Kamis, 23 Juli 2015

Comic 8 Review: Casino Kings



Fair warning: this might make you slightly uninterested in watching the actual movie. But for the sake of “I enjoyed it at a rate of 9.5/10”, this is going to be something worthy of your time.
Let’s rock.
Hari ini gue bakal membahas tentang film para komika Indonesia yang kedua setelah filmnya yang pertama keluar tahun lalu. Gue akan membahasnya bukan plot-wise because it would give away too much information but rather tentang apa yang gue suka dan ngga suka dari film ini. Jadi ini purely opini gue seorang.
Semua berawal setelah gue sadar bahwa setengah tahun ini gue kebanyakan nonton film yang menurut gue kurang membuat tertawa. Malah, dari semua yang gue tonton itu, baru film ini yang urusannya Indonesa tercinta. Dan setelah setelah setengah tahun inilah akhirnya pada titik ini gue menemukan film yang layak untuk tawa gue: Comic 8 Casino King *tepok tangan*.
Oke, kita mulai dari yang “suka”nya dulu deh ya.
Pertama. Roll diawal untuk memperkenalkan aktor dan aktrisnya harus gue akui cukup cerdas. Tiga perempat perkenalan, gue mikir “wah kalo abis credits roll ini malah pelemnya udahan sih ngga lucu loh gue bayar 40 rebu”. UNTUNG PELEMNYA MULAI. Gue bersyukur banget 40 rebu ini ngga bikin nyesel.
Kedua. Untuk film Indonesia, this movie is downright fun and presentable kalo harus kita bandingin sama film-film kita yang selalu dipenuhi urusan setan akil balig. “Fun” menurut gue karna plot twist dan konsep film ini berbeda; terutama untuk film box office.
Ketiga. Hands down untuk “not too much voice over” ngga penting, not too “much zoom-in dramatis”, and most importantly, placing the right puns at the right time. Dirty jokesnya juga cadas mamak!
Keempat. Actingnya pada gokil semua ih bangga deh. It’s like all of them have trained their whole lives for this (walopun masi ada yang agak canggung). But they definitely know how to treat a funny movie serious.
Kelima. The movie gives the “OOOOHHH, jadi ini yang dimaksud diawal toh...” Good stuff we didn’t find in a lot of American movies anymore. Atau kalopun ada, ngga secara sadar yang langsung snap.
Keenam. Beneran nyelipin stand up comedy disela film? GENIUS! Pas disitu seisi bioskop meledak dengan tawa. Pantesan bang Pandji pernah bilang “love it live”. Emang lebih asik kalo udah ngumpul sama orang-orang yang nikmatin karya yang sama.
Ketujuh. The surprises were kreizi good. Terutama pas yang main biola itu buka tutupan mulutnya. Gue masih senyum-senyum sendiri kalo nginget bagian itu. I DID NOT SEE THAT COMING like, a hundred percent fun surprise. Jujur, malah kayaya gue paling ngakak dibagian situ deh.
Alright. Sekarang masuk ke bagian yang gue kurang suka.
Pertama. Untuk bagian introductionnya, menurut gue bagian yang mereka di hutan itu terlalu panjang sehingga penonton mulai resah duduk bahkan pas baru setengah bagiannya. Entah itu disengaja atau engga, tapi itu agak membuat mood gue agak kurang enak (walaupun abis itu sih lupa juga gegara ketawa). Interval antara keluarnya satu komika dengan komika lain terlalu panjang waktunya.
Kedua. Masih soal intro, menurut gue intronya bener-bener membingungkan. Apalagi setelah mulai ngikutin “kehidupan hutan” mereka trus tiba-tiba ada transisi ke kehidupan nyata, nah itu ‘weh ini apaan weh??’. Entah gimana caranya supaya lebih baik kedepannya, tapi yang pasti kalo transisi itu bisa dibuat dengan lebih baik, maka gue yakin LPMnya bisa jauh lebih tinggi juga.
Ketiga. Maaf kalo gue banyak kritisi bagian intro, tapi karena intro memegang peran penting untuk mood selanjutnya dalam film, gue menemukan hal ketiga masih datang dari situ: ada yang masih bisa diperbaiki yaitu masalah animasinya yang keliatan banget bahwa scene tersebut murni hanya trik kamera saja. Begitu.
Keempat. Ini yang terakhir soal intro dan segala bagian yang menyangkut scene hutan, sumpah. Bagian itu terlalu membuat gue teringat pada film “The Hunger Games” dan ini membuat gue berpikir “lho kok konsep bagian situnya sama 90%-nya, sih...” Entah apakah ada maksud seperti itu atau tidak, tapi gue mulai menyadari kesamaan konsep itu setelah sesi hutn selesai. Gue bisa mengerti bahwa bagian yang ini tidak akan bisa diubah karna menyangkut film lanjutannya maka gue akan memaklumi walaupun gue tetap kurang suka. Seharusnya bisa lebih inventif, begitu saja.
Kelima. Ada beberapa scene yang masih terlalu sinetron. Sebenernya ada bagusnya sih “terlalu sinetron” ini karna nunjukkin sisi Indonesianya. Tapi rada eneg gitu deh jatohnya – kayak echo pas si King ngomong; itu agak ngga perlu menurut gue.
Keenam. There are some American point of view yang dicekokin secara ngga sadar ke masyarakat (entah orang lain sadar atau engga) dan gue kurang setuju sama itu (re. Bang Isman ngaku “saya homo”).
Udah kok, yang gue kurang suka sekian aja. Selebihnya sih gue puas nontonnya. There are more things yang bisa gue apresiasi daripada hanya mengkritisi dan ngga membantu apa-apa selain daripada cuap-cuap kosong. Gue berharap dalam bagian Comic 8 yang berikutnya hal-hal yang gue tidak sukai ini bisa dikurangi supaya kepuasan penonton amatir semacem gue bisa lebih puas lagi.
Sekian opini gue dan selamat tertawa bagi yang belum! –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar