Selasa, 25 Juni 2013

Cinta Segi Ketek


Cinta Segi Ketek
-Kisah Cinta Seekor Ketek-
         “Vic! Tau gak, kemaren si Ketek ngajak gue jalan ke mal di Jakarta besok! AAAAKK! Gue harus gimana?”
            “Cihui! Yaudah jalan aja sana, jangan ngacau ya mbak. Gue nunggu oleh-oleh. Wait, pas dia ngajak pergi dia bilang apa ke lu?”
            “ya dia sih cuman ngomong lusa pergi yuk gue mau ngajak makan terus jalan aja. Rada lucu juga sih ya kok bisa kejadian bener kayak gini...”
            “Lagi seneng kali dia.. Semoga lu ga di bauin ya sama ketek dia yang beneran!”
            “ah kepret lu Vik. Hahaha.”
            Pikiran gue malam itu membuat gue menerawang jauh kepada hari esok, engga bisa tidur ngga karuan. Gue sesekali mencoba membiarkan mata gue terpejam untuk tidur, tapi gue masih aja melamun terbaring di tempat tidur. Emang aneh apa yang dapat rasa senang pada lawan jenis dapat lakukan. Entah bagaimana cinta ketek itu beneran ada atau engga, gue masih bener-bener bingung.
            Ketika keesokan haripun tiba, gue simpang siur didepan kaca selama hampir 2 jam mencari baju yang tepat. Dia janji bakal jemput gue jam setengah empat sore didepan rumah, tapi sekarang nyatanya baru jam setengah dua belas siang. Gue bingung mau ngapain lagi. Rasanya baju didalem lemari gue ngga ada yang cocok buat gue pake nge-date sama Ketek.
            Singkat cerita, malem itu didepan candle light dinner sebuah restoran yang cukup keren di sebuah mall Jakarta Ketek menggengam tangan gue hangat. Gue ngga nyangka, pertemanan kita yang baru beberapa bulan ini akhirnya mencapai titik ini juga. Sekarang gue ngerti, gimana kehadiran sosok yang begitu berarti buat kita dalam diam saja sudah akan berarti begitu banyak. Iya saudara-saudara, gue jatuh cinta.
            Setelah makan malam, kita berdua menyempatkan diri untuk muter-muter lagi di pusat perbelanjaan berhubung hari masih siang. Lucunya, kami berdua malam itu seperti tidak ada kenyangnya. Ketek masih mentraktir gue popcorn, dan gue juga masih ngebayarin dia secangkir kopi dan eskrim. Baru pernah gue makan dengan insting ‘ngga tau malu’ gue itu didepan orang yang bener-bener belum pernah lihat gue makan sebelumnya. Antara benar-benar malu dan benar-benar brutal itu sangatlah tipis.
Malam itu berlalu begitu cepat saat kami berdua sampai lagi didepan rumah gue untuk mengakhiri malam itu. Sebelum berpisah, Ketek mencium kening gue tanda sayangnya kepada gue. Gue terbang dan malah ngga tidur juga semalaman.
            Hari-hari berlalu, tak terasa sudah setahun lebih kami berdua menjalani semuanya. Kita berdua udah seperti macan dan daging makanannya, ga bisa dipisahin lagi. Vikcy aja sampe bilang kalo dia bener-bener ngerasa inferior kalo lagi jalan sama gue dan gue ngajak si Ketek. Karena yang sering kali terjadi adalah gue malah jadi jalan berduaan sama Ketek dan ngacangin Vikcy yang masih saja jomblo tulen. Makanya Vicky sering secara misterius ada di kamar gue supaya bisa curcol di siang bolong.
            Terlalu banyak yang bisa gue ceritain tentang Ketek kalau kalian mau. Sosok tampan nan serius miliknya membuat gue betah duduk berjam-jam hanya untuk memperhatikan dia menggambar tampilan sebuah rumah yang sedang dia rancang... atau dengan peralatannya untuk membuat sebuah mesin dibengkel tua sebelah rumahnya. Dengan sebuah pensil terselip ditelinga kanannya, Ketek adalah sosok pria idaman wanita manapun di seluruh jagad raya ini.
            Ketek sebenarnya adalah seorang mahasiswa lulusan Jerman yang bekerja di sebuah perusahaan swasta Indonesia. Untuk saat ini, ia sedang ditugaskan di rumah dengan waktu yang fleksibel untuk menemukan jalan keluar terhadap sebuah mesin yang gue ngga pernah ngerti karena Ketek enggan menjelaskannya kepada gue. Disela-sela waktu padatnya dengan tang dan bor, Ketek dan gue masih sering keluar berdua untuk secangkir kopi hangat dan mendesain rumah. Gue sering menulis sambil sesekali memperhatikannya.
            Pernah sekali Ketek mengajak gue untuk makan malam di rumahnya ketika ayahnya pulang dari tugas kenegaraannya di Amerika. Ya, ayah Ketek adalah seorang anggota kedutaan. Mengaku sering membantu ibunya didapur, malam itu Ketek memasak sendiri makanan kesukaannya untuk gue. Jujur saja, siapa yang tidak terkesima pada pria yang bisa memasak dan ternyata selemah-lembut dirinya.
            Gue juga pernah mengajak Ketek kerumah untuk berkenalan dengan keluarga gue yang luarbiasa berisik jika sudah berkumpul dimeja makan. Bahkan, ayah dan ibuku sempat mengabiskan waktu mereka masing-masing bersama Ketek untuk mengenalnya lebih dekat dan mengaku mendapat impresi yang baik. Mereka sih, setuju saja jika hubungan kami berlanjut nanti. Ketek bilang, ayah dan ibu menanyakannya sejuta hal mengenai cita-cita dan harapannya kedepan, rumah idamannya, orangtuanya, kuliahnya, bahkan Ketek menggangap mereka sudah seperti orangtuanya sendiri.
            Ketika gue sudah harus kembali ke bangku kuliah untuk melanjutkan pendidikan sementara dia harus lebih sering ke kantor untuk pematangan desain dan perealisasian tugasnya, terpaksa kami jadi sangat jarang bertemu. Pada malam minggu yang tidak bisa gue lewati dengan pulang kerumah, gue kemudian akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menelponnya sekedar untuk melepas rindu. Bagi gue, ia masih sosok itu yang gue kenal jauh dari batinnya – sama seperti ketika alam bawah sadar gue mengenali kehadirannya.
Apa yang gue ngga sadar adalah perubahan perilaku Ketek yang signifikan memburuknya: entah apa itu. Gue masih berada dibawah sandera cinta yang begitu kuat.
-Akhir bagian tiga-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar