Jumat, 03 Mei 2013

DAMPAK REVOLUSI INDUSTRI



            Jika kita melihat kembali kejadian revolusi industri pada abad ke-18 dan membandingkannya dengan pengeboman Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945, jelas begitu besar dampak perkembangan teknologi yang telah terjadi diantara hampir 200 tahun tersebut. Bukan salah manusia jika pada akhirnya kaum kita sendiri telah berhasil menemukan teknologi secanggih yang dapat kita lihat sekarang, namun memang dampak negatif yang akhirnya ditimbulkan pada suatu titik bukanlah sesuatu yang rasional.
            Sebelumnya saya tidak pernah memiliki bayangan apapun mengenai bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki maupun mengenai revolusi industri sebelum melihat video dari kejadian tersebut walaupun guru saya pernah menyinggung hal-hal tersebut sejak saya duduk di bangku sekolah dasar dan mengajarkannya di bangku menengah pertama. Hal yang saya tahu adalah bahwa bom dan revolusi itu pernah terjadi dan ya sudah, saya tidak memiliki penggambaran yang utuh akan bagaimana seseorang akhirnya menemukan mesin uap atau bagaimana keadaan hari-hari sebelum maupun sesudah pengeboman itu.
Saya agak kaget ketika saya menonton video-video tersebut sekaligus bersyukur akan begitu banyak hal. Begitu banyak hal baru yang saya pelajari dari kedua kejadian besar ini. Jujur saja saya kaget, karena negara adidaya seperti Amerika ternyata tega menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki. Mungkin memang menjatuhkan bom nuklir bukanlah sebuah hal yang baik untuk dilakukan, namun jika pada akhirnya perang usai karena bom itu, saya berpikir bahwa mungkin saja bom tersebut tidak sepenuhnya buruk. Tetapi sekali lagi, setelah melihat begitu banyak orang menderita akibat radiasi bom nuklir tersebut, pada akhirnya saya kembali tidak setuju mengenai bom nuklir. Saya merasa sangat iba kepada orang-orang yang pernah mengalami bom tersebut tetapi masih hidup hari ini karena mereka diminta untuk membayangkan bom itu kembali dan itu saja sudah sangat mengerikan; bagaimana jika kita harus menceritakannya kembali dan seolah mengulang apa yang terjadi hari itu? Terlepas kekagetan saya tersebut, saya bersyukur di era teknologi ini perang berdarah dingin seperti itu sudah selesai dan saya bukan salah satu anak yang hidup pada waktu tersebut. Saya jadi mempunyai banyangan akan bagaimana orang-orang yang terkena radiasi bom tersebut harus menderita untuk bertahan hidup dan bagaimana alur cerita secara fisik.
Menurut saya, relevansi revolusi industri dengan bom Hiroshima begitu kentara. Ada 2 perspektif yang dapat saya tangkap melalui kejadian ini:
Pertama: jika teknologi tidak pernah ditemukan. Jika teknologi tidak pernah ada di dunia kita, tentu saja perang tidak akan pernah terjadi. Dunia kita hari ini tidak akan pernah semaju sekarang. Mungkin saja kan, jika tahun ini baru saja ditemukan mesin uap. Ya, sebenarnya mengapa tidak? Namun jika teknologi bentul-betul tidak pernah ditemukan, kemudian kita masih akan hidup dengan lampu petromaks atau mungkin saja Indonesia tidak akan pernah merdeka – siapa yang dapat menebak.
Kedua: teknologi ditemukan dan dunia harus mengalami seluruh rangkaian kejadian yang telah terjadi. Ada buruknya, ada baiknya. Indonesia sudah merdeka, dan dunia mendapatkan kemudahan yang diperlukannya melalui telepon, internet, secara industrial, pembangunan, dan masih banyak lainnya. Dunia menjadi lebih terang.
Dari masa revolusi industri menuju pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, dampak yang ditimbulkan adalah ketertarikan orang-orang Eropa untuk terus menemukan sebuah penemuan baru yang berguna bagi masa depan. Lalu dari hari pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, dampak yang ditimbulkan adalah untuk Jepang menjadi negara yang lebih maju dari sebelumnya karena mereka harus mulai membangun kembali negara mereka dari 0 akibat bom nuklir tersebut. Dan dari masa setelah bom Hiroshima dan Nagasaki tersebut sampai sekarang adalah pelajaran berharga bagi masyarakat negara lain untuk belajar untuk memiliki rasa kemanusiaan yang lebih tinggi dan untuk terus berkarya; mencetuskan ide-ide brilian baru. Dalam kata lain, jangan pernah membiarkan kreativitas kita mati ditelan oleh waktu.
Dari kesimpulan observasi yang saya tarik pada saat sesi tanya-jawab di kelas sejarah dan dari buku-buku yang pernah saya baca, saya memiliki beberapa fakta menarik mengenai revolusi industri dan bom Hiroshima kalau kita bandingkan dengan Indonesia.
1.     Inggris merupakan negara pencetus awal mula revolusi industri pada tahun 1700-an (atau biasa dikenal dengan abad 18) dan perang dunia pertama terjadi tidak lama setelah kejadian penting tersebut sementara Indonesia pada tahun-tahun tersebut masih berada dibawah jajahan negara lain. Jadi, pada saat di daerah-daerah Eropa sudah mulai menggunakan mesin cuci, mesin pembuat roti, atau mobil secara efekif orang Indonesia masih melakukan segala sesuatu secara tradisional bahkan mungkin tidak mengetahui apa itu roti.
2.     Pada saat perang dunia I dan II terjadi, Indonesia juga masih berada dibawah jajahan Belanda. Dalam kasus ini, saya melihat sebuah hal positif dari “terlalu primitif”-nya bangsa Indonesia karena kemudian kita tidak perlu merasakan apa yang dialami bangsa-bangsa yang berperang saat itu seperti kerugian jika kalah, suara bom dimana-mana, dan lain sebagainya (padahal sebenarnya sih orang Indonesia saja yang masih terlalu bodoh).
3.     Pada kejadian bom Hiroshima dan Nagasaki, Indonesia berada diambang kemerdekaan dan tepat pada bulan Agustus tersebut-lah bom nuklir jatuh di Hiroshima. Pada saat itu, Indonesia dan Jepang akhirnya berada pada satu titik start yang sama karena Jepang di bom pada 2 titik terpenting negaranya dan Indonesia baru saja merdeka. Namun yang membedakan adalah pembangunan kembali Jepang dalam kurun waktu hampir 70 tahun tersebut. Sementara mereka sudah menjadi negara trendsetter, Indonesia masih saja kusut dengan masalah korupsinya.
Hal-hal yang saya pelajari dari revolusi industri adalah bahwa kreativitas manusia tidak akan pernah bisa dibatasi dan hal-hal baru terkadang muncul saat kita sedang berada diambang kehancuran atau bahkan pada saat kita sedang usil mencoba hal ini dan itu. Saat itu tentu kita tidak tahu setenar apa dan seperti apa temuan kita tersebut akan berarti, tetapi apapun yang kita temukan walaupun awalnya positif bisa saja menjadi buruk jika jatuh pada tangan orang yang salah.
Dari bom Hiroshima, saya belajar bahwa apa yang membuat sebuah bangsa begitu kuat (seperti Jepang) adalah dengan persatuan bangsa dan menjunjung hak kehidupan dasar setiap masyarakatnya. Karena dengan demikian, kemungkinan untuk mencapai kesejahteraan nasional akan lebih besar daripada jika hak kehidupan dasar setiap warga negara tidak terpenuhi. Saya juga menyadari bahwa seringkali apa yang menurut kita adalah baik malah menjadi buruk ketika di lihat orang lain. Sering terjadi salah komunikasi jika kita terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau tidak berhasil menyelaraskan persepsi pemikiran kita dengan orang lain. Setelah pengalaman buruk ini terjadi, tentu saja sikap yang dapat saya (dan tentu saja kita semua) dapat ambil adalah mencegah agar perang tidak terjadi lagi di kemudian hari dan menggunakan nuklir hanya untuk hal-hal yang positif saja (bukan untuk bom atau melakukan uji coba terhadap perilaku tertentu).
Sekian dan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar