Jika kita melihat kembali kejadian
revolusi industri pada abad ke-18 dan membandingkannya dengan pengeboman
Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945, jelas begitu besar dampak perkembangan teknologi
yang telah terjadi diantara hampir 200 tahun tersebut. Bukan salah manusia jika
pada akhirnya kaum kita sendiri telah berhasil menemukan teknologi secanggih
yang dapat kita lihat sekarang, namun memang dampak negatif yang akhirnya
ditimbulkan pada suatu titik bukanlah sesuatu yang rasional.
Sebelumnya saya tidak pernah
memiliki bayangan apapun mengenai bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan
Nagasaki maupun mengenai revolusi industri sebelum melihat video dari kejadian
tersebut walaupun guru saya pernah menyinggung hal-hal tersebut sejak saya
duduk di bangku sekolah dasar dan mengajarkannya di bangku menengah pertama. Hal
yang saya tahu adalah bahwa bom dan revolusi itu pernah terjadi dan ya sudah,
saya tidak memiliki penggambaran yang utuh akan bagaimana seseorang akhirnya
menemukan mesin uap atau bagaimana keadaan hari-hari sebelum maupun sesudah
pengeboman itu.
Saya agak
kaget ketika saya menonton video-video tersebut sekaligus bersyukur akan begitu
banyak hal. Begitu banyak hal baru yang saya pelajari dari kedua kejadian besar
ini. Jujur saja saya kaget, karena negara adidaya seperti Amerika ternyata tega
menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki. Mungkin memang menjatuhkan bom
nuklir bukanlah sebuah hal yang baik untuk dilakukan, namun jika pada akhirnya
perang usai karena bom itu, saya berpikir bahwa mungkin saja bom tersebut tidak
sepenuhnya buruk. Tetapi sekali lagi, setelah melihat begitu banyak orang
menderita akibat radiasi bom nuklir tersebut, pada akhirnya saya kembali tidak
setuju mengenai bom nuklir. Saya merasa sangat iba kepada orang-orang yang
pernah mengalami bom tersebut tetapi masih hidup hari ini karena mereka diminta
untuk membayangkan bom itu kembali dan itu saja sudah sangat mengerikan;
bagaimana jika kita harus menceritakannya kembali dan seolah mengulang apa yang
terjadi hari itu? Terlepas kekagetan saya tersebut, saya bersyukur di era
teknologi ini perang berdarah dingin seperti itu sudah selesai dan saya bukan salah
satu anak yang hidup pada waktu tersebut. Saya jadi mempunyai banyangan akan
bagaimana orang-orang yang terkena radiasi bom tersebut harus menderita untuk
bertahan hidup dan bagaimana alur cerita secara fisik.
Menurut
saya, relevansi revolusi industri dengan bom Hiroshima begitu kentara. Ada 2
perspektif yang dapat saya tangkap melalui kejadian ini:
Pertama:
jika teknologi tidak pernah ditemukan. Jika teknologi tidak pernah ada di dunia
kita, tentu saja perang tidak akan pernah terjadi. Dunia kita hari ini tidak
akan pernah semaju sekarang. Mungkin saja kan, jika tahun ini baru saja
ditemukan mesin uap. Ya, sebenarnya mengapa tidak? Namun jika teknologi
bentul-betul tidak pernah ditemukan, kemudian kita masih akan hidup dengan
lampu petromaks atau mungkin saja Indonesia tidak akan pernah merdeka – siapa
yang dapat menebak.
Kedua:
teknologi ditemukan dan dunia harus mengalami seluruh rangkaian kejadian yang
telah terjadi. Ada buruknya, ada baiknya. Indonesia sudah merdeka, dan dunia
mendapatkan kemudahan yang diperlukannya melalui telepon, internet, secara
industrial, pembangunan, dan masih banyak lainnya. Dunia menjadi lebih terang.
Dari
masa revolusi industri menuju pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, dampak yang
ditimbulkan adalah ketertarikan orang-orang Eropa untuk terus menemukan sebuah
penemuan baru yang berguna bagi masa depan. Lalu dari hari pengeboman Hiroshima
dan Nagasaki, dampak yang ditimbulkan adalah untuk Jepang menjadi negara yang
lebih maju dari sebelumnya karena mereka harus mulai membangun kembali negara mereka
dari 0 akibat bom nuklir tersebut. Dan dari masa setelah bom Hiroshima dan
Nagasaki tersebut sampai sekarang adalah pelajaran berharga bagi masyarakat
negara lain untuk belajar untuk memiliki rasa kemanusiaan yang lebih tinggi dan
untuk terus berkarya; mencetuskan ide-ide brilian baru. Dalam kata lain, jangan
pernah membiarkan kreativitas kita mati ditelan oleh waktu.
Dari
kesimpulan observasi yang saya tarik pada saat sesi tanya-jawab di kelas
sejarah dan dari buku-buku yang pernah saya baca, saya memiliki beberapa fakta
menarik mengenai revolusi industri dan bom Hiroshima kalau kita bandingkan
dengan Indonesia.
1. Inggris
merupakan negara pencetus awal mula revolusi industri pada tahun 1700-an (atau
biasa dikenal dengan abad 18) dan perang dunia pertama terjadi tidak lama setelah
kejadian penting tersebut sementara Indonesia pada tahun-tahun tersebut masih
berada dibawah jajahan negara lain. Jadi, pada saat di daerah-daerah Eropa sudah
mulai menggunakan mesin cuci, mesin pembuat roti, atau mobil secara efekif orang
Indonesia masih melakukan segala sesuatu secara tradisional bahkan mungkin
tidak mengetahui apa itu roti.
2. Pada saat
perang dunia I dan II terjadi, Indonesia juga masih berada dibawah jajahan
Belanda. Dalam kasus ini, saya melihat sebuah hal positif dari “terlalu
primitif”-nya bangsa Indonesia karena kemudian kita tidak perlu merasakan apa
yang dialami bangsa-bangsa yang berperang saat itu seperti kerugian jika kalah,
suara bom dimana-mana, dan lain sebagainya (padahal sebenarnya sih orang
Indonesia saja yang masih terlalu bodoh).
3. Pada
kejadian bom Hiroshima dan Nagasaki, Indonesia berada diambang kemerdekaan dan
tepat pada bulan Agustus tersebut-lah bom nuklir jatuh di Hiroshima. Pada saat
itu, Indonesia dan Jepang akhirnya berada pada satu titik start yang sama karena Jepang di bom pada 2 titik terpenting
negaranya dan Indonesia baru saja merdeka. Namun yang membedakan adalah
pembangunan kembali Jepang dalam kurun waktu hampir 70 tahun tersebut.
Sementara mereka sudah menjadi negara trendsetter,
Indonesia masih saja kusut dengan masalah korupsinya.
Hal-hal yang saya pelajari dari revolusi industri adalah
bahwa kreativitas manusia tidak akan pernah bisa dibatasi dan hal-hal baru
terkadang muncul saat kita sedang berada diambang kehancuran atau bahkan pada
saat kita sedang usil mencoba hal ini dan itu. Saat itu tentu kita tidak tahu
setenar apa dan seperti apa temuan kita tersebut akan berarti, tetapi apapun
yang kita temukan walaupun awalnya positif bisa saja menjadi buruk jika jatuh
pada tangan orang yang salah.
Dari bom Hiroshima, saya belajar bahwa apa yang membuat
sebuah bangsa begitu kuat (seperti Jepang) adalah dengan persatuan bangsa dan
menjunjung hak kehidupan dasar setiap masyarakatnya. Karena dengan demikian,
kemungkinan untuk mencapai kesejahteraan nasional akan lebih besar daripada
jika hak kehidupan dasar setiap warga negara tidak terpenuhi. Saya juga
menyadari bahwa seringkali apa yang menurut kita adalah baik malah menjadi
buruk ketika di lihat orang lain. Sering terjadi salah komunikasi jika kita
terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau tidak berhasil
menyelaraskan persepsi pemikiran kita dengan orang lain. Setelah pengalaman
buruk ini terjadi, tentu saja sikap yang dapat saya (dan tentu saja kita semua)
dapat ambil adalah mencegah agar perang tidak terjadi lagi di kemudian hari dan
menggunakan nuklir hanya untuk hal-hal yang positif saja (bukan untuk bom atau
melakukan uji coba terhadap perilaku tertentu).
Sekian dan terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar