngeliat – cuman saling ngebelakangin muka kita doang. Dia bukan lagi Ketek yang gue kenal.
Dua malem sebelum kita putus itu, gue sempet ngomong sama Vicky soal sebuah teori yang gue temuin. Entah, apakah teori ini bakal bisa sejalan apa ngga sama realitanya. Teori itu gue kasih nama Prinsip Ketek yang bilang “walaupun selalu dijepit, dia tetap bertahan dan terus bertumbuh”. Iya, itu ketek kita dalam arti yang sebenarnya. Tapi kalo ‘Ketek’ yang ini? Kayaknya Vicky berhutang karena dia berhasil membuat gue nyaris percaya eksistensi Cinta Segi Ketek apalah yang gue sebut-sebut.
            Ironis, prinsip yang baru akan menetas itu sudah hancur lagi berkeping-keping seiring dengan kejadian putus gue ini. Gue ngga tau lagi apa yang gue inginkan lebih daripada membuktikan bahwa prinsip gue masih ada benernya, tapi..... yasudahlah kalau memang sudah tidak mungkin.
Ketika pantat dan pantat beradu, gue cuman bisa menyarankan kalian untuk melakukan hal ini: diam. Jangan pernah bersitegang atas fakta yang dia sendiri sebenarnya sudah tahu. Jangan paksakan kehendak. Tiba-tiba saja tanpa gue minta semua flashback itu mengenai bagaimana dulu kita bertemu dan semua pengalaman manis yang kita lalui bersama. Rasanya sakit man.
Kalo kata Raditya Dika, sedih banget ya bagaimana semua putus cinta yang menyakitkan diawali dengan jatuh cinta yang menyenangkan. Pada satu titik di hidup gue, akhirnya gue bener-bener ngerasain apa yang dirasain bang Radit waktu itu. Sekarang gue ngerti, rasa itu namanya NYESEK. Hmph.
Setelah berapa tahun ini, hari libur gue yang biasanya gue habiskan bersama dengan dia berdua dikafe – entah itu untuk mengobrol sejuta hal yang seakan tidak ada habisnya atau untuk sekedar nongkrong dan melakukan hal yang kita masing-masing suka – sekarang akasn gue jalani sendirian; lagi. Sama persis seperti saat gue belum bertemunya.
Sekarang bagaimana gue harus mempertanggung jawabkan teori gue kepada Vicky? Apa yang harus gue bilang sebagai alasan gue atas ketidak-absolutan prinsip tersebut yang udah gue gembar-gemborin sebagai “kenyataan manis” itu hanya karena gue baru mengalami bagian pahitnya sebuah buah pala? Gue ngga mau ngecewain temen gue tapi sekarang malah faktanya berkata sebaliknya: gue baru saja dikecewain salah satu orang yang paling gue sayang di dunia ini. Apa gue juga udah terlalu sering mengecewakan dia sampai harus seperti ini?
-Akhir bagian empat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar