Agak lucu
buat sih sebenernya buat gue: kenapa orang yang berjasa, orang penting atau at least seseorang yang pernah memiliki
impact di dunia kita dibikinin biografi kehidupannya justru setelah mereka
pergi dari dunia ini untuk selamanya. Kenapa ga sewaktu mereka masih hidup aja
sih supaya orangnya sendiri juga bisa baca? Aneh.
Ada sebuah
pola yang diterapkan (ato setidaknya sebuah stereotyping terselubung) dimana
kalo orang penting udah meninggal atau salah satu pasangannya meninggal baru
kemuadian muncul sekian puluh buku mengenai tokoh tersebut. Jasa mereka seperti
baru benar-benar terasa manfaatnya saat mereka udah ngga sama-sama lagi sama
kita. Padahal kan faktanya engga selalu begitu. Entah kita kurang sadar diri,
atau emang gue aja yang kurang apresiasif terhadap orang-orang ini.
Mereka pada
akhirnya ngga pernah tau maupun mengerti apa arti kehadiran mereka bagi orang
disekeliling mereka. Ada sih, biografi yang dibuat sewaktu pahlawannya hidup,
tapi ada sebanyak apa sih? Apa jumlahnya lebih banyak daripada biografi yang
dibuat setelah pahlawannya menginggal? Ato mungkin gue aja kali ya yang jarang
nemu buku semacem itu di deretan rak toko-toko buku. Maybe it’s right when he
says that “good news are bad news and bad news are good news.” Dunia ini udah
diputer balik begitu aja.
Sosok “DIA”
yang baru saja gue sebutin sebagai “he” adalah wali kelas gue sendiri; wali kelas
yang pernah setaun ngajarin gue dan temen-temen sewaktu SMA dulu. Beliau yang
sedang gue bicarakan saat ini masih hidup dan faktanya masih muda. Kenapa gue
datang dan meminta izin dari beliau mengenai entri ini siang itu? Gampang, gue
mau mematahkan stereotip “kalau udah meninggal baru ada biografinya” dan
memberikan kepada beliau apa yang sudah seharusnya beliau terima: tanda
terimakasih yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Mr Lucas
namanya; sesosok guru yang sebenernya udah gue kenal sebagai guru agama dan
PPkN di sekolah gue sejak gue di bangku SMP dulu. Entah kenapa, baru kesampean
tahun kemaren beliau ngajar sekaligus jadi wali kelas kita di 10a. Mr Lucas
emang dari dulu tipikal seorang guru yang super strict sama muridnya dan sangat
amat sangat menjunjung tinggi yang namanya “tahu batasan” dan “tanggung jawab”.
Atau kalau kayak Agung Hercules bilang: “tidak goyang barbel melayang”. Ya
semacem itulah Mr Lucas yang gue kenal, tapi bukan barbel yang melayang.
Mr Lucas di
mata gue hampir mirip dengan guru yang mungkin baru saja didepak dari
kemiliteran karena kurang memadai untuk menjadi anggota militer itu sendiri.
Karena ilmu yang belum sepenuhnya matang untuk dipelajari, Mr Lucas adalah
setengah guru militer yang setengahnya lagi masih memiliki jiwa petualang yang
ingin mengikuti perkembangan zaman bersama dengan kami muridnya. Itu dimata
gue, gak tau gimana kalo buat temen-temen yang lain.
Gue
sebenernya engga ngerti gimana ini terjadi tapi setahun gue sama Mr Lucas udah
membawa perubahan yang cukup signifikan dalam diri seorang gue. Ya gimana nggak
mau berubah coba, orang gue pertama kali ngilangin kunci kelas waktu beliau
jadi wali kelas gue. Sebagai murid yang masih ‘waras’ dan tahu diri, jujur aja
gue agak-agak takut untuk ngadep Mr Lucas untuk bilang “sir kunci saya hilang”
(malah kayaknya waktu itu takut banget deh seinget gue). Rasanya gue kayak udah
tau salah tapi ngga mau dibacok. Akhirnya sih, dengan kehilangan dipembukaan
awal tahun itu gue jadi punya 1 resolusi aneh gara-gara kejadian kunci ilang.
Gue tulis: ‘gue gak mau lagi ilangin kunci loker selama sisa kelas 10.’ Bagus.
Penerawakkan
pria usia 30an ini memang sudah pada dasarnya ada wibawa “tegas” dari
tampangnya: kurus, putih, tinggi dan agak berotot. Dengan kacamata frame silver
dan rambut klimis agak cepaknya, mr Lucas sepertinya cocok menjadi shaolin dari
Indonesia. Pengalaman menarik kehidupannya telah membawa gue untuk mengerti
seperti apa 30 tahunan hidupnya telah beliau habiskan dengan segala suka-duka
dan harapannya. Latar belakang beliau dengan seorang ibu yang luar biasa pada
waktu beliau bertumbuh di Ambon dulu, teman-temannya dan anggota keluarganya
yang lain telah menjadikan guru gue ini “dia banget”. Mau kita bandingkan
beliau dengan guru manapun yang pernah ngajar kita nggak akan pernah ada
pengganti seseorang seperti beliau yang bisa menjadi guru kita dan “bokap” kita
pada waktu yang bersamaan. Ngga akan
pernah ada yang bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar