Cinta Segi
Ketek
-Kisah
Cinta Seekor Ketek-
“Vic! Tau gak, kemaren si Ketek ngajak gue jalan ke
mal di Jakarta besok! AAAAKK! Gue harus gimana?”
“Cihui! Yaudah jalan aja sana, jangan ngacau ya mbak. Gue
nunggu oleh-oleh. Wait, pas dia ngajak pergi dia bilang apa ke lu?”
“ya dia sih cuman ngomong lusa pergi yuk gue mau ngajak
makan terus jalan aja. Rada lucu juga sih ya kok bisa kejadian bener kayak
gini...”
“Lagi seneng kali dia.. Semoga lu ga di bauin ya sama
ketek dia yang beneran!”
“ah kepret lu Vik. Hahaha.”
Pikiran gue malam itu membuat gue menerawang jauh kepada
hari esok, engga bisa tidur ngga karuan. Gue sesekali mencoba membiarkan mata
gue terpejam untuk tidur, tapi gue masih aja melamun terbaring di tempat tidur.
Emang aneh apa yang dapat rasa senang pada lawan jenis dapat lakukan. Entah
bagaimana cinta ketek itu beneran ada atau engga, gue masih bener-bener
bingung.
Ketika keesokan haripun tiba, gue simpang siur didepan
kaca selama hampir 2 jam mencari baju yang tepat. Dia janji bakal jemput gue
jam setengah empat sore didepan rumah, tapi sekarang nyatanya baru jam setengah
dua belas siang. Gue bingung mau ngapain lagi. Rasanya baju didalem lemari gue
ngga ada yang cocok buat gue pake nge-date
sama Ketek.
Singkat cerita, malem itu didepan candle light dinner
sebuah restoran yang cukup keren di sebuah mall Jakarta Ketek menggengam tangan
gue hangat. Gue ngga nyangka, pertemanan kita yang baru beberapa bulan ini akhirnya
mencapai titik ini juga. Sekarang gue ngerti, gimana kehadiran sosok yang
begitu berarti buat kita dalam diam saja sudah akan berarti begitu banyak. Iya
saudara-saudara, gue jatuh cinta.
Setelah makan malam, kita berdua menyempatkan diri untuk
muter-muter lagi di pusat perbelanjaan berhubung hari masih siang. Lucunya,
kami berdua malam itu seperti tidak ada kenyangnya. Ketek masih mentraktir gue
popcorn, dan gue juga masih ngebayarin dia secangkir kopi dan eskrim. Baru
pernah gue makan dengan insting ‘ngga tau malu’ gue itu didepan orang yang
bener-bener belum pernah lihat gue makan sebelumnya. Antara benar-benar malu
dan benar-benar brutal itu sangatlah tipis.
Malam itu
berlalu begitu cepat saat kami berdua sampai lagi didepan rumah gue untuk
mengakhiri malam itu. Sebelum berpisah, Ketek mencium kening gue tanda sayangnya
kepada gue. Gue terbang dan malah ngga tidur juga semalaman.
Hari-hari berlalu, tak terasa sudah setahun lebih kami
berdua menjalani semuanya. Kita berdua udah seperti macan dan daging makanannya,
ga bisa dipisahin lagi. Vikcy aja sampe bilang kalo dia bener-bener ngerasa
inferior kalo lagi jalan sama gue dan gue ngajak si Ketek. Karena yang sering
kali terjadi adalah gue malah jadi jalan berduaan sama Ketek dan ngacangin
Vikcy yang masih saja jomblo tulen. Makanya Vicky sering secara misterius ada
di kamar gue supaya bisa curcol di siang bolong.
Terlalu banyak yang bisa gue ceritain tentang Ketek kalau
kalian mau. Sosok tampan nan serius miliknya membuat gue betah duduk berjam-jam
hanya untuk memperhatikan dia menggambar tampilan sebuah rumah yang sedang dia rancang...
atau dengan peralatannya untuk membuat sebuah mesin dibengkel tua sebelah
rumahnya. Dengan sebuah pensil terselip ditelinga kanannya, Ketek adalah sosok
pria idaman wanita manapun di seluruh jagad raya ini.
Ketek sebenarnya adalah seorang mahasiswa lulusan Jerman
yang bekerja di sebuah perusahaan swasta Indonesia. Untuk saat ini, ia sedang
ditugaskan di rumah dengan waktu yang fleksibel untuk menemukan jalan keluar
terhadap sebuah mesin yang gue ngga pernah ngerti karena Ketek enggan
menjelaskannya kepada gue. Disela-sela waktu padatnya dengan tang dan bor,
Ketek dan gue masih sering keluar berdua untuk secangkir kopi hangat dan mendesain
rumah. Gue sering menulis sambil sesekali memperhatikannya.
Pernah sekali Ketek mengajak gue untuk makan malam di
rumahnya ketika ayahnya pulang dari tugas kenegaraannya di Amerika. Ya, ayah
Ketek adalah seorang anggota kedutaan. Mengaku sering membantu ibunya didapur,
malam itu Ketek memasak sendiri makanan kesukaannya untuk gue. Jujur saja,
siapa yang tidak terkesima pada pria yang bisa memasak dan ternyata
selemah-lembut dirinya.
Gue juga pernah mengajak Ketek kerumah untuk berkenalan
dengan keluarga gue yang luarbiasa berisik jika sudah berkumpul dimeja makan.
Bahkan, ayah dan ibuku sempat mengabiskan waktu mereka masing-masing bersama
Ketek untuk mengenalnya lebih dekat dan mengaku mendapat impresi yang baik.
Mereka sih, setuju saja jika hubungan kami berlanjut nanti. Ketek bilang, ayah
dan ibu menanyakannya sejuta hal mengenai cita-cita dan harapannya kedepan,
rumah idamannya, orangtuanya, kuliahnya, bahkan Ketek menggangap mereka sudah
seperti orangtuanya sendiri.
Ketika gue sudah harus kembali ke bangku kuliah untuk
melanjutkan pendidikan sementara dia harus lebih sering ke kantor untuk
pematangan desain dan perealisasian tugasnya, terpaksa kami jadi sangat jarang
bertemu. Pada malam minggu yang tidak bisa gue lewati dengan pulang kerumah,
gue kemudian akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menelponnya sekedar untuk
melepas rindu. Bagi gue, ia masih sosok itu yang gue kenal jauh dari batinnya –
sama seperti ketika alam bawah sadar gue mengenali kehadirannya.
Apa yang
gue ngga sadar adalah perubahan perilaku Ketek yang signifikan memburuknya: entah
apa itu. Gue masih berada dibawah sandera cinta yang begitu kuat.
-Akhir
bagian tiga-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar