Fair warning:
this might make you slightly uninterested in watching the actual movie. But for
the sake of “I enjoyed it at a rate of 9.5/10”, this is going to be something
worthy of your time.
Let’s rock.
Hari ini gue
bakal membahas tentang film para komika Indonesia yang kedua setelah filmnya
yang pertama keluar tahun lalu. Gue akan membahasnya bukan plot-wise because it would give away too much
information but rather tentang
apa yang gue suka dan ngga suka dari film ini. Jadi ini purely opini gue seorang.
Semua berawal
setelah gue sadar bahwa setengah tahun ini gue kebanyakan nonton film yang
menurut gue kurang membuat tertawa. Malah, dari semua yang gue tonton itu, baru
film ini yang urusannya Indonesa tercinta. Dan setelah setelah setengah tahun
inilah akhirnya pada titik ini gue menemukan film yang layak untuk tawa gue:
Comic 8 Casino King *tepok tangan*.
Oke, kita
mulai dari yang “suka”nya dulu deh ya.
Pertama. Roll diawal
untuk memperkenalkan aktor dan aktrisnya harus gue akui cukup cerdas. Tiga
perempat perkenalan, gue mikir “wah kalo abis credits roll ini malah pelemnya
udahan sih ngga lucu loh gue bayar 40 rebu”. UNTUNG PELEMNYA MULAI. Gue bersyukur
banget 40 rebu ini ngga bikin nyesel.
Kedua. Untuk
film Indonesia, this movie is downright
fun and presentable kalo harus kita bandingin sama film-film kita yang
selalu dipenuhi urusan setan akil balig. “Fun” menurut gue karna plot twist dan
konsep film ini berbeda; terutama untuk film box office.
Ketiga. Hands
down untuk “not too much voice over” ngga penting, not too “much zoom-in
dramatis”, and most importantly, placing the right puns at the right time.
Dirty jokesnya juga cadas mamak!
Keempat.
Actingnya pada gokil semua ih bangga deh. It’s like all of them have trained
their whole lives for this (walopun masi ada yang agak canggung). But they
definitely know how to treat a funny movie serious.
Kelima. The
movie gives the “OOOOHHH, jadi ini yang dimaksud diawal toh...” Good stuff we
didn’t find in a lot of American movies anymore. Atau kalopun ada, ngga secara
sadar yang langsung snap.
Keenam.
Beneran nyelipin stand up comedy disela film? GENIUS! Pas disitu seisi bioskop
meledak dengan tawa. Pantesan bang Pandji pernah bilang “love it live”. Emang
lebih asik kalo udah ngumpul sama orang-orang yang nikmatin karya yang sama.
Ketujuh. The surprises were kreizi good. Terutama
pas yang main biola itu buka tutupan mulutnya. Gue masih senyum-senyum sendiri
kalo nginget bagian itu. I DID NOT SEE
THAT COMING like, a hundred percent fun surprise. Jujur, malah kayaya gue
paling ngakak dibagian situ deh.
Alright. Sekarang
masuk ke bagian yang gue kurang suka.
Pertama. Untuk
bagian introductionnya, menurut gue bagian yang mereka di hutan itu terlalu
panjang sehingga penonton mulai resah duduk bahkan pas baru setengah bagiannya.
Entah itu disengaja atau engga, tapi itu agak membuat mood gue agak kurang enak
(walaupun abis itu sih lupa juga gegara ketawa). Interval antara keluarnya satu
komika dengan komika lain terlalu panjang waktunya.
Kedua. Masih
soal intro, menurut gue intronya bener-bener membingungkan. Apalagi setelah mulai
ngikutin “kehidupan hutan” mereka trus tiba-tiba ada transisi ke kehidupan
nyata, nah itu ‘weh ini apaan weh??’. Entah gimana caranya supaya lebih baik
kedepannya, tapi yang pasti kalo transisi itu bisa dibuat dengan lebih baik,
maka gue yakin LPMnya bisa jauh lebih tinggi juga.
Ketiga. Maaf
kalo gue banyak kritisi bagian intro, tapi karena intro memegang peran penting
untuk mood selanjutnya dalam film, gue menemukan hal ketiga masih datang dari
situ: ada yang masih bisa diperbaiki yaitu masalah animasinya yang keliatan
banget bahwa scene tersebut murni hanya trik kamera saja. Begitu.
Keempat. Ini
yang terakhir soal intro dan segala bagian yang menyangkut scene hutan, sumpah.
Bagian itu terlalu membuat gue teringat pada film “The Hunger Games” dan ini
membuat gue berpikir “lho kok konsep bagian situnya sama 90%-nya, sih...” Entah
apakah ada maksud seperti itu atau tidak, tapi gue mulai menyadari kesamaan
konsep itu setelah sesi hutn selesai. Gue bisa mengerti bahwa bagian yang ini
tidak akan bisa diubah karna menyangkut film lanjutannya maka gue akan
memaklumi walaupun gue tetap kurang suka. Seharusnya bisa lebih inventif,
begitu saja.
Kelima. Ada
beberapa scene yang masih terlalu sinetron. Sebenernya ada bagusnya sih
“terlalu sinetron” ini karna nunjukkin sisi Indonesianya. Tapi rada eneg gitu
deh jatohnya – kayak echo pas si King ngomong; itu agak ngga perlu menurut gue.
Keenam. There
are some American point of view yang dicekokin secara ngga sadar ke masyarakat
(entah orang lain sadar atau engga) dan gue kurang setuju sama itu (re. Bang
Isman ngaku “saya homo”).
Udah kok, yang
gue kurang suka sekian aja. Selebihnya sih gue puas nontonnya. There are more
things yang bisa gue apresiasi daripada hanya mengkritisi dan ngga membantu
apa-apa selain daripada cuap-cuap kosong. Gue berharap dalam bagian Comic 8 yang berikutnya hal-hal yang gue tidak
sukai ini bisa dikurangi supaya kepuasan penonton amatir semacem gue bisa lebih
puas lagi.
Sekian opini
gue dan selamat tertawa bagi yang belum! –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar