Kamis, 18 Juli 2013

When Your Habit Becomes Your Passion


Kapan sih gue ngga seneng berbagi? Seringnya malah gara-gara kebawa jaim gue malah jadi ngga ngeluarin kombo. Padahal, apa yang gue pengen bagiin bisa aja kan punya makna yang lebih dalem daripada apa yang awalnya gue pikir? Bisa banget. Pada dasarnya itu akan jadi kesalahan gue sih kalo gue ngga bagiin karena orang lain jadi ngga tau apa yang melintas di otak gue yang akhirnya akan menggambarkan diri gue dimata orang lain ato yang dikenal sebagai Persona dalam bahasa inggris.
Buat gue, hidup itu lebih cerah kalo gue bisa berbagi sama orang-orang yang gue sayang (ato minimal gue peduli {makanya gue nyerocos panjang lebar kayak emak-emak}) – terutama atas informasi menarik yang gue tau bakal berguna buat orang lain DAN gue tau lebih banyak di bidang itu. Caranya ya bisa melalui cara lisan ataupun cara tulisan. Fleksibel ajasih gue mah.
Range pengetahuan yang paling suka gue bagiin ke orang lain sih biasanya mengenai Plato sama Socrates –nama jenis jajanan yang dijual di Pasar Senen itu. Ya bukanlah! Plato sama Socrates itu kan filsuf jaman jebot (apaaaannn inii-__________-). Mereka punya sejuta teori yang masih dekat banget dengan kehidupan kita hari ini yang bisa gue bagiin dalam kata-kata singkat namun memiliki pesan yang ngga kurang dari apa yang ingin mereka sendiri bisa sampaikan. Intinya sih, gue pakek bahasa sederhana; gituh.
Sampe di detik ini, gue masih sering nanya ke Tuhan: “Tuhan, kapan sih gue bisa kayak orang lain yang kerohaniannya udah mateng supaya bisa maju trus jadi berkat dari apa yang gue kerjain?” Walaupun pertanyaan gue belom dijawab sama Tuhan dan pertanyaan itu timbul tenggelam seiring berjalannya waktu, pertanyaan inilah yang selalu menjadi motivasi gue di bidang tulis menulis – maksudnya supaya gue terus menulis dan menulis; mengasah ide yang muncul non-stop kalo Tuhan lagi kasih. Gue ngga mau kalo gue bisanya cuman menikmati karyanya orang lain. Gue pengennya GUE, yang doyan nulis ini, bisa punya karya juga buat orang lain. Atau yang gue sebut sebagai “when your habit becomes your passion”.
Sebagai wanita, kita semua dikasih kelebihan 20.000 kata daripada laki-laki. Kalo kaum pria bisa menggunakan limit berbicara mereka dengan baik diatas panggung kayak idola-idola gue di Stand-Up Comedy untuk menghibur banyak orang, gue juga pasti bisa (dengan tujuan yang berbeda tentunya). Awal kesenangan gue berbicara didepan orang lain ini tumbuh melalui tongkrongan temen-temen sealiran cara pikirnya di sekolah semasa SMA ini. Buat gue, mereka menjadi tempat latihan gue untuk senantiasa ngelucu tanpa celoteh panjang lebar. Kalo yang serius-serius dan nyerempet kelihaian otak, biasanya kita jalan berdua dan ngobrol deh. Semua sesimpel itu. Dari acara “ngobrol” yang udah menjadi ajang menghabiskan jatah kata-per-hari (baca: kebiasaan) kita cewek-cewek, muncullah sebuah panggilan dalam diri gue untuk berbagi lebih dari itu kepada siapapun di dunia ini, Terutama pada bidang pendidikan yang kurang baik di Indonesia. Tapi untuk saat ini, rasanya gue akan fokus pada sekolah dulu.
Bagi manusia-manusia yang pernah denger gue nyerocos “sok tau” ala gue, pasti ngerti gue bisa menghabiskan waktu yang terasa seperti 10 jam (padahal sebenernya cuman 15 menit) cuman untuk ngomongin 1 topik yang lagi muter di otak gue. Bosennya kayak apa ya tau deh. Tapi dari facial feedback yang mereka tunjukkin buat gue gue bisa tebak kalo mereka udah bosen tingkat maut makanya gue segera menutup ceramah gue. Masalahnya itu. Gue sering lupa waktu kalo udah keasikan. Merupakan sebuah pelajaran penting bagi gue untuk berbicara secara terstruktur dan padat – ngga ngeloyor sampe ngomongin yang pribadi. Susah men, kalo lu pernah jadi pembicara pasti ngerti deh.
Ideologi public speaking yang paling penting adalah sebesar apa keberanian (courage) kita untuk ngaku bahwa kita punya sesuatu untuk dibagikan. Terus juga perlu materi yang oke punya buat dibagiin dalam balutan yang menarik. Sebenernya itu doang lho intinya. Lebih susah praktek.
Saat kebiasaan kita udah menjadi panggilan kita, kita senantiasa hanya bisa berkata “ya Tuhan” dan menjalankannya. Ngga semua orang punya panggilan public speaking seperti gue pada akhirnya, tapi apapun yang awalnya kita anggap remeh sebagai hobi bisa aja tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan untuk kita lakukan. Akhirnya, hal tersebut akan menjadi A Habit That Has Become Your Passion. -red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar