Jumat, 31 Mei 2013

Biografi Pertama Gue


Agak lucu buat sih sebenernya buat gue: kenapa orang yang berjasa, orang penting atau at least seseorang yang pernah memiliki impact di dunia kita dibikinin biografi kehidupannya justru setelah mereka pergi dari dunia ini untuk selamanya. Kenapa ga sewaktu mereka masih hidup aja sih supaya orangnya sendiri juga bisa baca? Aneh.
Ada sebuah pola yang diterapkan (ato setidaknya sebuah stereotyping terselubung) dimana kalo orang penting udah meninggal atau salah satu pasangannya meninggal baru kemuadian muncul sekian puluh buku mengenai tokoh tersebut. Jasa mereka seperti baru benar-benar terasa manfaatnya saat mereka udah ngga sama-sama lagi sama kita. Padahal kan faktanya engga selalu begitu. Entah kita kurang sadar diri, atau emang gue aja yang kurang apresiasif terhadap orang-orang ini.
Mereka pada akhirnya ngga pernah tau maupun mengerti apa arti kehadiran mereka bagi orang disekeliling mereka. Ada sih, biografi yang dibuat sewaktu pahlawannya hidup, tapi ada sebanyak apa sih? Apa jumlahnya lebih banyak daripada biografi yang dibuat setelah pahlawannya menginggal? Ato mungkin gue aja kali ya yang jarang nemu buku semacem itu di deretan rak toko-toko buku. Maybe it’s right when he says that “good news are bad news and bad news are good news.” Dunia ini udah diputer balik begitu aja.
Sosok “DIA” yang baru saja gue sebutin sebagai “he” adalah wali kelas gue sendiri; wali kelas yang pernah setaun ngajarin gue dan temen-temen sewaktu SMA dulu. Beliau yang sedang gue bicarakan saat ini masih hidup dan faktanya masih muda. Kenapa gue datang dan meminta izin dari beliau mengenai entri ini siang itu? Gampang, gue mau mematahkan stereotip “kalau udah meninggal baru ada biografinya” dan memberikan kepada beliau apa yang sudah seharusnya beliau terima: tanda terimakasih yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Mr Lucas namanya; sesosok guru yang sebenernya udah gue kenal sebagai guru agama dan PPkN di sekolah gue sejak gue di bangku SMP dulu. Entah kenapa, baru kesampean tahun kemaren beliau ngajar sekaligus jadi wali kelas kita di 10a. Mr Lucas emang dari dulu tipikal seorang guru yang super strict sama muridnya dan sangat amat sangat menjunjung tinggi yang namanya “tahu batasan” dan “tanggung jawab”. Atau kalau kayak Agung Hercules bilang: “tidak goyang barbel melayang”. Ya semacem itulah Mr Lucas yang gue kenal, tapi bukan barbel yang melayang.
Mr Lucas di mata gue hampir mirip dengan guru yang mungkin baru saja didepak dari kemiliteran karena kurang memadai untuk menjadi anggota militer itu sendiri. Karena ilmu yang belum sepenuhnya matang untuk dipelajari, Mr Lucas adalah setengah guru militer yang setengahnya lagi masih memiliki jiwa petualang yang ingin mengikuti perkembangan zaman bersama dengan kami muridnya. Itu dimata gue, gak tau gimana kalo buat temen-temen yang lain.
Gue sebenernya engga ngerti gimana ini terjadi tapi setahun gue sama Mr Lucas udah membawa perubahan yang cukup signifikan dalam diri seorang gue. Ya gimana nggak mau berubah coba, orang gue pertama kali ngilangin kunci kelas waktu beliau jadi wali kelas gue. Sebagai murid yang masih ‘waras’ dan tahu diri, jujur aja gue agak-agak takut untuk ngadep Mr Lucas untuk bilang “sir kunci saya hilang” (malah kayaknya waktu itu takut banget deh seinget gue). Rasanya gue kayak udah tau salah tapi ngga mau dibacok. Akhirnya sih, dengan kehilangan dipembukaan awal tahun itu gue jadi punya 1 resolusi aneh gara-gara kejadian kunci ilang. Gue tulis: ‘gue gak mau lagi ilangin kunci loker selama sisa kelas 10.’ Bagus.
Penerawakkan pria usia 30an ini memang sudah pada dasarnya ada wibawa “tegas” dari tampangnya: kurus, putih, tinggi dan agak berotot. Dengan kacamata frame silver dan rambut klimis agak cepaknya, mr Lucas sepertinya cocok menjadi shaolin dari Indonesia. Pengalaman menarik kehidupannya telah membawa gue untuk mengerti seperti apa 30 tahunan hidupnya telah beliau habiskan dengan segala suka-duka dan harapannya. Latar belakang beliau dengan seorang ibu yang luar biasa pada waktu beliau bertumbuh di Ambon dulu, teman-temannya dan anggota keluarganya yang lain telah menjadikan guru gue ini “dia banget”. Mau kita bandingkan beliau dengan guru manapun yang pernah ngajar kita nggak akan pernah ada pengganti seseorang seperti beliau yang bisa menjadi guru kita dan “bokap” kita pada waktu yang bersamaan.  Ngga akan pernah ada yang bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar