Aku pernah
jatuh cinta.
Aku pernah
berada pada posisi dimana aku begitu mengagung-agungkan sesosok manusia yang
aku lupakan ketidak-sempurnaannya.
Walaupun aku
benci harus mengatakan ini, tetapi jatuh cinta memang menyenangkan. Cinta
membuat segala sesuatu yang aku lakukan seolah berarti begitu besar – seolah
seluruh kisah didunia ini hanya bercerita tentang kita berdua.
Jatuh cinta
menjadi sesuatu yang menyenangkan karna kita merasa bahagia karna ada seseorang
lain yang tertarik pada kita; karna kita akhirnya bisa bertukar perasaan yang
sama terhadap pasangan; karna kita akhirnya merasakan “selalu berada pada awan
kesembilan”. Jatuh cinta itu menyenangkan, karena untuk sekali itu dalam masa
hidup kita kita merasa bahwa kita sudah menemukan “rumah”.
Satu paket
dengan kebahagiaan, jatuh cinta juga seringkali membingungkan.
Bingung –
karna rasanya aku sudah mengenal segala tidak tanduknya namun ternyata itu
bukanlah dirinya yang sebenarnya. Masih ada lapisan lain yang belum aku ketahui
tentang perilaku dan tata bahasanya. Bingung harus melakukan apa ketika
dikecewakan; bingung bagaimana harus membuatnya senang lagi setelah sebuah
perselisihan; bingung apa yang kita berdua inginkan untuk kedepannya. Bingung,
harus mempercayai sisi mana dari dirinya agar aku tetap bertahan.
Namun jatuh
cinta juga berarti mengorbankan perasaan ini untuk dipermainkan. Untuk
merasakan apa yang orang-orang sebut sebagai “sakit hati”.
Sakit, karna
hubungan ini bukannya berakhir dipelaminan. Sakit, karna kebohongan yang selama
ini ditumpuk. Sakit, karna terus-menerus mengakibatkan goresan. Sakit, karna
ketika goresan yang sudah ada belum pulih sudah disusul oleh goresan baru. Sakit,
karna dia memutuskan untuk mencari rumah lain yang lebih nyaman untuk dijadikan
alternatif sebelum mengakhiri hubungan yang kita bangun bersama.
Sakit hati
membuatku berpikir lagi bahwa sebenarnya dunia tidak setertarik itu pada kisah
cintaku – bahwa aku hanyalah sebuah daun pada sebuah pohon dari berjuta-juta
pohon yang ada disebuah benua.
Sakit hati
membuatku ragu akan adanya “cinta sejati”.
Sakit hati membuatku
tidak ingin jatuh lagi.
Sakit hati
membuatku merasa terbebani dengan segala goresan yang ada sehingga aku
membiarkan luka itu nampak tanpa berusaha untuk memperbaikinya lagi.
Yang paling
parah adalah, sakit hati membuatku berhenti mempercayai bahwa aku mampu jatuh
cinta seperti ini lagi.
...
Jika aku boleh
membandingkan urusan cinta ini dengan apapun, jatuh cinta dan disakiti terasa
seperti membeli sepatu olahraga baru yang kita inginkan.
Ketika aku
memakai sepatu tersebut untuk pertama kalinya dan terluka karena gesekan, aku
memiliki 2 pilihan: untuk langsung menyerah dan tidak berolahraga lagi atau
untuk memaksakan diri walaupun luka tersebut belum sembuh dan masih terasa sakit.
Untukku, aku
memilih opsi kedua dimana aku akan memaksakan diri. Aku tahu ada sesuatu
tentang perjuanganku selama ini untuk mendapatkan sepatu baru itu dan aku tidak
mungkin menyerah begitu saja. Aku akan memaksakan diriku dan mencari posisi
nyaman walaupun terluka dengan resiko luka itu malah bertambah lebar daripada
sembuh.
Walaupun rasa
sakit itu terus menghantui seiring dengan setiap langkah yang kuambil, aku
semakin ingin melangkah lebih jauh. Aku ingin merasa terbiasa dengan rasa sakit
itu sampai tidak ada lagi sakit yang tersisa. Terkadang, aku pikir aku malah
merasa lebih nyaman ketika ada rasa sakit yang menyertai daripada ketika tidak.
Tekadku cukup bulat untuk membuat rasa sakit ciut terhadap perlawananku.
Namun aku juga
tidak sabar ingin sembuh. Aku tidak sabar ingin melihat apa yang terjadi ketika
sepasang sepatu ini akhirnya mengizinkanku untuk merasakan kenyamanan yang utuh.
...
Sepatu baru
itu lama kelamaan akan berumur seiring dengan waktu kita bertumbuh bersamanya.
Walaupun sudah
tidak sesering dulu dalam menggunakannya lagi, aku seringkali hanya membiarkan
sepatu itu duduk di lemari. Aku tidak membuangnya karna aku terlalu sayang
dengan segala perjuangan yang telah aku lalui bersama sepatu itu. Aku ingin
mengingat, dan caraku mengingat adalah dengan menyimpannya dan tidak
mengizinkannya berpindah lebih jauh lagi. Ternyata kebiasaan “menyimpan dan
membiarkan” ini adalah sesuatu yang salah.
Jika aku sudah
tidak merasa nyaman lagi, seharusnya aku memberikan sepatu itu kepada orang
lain. Walaupun bekas, namun orang lain berhak merasakan juga sensasi yang
pernah aku rasakan bersama si sepatu daripada hanya aku biarkan rusak didalam
lemari – usang dan tidak berguna lagi.
Kecuali jika
aku mau mempertahankan (dan bahkan meningkatkan waktuku bersama si sepatu layaknya
ketika baru beli) maka aku berhak menyimpannya untuk diriku sendiri. Menurutku
itu sama halnya dengan jatuh cinta. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar