Jumat, 25 September 2015

Menyenangkan, Menguntungkan, dan Kenyamanan



Gue adalah tipe orang yang kalo udah suka sama sesuatu hal akan mengagungkan hal itu sampe gue menemukan hal serupa dengan benda yang biasanya tapi lebih menyenangkan dan lebih menguntungkan buat gue. Kenapa menyenangkan? Karna kalo ngga menyenangkan, benda tersebut ngga akan bertahan lama sebelum akhirnya gue biarkan berdebu dilemari. Dan kenapa menguntungkan? Karna gue bosenan itulah makanya mending cari yang murah biar ngga rugi-rugi amat kalo udah bosen. Hal-hal yang masuk kategori “menyenangkan dan menguntungkan” adalah mainan (waktu kecil dulu, ofkors), hal-hal yang lagi ngetren, fashion, dan beberapa hal lainnya yang bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang sifatnya ‘numpang lewat’.
Kalau untuk urusan benda yang akan gue gunakan untuk jangka waktu lebih dari setahun, gue biasanya lebih mengutamakan kenyamanan untuk hal tersebut.
Salah satu contohnya adalah soal pemilihan sepatu.
Gue ini orangnya demen banget kalo udah disuruh jalan dan ngeliat-ngeliat sepatu olahraga ataupun apapun yang berhubungan dengan sepatu. Entah kenapa, dari kecil gue memiliki ketertarikan tersendiri terhadap sepatu. Salah satu kejadian yang paling gue inget soal sepatu adalah ketika gue milih sendiri sepatu sekolah gue kelas 5 SD. Waktu itu, gue milih sebuah sepatu dari merek Tomkins® karna gue melihat salah satu temen baik gue (cewek) menggunakan sepatu tersebut dan jujur saja terlihat keren ketika dia menggunakannya. Ketika akhirnya gue beli sepatu yang sama seperti yang temen gue pakai, gue mengerti bahwa sepatu tersebut selain stylish ternyata juga nyaman dan praktis. Sejak saat itu, kalau mencari sepatu baru untuk sekolah gue akan mencari sepatu yang sama persis seperti yang gue gunakan saat itu. Sayangnya, Tomkins® tidak pernah memproduksi sepatu itu lagi selepas gue lulus SD. Pengalaman menyenangkan ketika gue kelas 5 SD ini berdampak besar pada kehidupan pemilihan sepatu gue dimasa selanjutnya; dan semua berawal dari kata “keliatannya keren”.
Sepatu sekolah gue ngga akan berubah haluan dari Converse® kalau sekolah tidak mengeluarkan peraturan “harus hitam menyeluruh” pada akhir masa SMP gue. Gue ngga akan berubah haluan dari adidas® kalau gue mendapatkan sepatu lari yang warna dan harganya sesuai dengan kepribadian gue. Dua-duanya adalah merek yang memberikan gue rasa nyaman itu. Masalahnya, terkadang ada beberapa keputusan yang kita pribadi maupun orang lain buat untuk kita agar kita mencari merek lain yang terkadang malah tidak jauh berbeda rasa nyamannya. Kadang, walaupun sudah mendapat sesuatu yang baru dan sudah nyaman pun, kita ngga akan pernah move on dari hal pertama yang membuat kita jatuh cinta.
Contoh lainnya adalah pemilihan handphone (atau alat elektronik lainnya).
Gue adalah tipe orang yang suka mengikuti perkembangan gadget melalui apa yang kebanyakan masyarakat pakai ketimbang jika harus mensurvei sendiri ke toko handphone dan memilih dari berbagai jenis barang yang ada – intinya sama seperti ketika gue pertama kali melihat sahabat gue memakai sepatu yang menurut gue “terlihat keren”.
Berbeda dengan sepatu yang pilihannya terlalu luas, gue sebenarnya sudah memiliki refrensi tersendiri jika kita membicarakan tentang elektronika: Apple®. Menurut gue, selain “keren”, Apple® memiliki sebuah keuntungan dalam ‘langkah awal’ dalam hal pemasaran pada masyarakat sehingga apapun yang terjadi, mereka akan selalu memiliki keunggulan satu langkah tersebut – entah lebih baik dalam packaging maupun dalam hal lainnya. Harus gue akui bahwa para pemasar Apple® memilki keunggulan dalam membuat produk mereka terlihat “baru pernah ada” padahal seringkali trik yang digunakan hanyalah packaging yang lebih keren atau sistem yang lebih canggih. Walaupun demikian, gue masih membeli hal pertama yang gue lihat.
Ketika ditawarkan produk lain, gue sempat hanya meliriknya sebentar dan mencoba-coba fitur yang disediakan handphone merek lain. Tapi karna sudah nyaman dengan yang sekarang dan masih ada pembaruan dari yang sama, gue tidak pernah terlalu tertarik dengan yang lain. Dalam pemikiran gue hanya terlintas “if I already have the best product, why do I need the others?”
Contoh terakhir mengenai hal jangka panjang yang gue sulit untuk pindah hati adalah masalah pasangan.
Iya, pasangan.
Ini adalah hal yang paling rumit karena punya pasangan adalah sebuah sensasi berkepanjangan yang berbeda daripada hanya sekedar memiliki sepatu baru atau gadget baru. Pasangan adalah sesuatu yang benar-benar hidup – benar-benar bernafas dan benar-benar memiliki perasaan. Mereka harus diberikan lebih dari sekedar “charger” untuk bertahan.
Secara tidak sadar, setelah gue putus cinta untuk pertama kalinya ketika gue SMP dulu adalah bahwa gue akan mencari orang yang mirip seperti mantan gue itu. Orang yang mampu membuat gue merasa dihargai, dibutuhkan, dicintai, dimengerti. Gue mencari orang yang bisa memberikan gue compliment pada waktu-waktu yang tidak terduga. Dan yang terlebih parah, gue banyak membandingkan pasangan yang baru dengan pasangan yang lama. Ternyata move on itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.
Akhirnya setelah sekali lagi putus dari orang lain, gue memutuskan untuk memberikan diri gue waktu untuk beristirahat dari urusan cinta ini dan menanti untuk saat yang pas untuk menjadikan seseorang “the one” itu.
Gue mau belajar untuk mencintai yang baru nanti seperti dia adalah yang pertama dan tidak ada yang lain sebelum dia. Gue ingin bisa mengharapkan yang terbaik dari dirinya seiring dengan kesadaran bahwa ia juga pernah terluka. Gue akan belajar untuk tidak membeli hal pertama yang gue lihat. Namun yang terpenting, gue akan belajar bagaimana untuk tidak pernah bosan dengan orang yang gue pilih – seperti ketika gue sudah nyaman dengan sebuah merek sepatu dan elektronika. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar