Jumat, 20 Februari 2015

Sepuluh Tahun Mendatang



Untuk diriku, 10 tahun dari tanggal penulisan ini.
Mereka bilang, aku adalah orang yang kuat karna aku sudah melewati begitu banyak cibiran dari media dimana aku menceritakan aspirasi-aspirasiku. Menurut mereka aku seharusnya lebih kuat dari kebanyakan orang.
Mereka bilang, enak menjadi diriku karena aku sudah begitu kebal dengan kritik sehingga aku bisa terus melangkah maju.
Mereka bilang, aku tak perlu mempedulikan apa kata mereka karena apa yang aku bela adalah sesuatu yang benar; apa yang aku bela adalah sesuatu yang seharusnya dibela.
Mereka bilang, orang yang kuat adalah orang yang melakukan apa yang menjadi aspirasi hidupnya dan aku adalah bukti hidup dari perkataan itu – bahwa aku tidak takut mati.
Apa yang tidak pernah mereka lihat adalah bagaimana perjuangan untuk menjadi kuat itu. Mereka tidak tahu apa rasanya, apa akibatnya, dan apa yang diperlukan untuk menjadi kuat.
Dan siapa bilang aku tidak takut mati? Aku hanya sudah menantangnya ribuan kali sehingga aku kebal terhadap perasaan itu – bukannya aku tidak takut.
Aku senang jika mereka menganggap aku kuat, namun aku tidak ingin mengaminkannya sepenuh hati karena aku sebenarnya  masih serapuh ketika aku mengawali semuanya itu – sepuluh tahun yang lalu.
sepuluh tahun lalu ketika aku lulus SMA, aku adalah orang yang sangat berbeda dari apa yang kau lihat sekarang. Walaupun aku bukan tipe orang yang emosional dan mampu mengeluarkan air mata semudah ketika ada sesuatu yang menyakitkan muncul, seringkali aku memendam rasa sedih itu untuk diriku sendiri. Aku banyak kali tidak menunjukkan, karna menurutku menunjukkan adalah kelemahan. Pikiranku berkata bahwa aku memang tidak seharusnya menunjukkan, karena menurutku orang lain-pun sudah terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing untuk mempedulikan perasaan orang lain sehingga aku perlu menjadi orang yang mandiri.
Aku harus mengakui bahwa aku tidak pernah kuat menanggung semuanya sendiri. Aku sendiri sering terluka parah – dan beberapa dari luka itu membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk sembuh. Disinilah aku menemukan pengalih rasa sakit itu; morfin untuk setiap kesedihanku dan ekstasi untuk luka bakar yang menganga, yakni menulis – menulis dengan bahasa yang menusuk dan tajam. Dari situ aku tahu bahwa luka parah itu akan sembuh; walaupun ketajaman itu harus datang dengan resiko yang setimpal dengan rasa sakit yang dituangkan.
Keuntunganku dalam menulis adalah bahwa aku tahu aku mampu mengutarakan semua perasaan yang macet dimulutku ketika aku harus meneriakkannya dengan lantang dari atas tembok kemenangan. Dari menulis aku kemudian mampu mendaki gunung rintangan yang ada dijalanku; dan setelah aku susah payah mendaki aku tahu akan ada perasaan puas yang mengikutinya. Maka dari itu aku dapat mempertahankan posisiku dan tidak menyerah. Karena menulis, kakiku terkunci ditanah dan aku mampu bertahan dari angin yang bertiup.
Aku tahu bagi sebagian orang prinsip ini akan terdengar aneh, tetapi aku percaya bahwa inilah jalan yang harus aku tempuh sebagaimana orang lain mempunyai perjuangannya masing-masing. Aku sadar bahwa aku mudah tersulut api – maka dari itu aku harus memilih api yang benar untuk membakarku.
Untuk diriku sepuluh tahun mendatang, saranku adalah hadapilah masalahmu dengan berani sebagaimana kau selalu menghadapinya. Kau harus tahu bahwa dirimu hari ini akan memandangmu dengan puas atas setiap pencapaian yang berhasil kau lalui. Kau harus tahu bahwa aku bangga – sangat bangga bahkan – untuk hanya bahkan dapat mengantarkanmu kepada keberhasilanmu. Ingat, aku melatihmu untuk bertanggung jawab dan membela apa yang benar walaupun sulit, bukan untuk memutarkan fakta yang ada demi mendapat perhatian khalayak luas. Jika waktunya datang, kau akan menerima apapun yang menjadi bagianmu.
Jika kau merasa hendak menyerah karena tantangan yang bertubi-tubi, ingatlah mengapa kau memilih jalur yang kau pilih ini dari awal. Ingatlah bahwa aku tidak ingin melihatmu menyerah ketika sebenarnya sebentar lagi kau akan mendapatkan kemenanganmu. Ingatlah akan berapa banyak orang yang kau buat kecewa dengan kepergianmu dari melakukan apa yang kau cintai ini. Ingatlah akan mereka yang percaya kepadamu. Namun diatas segalanya, ingatlah akan nasib orang-orang yang mengagumi hasil karyamu dan hendak berjuang bersamamu; apa yang akan terjadi pada mereka jika kau menyerah?
Aku tidak perlu banyak pengakuan darimu, diriku sepuluh tahun mendatang. Tapi jika kau tahu darimana kariermu dimulai, aku mau kau menghargainya. Aku percaya padamu. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar