Kamis, 23 Juli 2015

Mengenai Jatuh Cinta



Aku pernah jatuh cinta.
Aku pernah berada pada posisi dimana aku begitu mengagung-agungkan sesosok manusia yang aku lupakan ketidak-sempurnaannya.
Walaupun aku benci harus mengatakan ini, tetapi jatuh cinta memang menyenangkan. Cinta membuat segala sesuatu yang aku lakukan seolah berarti begitu besar – seolah seluruh kisah didunia ini hanya bercerita tentang kita berdua.
Jatuh cinta menjadi sesuatu yang menyenangkan karna kita merasa bahagia karna ada seseorang lain yang tertarik pada kita; karna kita akhirnya bisa bertukar perasaan yang sama terhadap pasangan; karna kita akhirnya merasakan “selalu berada pada awan kesembilan”. Jatuh cinta itu menyenangkan, karena untuk sekali itu dalam masa hidup kita kita merasa bahwa kita sudah menemukan “rumah”.
Satu paket dengan kebahagiaan, jatuh cinta juga seringkali membingungkan.
Bingung – karna rasanya aku sudah mengenal segala tidak tanduknya namun ternyata itu bukanlah dirinya yang sebenarnya. Masih ada lapisan lain yang belum aku ketahui tentang perilaku dan tata bahasanya. Bingung harus melakukan apa ketika dikecewakan; bingung bagaimana harus membuatnya senang lagi setelah sebuah perselisihan; bingung apa yang kita berdua inginkan untuk kedepannya. Bingung, harus mempercayai sisi mana dari dirinya agar aku tetap bertahan.
Namun jatuh cinta juga berarti mengorbankan perasaan ini untuk dipermainkan. Untuk merasakan apa yang orang-orang sebut sebagai “sakit hati”.
Sakit, karna hubungan ini bukannya berakhir dipelaminan. Sakit, karna kebohongan yang selama ini ditumpuk. Sakit, karna terus-menerus mengakibatkan goresan. Sakit, karna ketika goresan yang sudah ada belum pulih sudah disusul oleh goresan baru. Sakit, karna dia memutuskan untuk mencari rumah lain yang lebih nyaman untuk dijadikan alternatif sebelum mengakhiri hubungan yang kita bangun bersama.
Sakit hati membuatku berpikir lagi bahwa sebenarnya dunia tidak setertarik itu pada kisah cintaku – bahwa aku hanyalah sebuah daun pada sebuah pohon dari berjuta-juta pohon yang ada disebuah benua.
Sakit hati membuatku ragu akan adanya “cinta sejati”.
Sakit hati membuatku tidak ingin jatuh lagi.
Sakit hati membuatku merasa terbebani dengan segala goresan yang ada sehingga aku membiarkan luka itu nampak tanpa berusaha untuk memperbaikinya lagi.
Yang paling parah adalah, sakit hati membuatku berhenti mempercayai bahwa aku mampu jatuh cinta seperti ini lagi.
...
Jika aku boleh membandingkan urusan cinta ini dengan apapun, jatuh cinta dan disakiti terasa seperti membeli sepatu olahraga baru yang kita inginkan.
Ketika aku memakai sepatu tersebut untuk pertama kalinya dan terluka karena gesekan, aku memiliki 2 pilihan: untuk langsung menyerah dan tidak berolahraga lagi atau untuk memaksakan diri walaupun luka tersebut belum sembuh dan masih terasa sakit.
Untukku, aku memilih opsi kedua dimana aku akan memaksakan diri. Aku tahu ada sesuatu tentang perjuanganku selama ini untuk mendapatkan sepatu baru itu dan aku tidak mungkin menyerah begitu saja. Aku akan memaksakan diriku dan mencari posisi nyaman walaupun terluka dengan resiko luka itu malah bertambah lebar daripada sembuh.
Walaupun rasa sakit itu terus menghantui seiring dengan setiap langkah yang kuambil, aku semakin ingin melangkah lebih jauh. Aku ingin merasa terbiasa dengan rasa sakit itu sampai tidak ada lagi sakit yang tersisa. Terkadang, aku pikir aku malah merasa lebih nyaman ketika ada rasa sakit yang menyertai daripada ketika tidak. Tekadku cukup bulat untuk membuat rasa sakit ciut terhadap perlawananku.
Namun aku juga tidak sabar ingin sembuh. Aku tidak sabar ingin melihat apa yang terjadi ketika sepasang sepatu ini akhirnya mengizinkanku untuk merasakan kenyamanan yang utuh.
...
Sepatu baru itu lama kelamaan akan berumur seiring dengan waktu kita bertumbuh bersamanya.
Walaupun sudah tidak sesering dulu dalam menggunakannya lagi, aku seringkali hanya membiarkan sepatu itu duduk di lemari. Aku tidak membuangnya karna aku terlalu sayang dengan segala perjuangan yang telah aku lalui bersama sepatu itu. Aku ingin mengingat, dan caraku mengingat adalah dengan menyimpannya dan tidak mengizinkannya berpindah lebih jauh lagi. Ternyata kebiasaan “menyimpan dan membiarkan” ini adalah sesuatu yang salah.
Jika aku sudah tidak merasa nyaman lagi, seharusnya aku memberikan sepatu itu kepada orang lain. Walaupun bekas, namun orang lain berhak merasakan juga sensasi yang pernah aku rasakan bersama si sepatu daripada hanya aku biarkan rusak didalam lemari – usang dan tidak berguna lagi.
Kecuali jika aku mau mempertahankan (dan bahkan meningkatkan waktuku bersama si sepatu layaknya ketika baru beli) maka aku berhak menyimpannya untuk diriku sendiri. Menurutku itu sama halnya dengan jatuh cinta. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar