You know how
I’ve been a sucker for inspirations.
Yak betul
sekali, gue akan membahasakan diri gue sebagai orang yang “ngga bisa hidup
tanpa inspirasi”.
Gue sendiri
ngga mau membatasi diri gue tentang darimana gue bisa dapet inspirasi itu – in
which I usually don’t. Tapi ketika ada waktunya gue mulai mengkotakkan orang
dalam kategori-kategori tertentu, gue biasanya bakal balik ngebejek-bejek otak
gue dulu dan bilang ke diri gue sendiri “HOY. Ngga usah ide deh. Dia juga bisa
nge-inspire elu!”. Biasanya, abis itu gue bakalan ngobrol panjang lebar sama
orang-orang itu dan tau-tau udah dapet aja inspirasinya.
Salah satu
sarana inspirasi gue (dan mungkin juga banyak orang lain diluar sana yang gue
ngga tau) adalah TEDx Talks yang pertama kali gue denger diYoutube dan
sekarang gue dengerin secara reguler dipodcast handphone gue. Mereka
mendatangkan pembicara dari berbagai latar belakang pekerjaan, usia, serta ras
untuk berbicara didepan sekelompok orang dewasa dan menceritakan apa yang
mereka lakukan dalam keseharian mereka. Ada juga pembicara yang datang karena
“kelebihan” mereka; dan ada juga yang berbagi tentang concerns mereka dalam hal-hal tertetu.
Beberapa Ted
Talks yang paling gue inget adalah ketika ada seorang wartawan yang memberikan
privilege untuk kita “diingat selamanya” melalui sebuah file rekaman yang kita
rekam di booth yang beliau sediakan. Didalam booth tersebut, kita akan
menanyakan seseorang yang berarti buat kita (misalnya ibu atau ayah kita)
dengan pertanyaan yang mereka bantu sediakan (atau kalo mau pertanyaan kita
sendiri juga boleh – yang penting berkualitas dan mencerminkan orang yang kita
wawancarai dengan baik). Rekaman itu kemudian akan diberikan satu softcopy-nya untuk kita simpan di rumah dan
copy yang lain disimpan digudang yang dimiliki narasumber tersebut di US. Buat
gue, ini sangat menginspirasi karena ini hampir sejalan dengan perubahan yang
ingin gue lakukan untuk sekitar gue: memiliki kesempatan untuk “diingat” (atau
dalam kasus ini, seperti yang dikatakan pembicara tersebut, adalah memberikan
kesempatan untuk kita dikenal oleh cucu kita walaupun hanya melalui suara).
Sarana
inspirasi gue yang lain adalah Youtube, sebuah sarana yang gue yakin
banyak anak muda jaman sekarang pasti setuju. Untuk pelaku, mereka jadi
memiliki sarana audience untuk apa yang mereka kerjakan. Dan untuk penonton,
kita jadi punya ruang untuk melihat apa yang orang lain/idola kita senang
lakukan (baca: dapet inspirasi).
Rambahan Youtube-pun
luas banget. Segala macem kategori usia, acara dan kebutuhan ada. Gue-pun punya
referensi sendiri kalo udah ngomongin Youtube. Ofkors gue mendukung orang-orang
Indonesia yang punya nama diYoutube – Raditya Dika dan SkinnyIndonesian24
contohnya – tapi gue juga berharap banyak anak Indonesia lainnya bisa memiliki
komitmen yang sama terhadap video yang mereka buat dan unggah kedalam Youtube. Selain
video perseorangan, terkadang gue juga nonton acara televisi Indonesia melalui
Youtube, seperti sebelas12 milik kompas dan beberapa lainnya.
Selain
youtubers dalam negri, gue mendukung youtubers luar. Ngga, gue ngga demen
PewDiePie (kecuali video dia yang main Sims dan ngejebak orang pakek kloset
itu) seperti kebanyakan orang karna gue ngga biasa main game jadi gue ngga
ngerti apa yang dia mainkan, tapi gue punya beberapa nama lain yang sampe hari
ini masih gue subscribe. Ryan Higa (dan crew-nya), Julien Solomita (pacarnya
Jenna Marbles), Sonia dari Jayesslee (dia punya vlog sekarang), Pentatonix
(yang belom lama ini gue nonton konsernya ciee), dan Todrick Hall. Mereka semua
berarti buat gue karna gue bisa relate
sama apa yang mereka bicarakan. Gue bisa ngerti apa yang mereka omongin, gue
menyukai karya mereka, atau yah buat sekedar tertawa dan support atas kreativitas mereka yang keren abis aja sampe bisa
disubscribe banyak orang begitu. Dari mereka, gue makin sadar bahwa hasil semua
yang mereka tuai itu ngga datang tanpa usaha. Konten yang mereka kasih
divideo-video mereka juga harus berbobot.
Salah satu
youtuber luar negri yang belakangan ini banyak kepikiran sama gue adalah
Todrick Hall, salah satu African American yang bisa dibilang sukses dengan
video-video yang dia buat. Seinget gue, gue mulai empati sama Todrick ini
ketika gue nonton salah satu videonya yang berjudul “Dear Santa”; tahun 2013
lalu. Singkatnya, video itu adalah lagu yang ‘ceritanya’ dia buat untuk santa
dan dia minta supaya santa membawa kedamaian ekstra buat dunia. Lagu-lagu yang
ada dichannelnya ada beberapa yang dia bikin sendiri dan nancepnya bukan main –
he have just made a song anyone can relate to and it is just as sincere, dan
banyak lainnya dia medley/remix dari yang udah ada. Keren lah pokoknya.
Harus gue
akui, untuk come up with ideas yang keren-keren dan berbobot begitu juga ngga
gampang. Gue sendiri ngerasain yang namanya “the struggle of a writer”
(ceileh). Gue ngerti yang namanya ngga ada ide itu gimana rasanya (baca:
mentok); yang namanya ‘udah ada ide tapi males banget nulis’ itu gimana; yang
namanya nyari konten yang “worthy of someone’s time” itu susahnya gimana juga.
Tapi dari semua orang yang pernah gue dengarkan ceritanya (both on youtube and
Ted Talks), gue belajar dua hal dari mereka: ngga ada satu hal-pun didunia ini
yang datang tanpa perlawanan (atau, kalo yang tadi gue bilang, “tanpa usaha”).
Bahwa kalo kita mau menyediakan telinga untuk orang lain, maka terkadang itu udah
cukup untuk membuat mereka merasa appreciated
dan noticed.
Emang sih,
kalo ngomong doang mah gampang – actionnya setengah mampus. Tapi as far as I’m concerned, diluar hal-hal
tentang cinta monyet yang gue tulis disini, gue hanya menulis hal-hal yang gue
tau bakal bisa gue lakukan atau sudah gue lakukan sejauh yang bisa gue inget.
With that
being said, let’s work our asses off, kiddos! GOODLUCK! –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar