Sabtu, 18 Juli 2015

Two Things I Learned



You know how I’ve been a sucker for inspirations.
Yak betul sekali, gue akan membahasakan diri gue sebagai orang yang “ngga bisa hidup tanpa inspirasi”.
Gue sendiri ngga mau membatasi diri gue tentang darimana gue bisa dapet inspirasi itu – in which I usually don’t. Tapi ketika ada waktunya gue mulai mengkotakkan orang dalam kategori-kategori tertentu, gue biasanya bakal balik ngebejek-bejek otak gue dulu dan bilang ke diri gue sendiri “HOY. Ngga usah ide deh. Dia juga bisa nge-inspire elu!”. Biasanya, abis itu gue bakalan ngobrol panjang lebar sama orang-orang itu dan tau-tau udah dapet aja inspirasinya.
Salah satu sarana inspirasi gue (dan mungkin juga banyak orang lain diluar sana yang gue ngga tau) adalah TEDx Talks yang pertama kali gue denger diYoutube dan sekarang gue dengerin secara reguler dipodcast handphone gue. Mereka mendatangkan pembicara dari berbagai latar belakang pekerjaan, usia, serta ras untuk berbicara didepan sekelompok orang dewasa dan menceritakan apa yang mereka lakukan dalam keseharian mereka. Ada juga pembicara yang datang karena “kelebihan” mereka; dan ada juga yang berbagi tentang concerns mereka dalam hal-hal tertetu.
Beberapa Ted Talks yang paling gue inget adalah ketika ada seorang wartawan yang memberikan privilege untuk kita “diingat selamanya” melalui sebuah file rekaman yang kita rekam di booth yang beliau sediakan. Didalam booth tersebut, kita akan menanyakan seseorang yang berarti buat kita (misalnya ibu atau ayah kita) dengan pertanyaan yang mereka bantu sediakan (atau kalo mau pertanyaan kita sendiri juga boleh – yang penting berkualitas dan mencerminkan orang yang kita wawancarai dengan baik). Rekaman itu kemudian akan diberikan satu softcopy-nya untuk kita simpan di rumah dan copy yang lain disimpan digudang yang dimiliki narasumber tersebut di US. Buat gue, ini sangat menginspirasi karena ini hampir sejalan dengan perubahan yang ingin gue lakukan untuk sekitar gue: memiliki kesempatan untuk “diingat” (atau dalam kasus ini, seperti yang dikatakan pembicara tersebut, adalah memberikan kesempatan untuk kita dikenal oleh cucu kita walaupun hanya melalui suara).
Sarana inspirasi gue yang lain adalah Youtube, sebuah sarana yang gue yakin banyak anak muda jaman sekarang pasti setuju. Untuk pelaku, mereka jadi memiliki sarana audience untuk apa yang mereka kerjakan. Dan untuk penonton, kita jadi punya ruang untuk melihat apa yang orang lain/idola kita senang lakukan (baca: dapet inspirasi).
Rambahan Youtube-pun luas banget. Segala macem kategori usia, acara dan kebutuhan ada. Gue-pun punya referensi sendiri kalo udah ngomongin Youtube. Ofkors gue mendukung orang-orang Indonesia yang punya nama diYoutube – Raditya Dika dan SkinnyIndonesian24 contohnya – tapi gue juga berharap banyak anak Indonesia lainnya bisa memiliki komitmen yang sama terhadap video yang mereka buat dan unggah kedalam Youtube. Selain video perseorangan, terkadang gue juga nonton acara televisi Indonesia melalui Youtube, seperti sebelas12 milik kompas dan beberapa lainnya.
Selain youtubers dalam negri, gue mendukung youtubers luar. Ngga, gue ngga demen PewDiePie (kecuali video dia yang main Sims dan ngejebak orang pakek kloset itu) seperti kebanyakan orang karna gue ngga biasa main game jadi gue ngga ngerti apa yang dia mainkan, tapi gue punya beberapa nama lain yang sampe hari ini masih gue subscribe. Ryan Higa (dan crew-nya), Julien Solomita (pacarnya Jenna Marbles), Sonia dari Jayesslee (dia punya vlog sekarang), Pentatonix (yang belom lama ini gue nonton konsernya ciee), dan Todrick Hall. Mereka semua berarti buat gue karna gue bisa relate sama apa yang mereka bicarakan. Gue bisa ngerti apa yang mereka omongin, gue menyukai karya mereka, atau yah buat sekedar tertawa dan support atas kreativitas mereka yang keren abis aja sampe bisa disubscribe banyak orang begitu. Dari mereka, gue makin sadar bahwa hasil semua yang mereka tuai itu ngga datang tanpa usaha. Konten yang mereka kasih divideo-video mereka juga harus berbobot.
Salah satu youtuber luar negri yang belakangan ini banyak kepikiran sama gue adalah Todrick Hall, salah satu African American yang bisa dibilang sukses dengan video-video yang dia buat. Seinget gue, gue mulai empati sama Todrick ini ketika gue nonton salah satu videonya yang berjudul “Dear Santa”; tahun 2013 lalu. Singkatnya, video itu adalah lagu yang ‘ceritanya’ dia buat untuk santa dan dia minta supaya santa membawa kedamaian ekstra buat dunia. Lagu-lagu yang ada dichannelnya ada beberapa yang dia bikin sendiri dan nancepnya bukan main – he have just made a song anyone can relate to and it is just as sincere, dan banyak lainnya dia medley/remix dari yang udah ada. Keren lah pokoknya.
Harus gue akui, untuk come up with ideas yang keren-keren dan berbobot begitu juga ngga gampang. Gue sendiri ngerasain yang namanya “the struggle of a writer” (ceileh). Gue ngerti yang namanya ngga ada ide itu gimana rasanya (baca: mentok); yang namanya ‘udah ada ide tapi males banget nulis’ itu gimana; yang namanya nyari konten yang “worthy of someone’s time” itu susahnya gimana juga. Tapi dari semua orang yang pernah gue dengarkan ceritanya (both on youtube and Ted Talks), gue belajar dua hal dari mereka: ngga ada satu hal-pun didunia ini yang datang tanpa perlawanan (atau, kalo yang tadi gue bilang, “tanpa usaha”). Bahwa kalo kita mau menyediakan telinga untuk orang lain, maka terkadang itu udah cukup untuk membuat mereka merasa appreciated dan noticed.
Emang sih, kalo ngomong doang mah gampang – actionnya setengah mampus. Tapi as far as I’m concerned, diluar hal-hal tentang cinta monyet yang gue tulis disini, gue hanya menulis hal-hal yang gue tau bakal bisa gue lakukan atau sudah gue lakukan sejauh yang bisa gue inget.
With that being said, let’s work our asses off, kiddos! GOODLUCK! –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar