Cinta Segi
Ketek
-Sang Ketek
dan Jodohnya-
Inilah
dunia kita, dimana fakta yang diharapkan terjadi didalam sebuah hubungan percintaan
seringkali ngga sesuai dengan apa yang kita harapkan; malah kayaknya jauh
banget dari cerita “bahagia selama-lamanya” yang selalu kita temukan pada akhir
dongeng sebelum tidur waktu kecil dulu. Rupanya cerita-cerita tersebut hanyalah
sebuah buaian untuk anak-anak yang berangsur tidak berguna untuk orang dewasa.
Bagaimana
jika sebenarnya Snow White tidak sebaik dan sesempurna yang diceritakan
cerita-cerita tersebut? Bagaimana jika yang sebenarnya terjadi adalah bahwa
Cinderella-lah sosok yang jahat di dalam cerita dan bukan ibu tirinya?
Bagaimana jika si buruk rupa masih bertabiat buruk setelah menikah dengan
Belle? Bagimana jika lonceng tidak pernah berdentang pukul 12 malam?
Ketika gue
kecil, gue ngga tau bahwa cinta akan menjadi membingungkan dan menyedihkan
seperti ini. Bagi gue dulu, ketika gue mencintai dia dan dia mencintai gue
balik kita akan bisa seperti putri-putri dalam dongeng itu: hidup bahagia
selama-lamanya. Yang tidak gue sadari adalah zaman sudah sepenuhnya berevolusi
sejak hari itu.
Ditemani
hujan deras yang kaku dan dingin di luar jendela, gue duduk di dalam sebuah
kafe dengan minuman hangat ditangan gue sembari menulis sebuah buku tulis
kosong dihadapan gue. Keramaian kafe itu entah mengapa membuat gue merasa kesepian
dalam kekosongan absolut. Apa yang gue rasakan seperti tidak nyata -- selama
ini terasa lengkap bersamanya. Kata orang, inilah saat yang tepat untuk memulai
petualangan baru dalam lembaran yang baru.
Kemana
perginya sosok itu yang dahulu berkata bahwa ia akan selalu ada buat gue?
Katanya, dia udah ngga menyanggupi lagi apa yang dulu selalu dikatakannya
sebagai “akan ada disampingmu saat kau membutuhkanku”. Ternyata, cara bekerja
kalimat barusan sama persis seperti kalimat yang dahulu sering dibacakan kepada
gue dari buku-buku fiksi itu.
Terakhir
kali kami bersama, ia memang sudah mengatakannya. Kami bertengar hebat ditengah
sebuah restoran yang sedang ramai dengan pengunjung. Memaksakan keinginannya
untuk tetap melanjutkan hubungan jarak jauh membuaat gue sangat tidak nyaman
karena hubungan jarak jauh dalam persepsi gue memberi lebih banyak ruang untuk
ketidaksetiaan. Ya sudah. Daripada kami saling menjalani hubungan ini dengan
tulus dan tidak seiya sekata, kami lebih memilih untuk berpisah. Dalam satu
kalimat, kami tidak mau memberikan ruang untuk mengambil kesempatan itu dan
mencobanya. Sementara keras kepala dan rasa takut mengambil alih. Sebelum
perpisahan itu berakhir, gue menangis deras dan dia memberikan gue satu pelukan
terakhirnya; pelukan yang setelah hari ini tidak akan gue ketahui
kelanjutannya.
Gue masih
duduk termenung di kafe. Sejam.. Dua jam.. Setengah hari. Gue merenung; mencoba
mencari jawaban keluar sementara halam demi halaman buku kosong itu terisi
dengan rajutan kata-kata indah yang melukiskan perasaan gue saat itu. Seiring dengan
berjalannya waktu, gue semakin mengerti mengapa orang banyak masih tidak percaya
bahwa cinta ketek itu nyata.
Cinta segi
ketek adalah sebuah cinta yang tidak mungkin dinyatakan keberadaannya dengan
bukti apapun yang dapat dibuktikan manusia – sama halnya dengan teori-teori
lain yang tidak pernah dikonfirmasi dunia kita. Sebesar apapun usaha manusia
untuk mencari jawaban atas masalah ini, teori ini tidak mungkin dijelaskan jika
95% populasi dunia kita pernah mengalaminya.
Gue
beruntung, dia bukan ketek gue yang sungguhan atau suatu elemen yang membentuk
siku-siku ketek gue. Kalau dia adalah ketentuan yang memenuhi persyaratan
ketek, maka gue ngga akan bisa membayangkan sebesar apa bagian kehilangan yang
ditimbulkan dirinya pada bagian ketek gue. Padahal iya belum berada pada tempat
itu terlalu lama.
Gue ngga
bisa berpikir mengenai apapun yang lebih buruk daripada kehilangan cinta kepada
orang yang selama ini telah menjadi seperti bagian dari diri kita yang tidak
selamanya nyata.
Kalau kita
ngga naik kelas masih bisa ngulang lagi; kalau kita salah kita bisa minta maaf
dan tidak melakukannya lagi di kemudian hari. Nah kalau cinta? Apakah cinta
bisa diulang dengan orang yang sama seperti sebelum-sebelumnya? Engga.
Jawabannya adalah ngga akan pernah bisa. Itu dia kenapa cinta segi ketek ngga
pernah ada di dunia ini: karena cinta yang tidak bermula dari bau busuknya
tidak akan pernah bisa bertahan.
Untuk saat
ini, gue harus puas hanya dengan ilusi kehadirannya. –red
-THE
END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar