Rabu, 10 Juli 2013

Cinta Segi Ketek


Cinta Segi Ketek
-Sang Ketek dan Jodohnya-
Inilah dunia kita, dimana fakta yang diharapkan terjadi didalam sebuah hubungan percintaan seringkali ngga sesuai dengan apa yang kita harapkan; malah kayaknya jauh banget dari cerita “bahagia selama-lamanya” yang selalu kita temukan pada akhir dongeng sebelum tidur waktu kecil dulu. Rupanya cerita-cerita tersebut hanyalah sebuah buaian untuk anak-anak yang berangsur tidak berguna untuk orang dewasa.
Bagaimana jika sebenarnya Snow White tidak sebaik dan sesempurna yang diceritakan cerita-cerita tersebut? Bagaimana jika yang sebenarnya terjadi adalah bahwa Cinderella-lah sosok yang jahat di dalam cerita dan bukan ibu tirinya? Bagaimana jika si buruk rupa masih bertabiat buruk setelah menikah dengan Belle? Bagimana jika lonceng tidak pernah berdentang pukul 12 malam?
Ketika gue kecil, gue ngga tau bahwa cinta akan menjadi membingungkan dan menyedihkan seperti ini. Bagi gue dulu, ketika gue mencintai dia dan dia mencintai gue balik kita akan bisa seperti putri-putri dalam dongeng itu: hidup bahagia selama-lamanya. Yang tidak gue sadari adalah zaman sudah sepenuhnya berevolusi sejak hari itu.
Ditemani hujan deras yang kaku dan dingin di luar jendela, gue duduk di dalam sebuah kafe dengan minuman hangat ditangan gue sembari menulis sebuah buku tulis kosong dihadapan gue. Keramaian kafe itu entah mengapa membuat gue merasa kesepian dalam kekosongan absolut. Apa yang gue rasakan seperti tidak nyata -- selama ini terasa lengkap bersamanya. Kata orang, inilah saat yang tepat untuk memulai petualangan baru dalam lembaran yang baru.
Kemana perginya sosok itu yang dahulu berkata bahwa ia akan selalu ada buat gue? Katanya, dia udah ngga menyanggupi lagi apa yang dulu selalu dikatakannya sebagai “akan ada disampingmu saat kau membutuhkanku”. Ternyata, cara bekerja kalimat barusan sama persis seperti kalimat yang dahulu sering dibacakan kepada gue dari buku-buku fiksi itu.
Terakhir kali kami bersama, ia memang sudah mengatakannya. Kami bertengar hebat ditengah sebuah restoran yang sedang ramai dengan pengunjung. Memaksakan keinginannya untuk tetap melanjutkan hubungan jarak jauh membuaat gue sangat tidak nyaman karena hubungan jarak jauh dalam persepsi gue memberi lebih banyak ruang untuk ketidaksetiaan. Ya sudah. Daripada kami saling menjalani hubungan ini dengan tulus dan tidak seiya sekata, kami lebih memilih untuk berpisah. Dalam satu kalimat, kami tidak mau memberikan ruang untuk mengambil kesempatan itu dan mencobanya. Sementara keras kepala dan rasa takut mengambil alih. Sebelum perpisahan itu berakhir, gue menangis deras dan dia memberikan gue satu pelukan terakhirnya; pelukan yang setelah hari ini tidak akan gue ketahui kelanjutannya.
Gue masih duduk termenung di kafe. Sejam.. Dua jam.. Setengah hari. Gue merenung; mencoba mencari jawaban keluar sementara halam demi halaman buku kosong itu terisi dengan rajutan kata-kata indah yang melukiskan perasaan gue saat itu. Seiring dengan berjalannya waktu, gue semakin mengerti mengapa orang banyak masih tidak percaya bahwa cinta ketek itu nyata.
Cinta segi ketek adalah sebuah cinta yang tidak mungkin dinyatakan keberadaannya dengan bukti apapun yang dapat dibuktikan manusia – sama halnya dengan teori-teori lain yang tidak pernah dikonfirmasi dunia kita. Sebesar apapun usaha manusia untuk mencari jawaban atas masalah ini, teori ini tidak mungkin dijelaskan jika 95% populasi dunia kita pernah mengalaminya.
Gue beruntung, dia bukan ketek gue yang sungguhan atau suatu elemen yang membentuk siku-siku ketek gue. Kalau dia adalah ketentuan yang memenuhi persyaratan ketek, maka gue ngga akan bisa membayangkan sebesar apa bagian kehilangan yang ditimbulkan dirinya pada bagian ketek gue. Padahal iya belum berada pada tempat itu terlalu lama.
Gue ngga bisa berpikir mengenai apapun yang lebih buruk daripada kehilangan cinta kepada orang yang selama ini telah menjadi seperti bagian dari diri kita yang tidak selamanya nyata.
Kalau kita ngga naik kelas masih bisa ngulang lagi; kalau kita salah kita bisa minta maaf dan tidak melakukannya lagi di kemudian hari. Nah kalau cinta? Apakah cinta bisa diulang dengan orang yang sama seperti sebelum-sebelumnya? Engga. Jawabannya adalah ngga akan pernah bisa. Itu dia kenapa cinta segi ketek ngga pernah ada di dunia ini: karena cinta yang tidak bermula dari bau busuknya tidak akan pernah bisa bertahan.
Untuk saat ini, gue harus puas hanya dengan ilusi kehadirannya. –red
-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar