Gue adalah
tipe orang yang kalo udah suka sama sesuatu hal akan mengagungkan hal itu sampe
gue menemukan hal serupa dengan benda yang biasanya tapi lebih menyenangkan dan
lebih menguntungkan buat gue. Kenapa menyenangkan? Karna kalo ngga
menyenangkan, benda tersebut ngga akan bertahan lama sebelum akhirnya gue
biarkan berdebu dilemari. Dan kenapa menguntungkan? Karna gue bosenan itulah
makanya mending cari yang murah biar ngga rugi-rugi amat kalo udah bosen. Hal-hal
yang masuk kategori “menyenangkan dan menguntungkan” adalah mainan (waktu kecil
dulu, ofkors), hal-hal yang lagi ngetren, fashion, dan beberapa hal lainnya
yang bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang sifatnya ‘numpang lewat’.
Kalau untuk
urusan benda yang akan gue gunakan untuk jangka waktu lebih dari setahun, gue
biasanya lebih mengutamakan kenyamanan untuk hal tersebut.
Salah satu
contohnya adalah soal pemilihan sepatu.
Gue ini
orangnya demen banget kalo udah disuruh jalan dan ngeliat-ngeliat sepatu
olahraga ataupun apapun yang berhubungan dengan sepatu. Entah kenapa, dari
kecil gue memiliki ketertarikan tersendiri terhadap sepatu. Salah satu kejadian
yang paling gue inget soal sepatu adalah ketika gue milih sendiri sepatu
sekolah gue kelas 5 SD. Waktu itu, gue milih sebuah sepatu dari merek Tomkins® karna gue melihat salah satu temen baik gue (cewek) menggunakan sepatu
tersebut dan jujur saja terlihat keren ketika dia menggunakannya. Ketika
akhirnya gue beli sepatu yang sama seperti yang temen gue pakai, gue mengerti
bahwa sepatu tersebut selain stylish
ternyata juga nyaman dan praktis. Sejak saat itu, kalau mencari sepatu baru
untuk sekolah gue akan mencari sepatu yang sama persis seperti yang gue gunakan
saat itu. Sayangnya, Tomkins® tidak pernah memproduksi sepatu
itu lagi selepas gue lulus SD. Pengalaman menyenangkan ketika gue kelas 5 SD ini
berdampak besar pada kehidupan pemilihan sepatu gue dimasa selanjutnya; dan
semua berawal dari kata “keliatannya keren”.
Sepatu sekolah
gue ngga akan berubah haluan dari Converse® kalau sekolah tidak mengeluarkan
peraturan “harus hitam menyeluruh” pada akhir masa SMP gue. Gue ngga akan
berubah haluan dari adidas® kalau gue mendapatkan sepatu lari yang warna dan
harganya sesuai dengan kepribadian gue. Dua-duanya adalah merek yang memberikan
gue rasa nyaman itu. Masalahnya, terkadang ada beberapa keputusan yang kita
pribadi maupun orang lain buat untuk kita agar kita mencari merek lain yang
terkadang malah tidak jauh berbeda rasa nyamannya. Kadang, walaupun sudah
mendapat sesuatu yang baru dan sudah nyaman pun, kita ngga akan pernah move on dari hal pertama yang membuat
kita jatuh cinta.
Contoh lainnya
adalah pemilihan handphone (atau alat elektronik lainnya).
Gue adalah
tipe orang yang suka mengikuti perkembangan gadget melalui apa yang kebanyakan
masyarakat pakai ketimbang jika harus mensurvei sendiri ke toko handphone dan
memilih dari berbagai jenis barang yang ada – intinya sama seperti ketika gue
pertama kali melihat sahabat gue memakai sepatu yang menurut gue “terlihat
keren”.
Berbeda dengan
sepatu yang pilihannya terlalu luas, gue sebenarnya sudah memiliki refrensi
tersendiri jika kita membicarakan tentang elektronika: Apple®. Menurut gue,
selain “keren”, Apple® memiliki sebuah keuntungan dalam ‘langkah awal’ dalam
hal pemasaran pada masyarakat sehingga apapun yang terjadi, mereka akan selalu
memiliki keunggulan satu langkah tersebut – entah lebih baik dalam packaging
maupun dalam hal lainnya. Harus gue akui bahwa para pemasar Apple® memilki
keunggulan dalam membuat produk mereka terlihat “baru pernah ada” padahal
seringkali trik yang digunakan hanyalah packaging yang lebih keren atau sistem
yang lebih canggih. Walaupun demikian, gue masih membeli hal pertama yang gue
lihat.
Ketika ditawarkan produk
lain, gue sempat hanya meliriknya sebentar dan mencoba-coba fitur yang
disediakan handphone merek lain. Tapi karna sudah nyaman dengan yang sekarang
dan masih ada pembaruan dari yang sama, gue tidak pernah terlalu tertarik
dengan yang lain. Dalam pemikiran gue hanya terlintas “if I already have the best product, why do I need the others?”
Contoh terakhir mengenai
hal jangka panjang yang gue sulit untuk pindah hati adalah masalah pasangan.
Iya, pasangan.
Ini adalah hal yang
paling rumit karena punya pasangan adalah sebuah sensasi berkepanjangan yang
berbeda daripada hanya sekedar memiliki sepatu baru atau gadget baru. Pasangan adalah sesuatu yang benar-benar hidup –
benar-benar bernafas dan benar-benar memiliki perasaan. Mereka harus diberikan
lebih dari sekedar “charger” untuk bertahan.
Secara tidak sadar, setelah
gue putus cinta untuk pertama kalinya ketika gue SMP dulu adalah bahwa gue akan
mencari orang yang mirip seperti mantan gue itu. Orang yang mampu membuat gue
merasa dihargai, dibutuhkan, dicintai, dimengerti. Gue mencari orang yang bisa
memberikan gue compliment pada
waktu-waktu yang tidak terduga. Dan yang terlebih parah, gue banyak
membandingkan pasangan yang baru dengan pasangan yang lama. Ternyata move on
itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.
Akhirnya setelah sekali
lagi putus dari orang lain, gue memutuskan untuk memberikan diri gue waktu
untuk beristirahat dari urusan cinta ini dan menanti untuk saat yang pas untuk
menjadikan seseorang “the one” itu.
Gue mau belajar untuk
mencintai yang baru nanti seperti dia adalah yang pertama dan tidak ada yang
lain sebelum dia. Gue ingin bisa mengharapkan yang terbaik dari dirinya seiring
dengan kesadaran bahwa ia juga pernah terluka. Gue akan belajar untuk tidak
membeli hal pertama yang gue lihat. Namun yang terpenting, gue akan belajar
bagaimana untuk tidak pernah bosan dengan orang yang gue pilih – seperti ketika
gue sudah nyaman dengan sebuah merek sepatu dan elektronika. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar