Untuk diriku, 10 tahun dari tanggal penulisan ini.
Mereka bilang,
aku adalah orang yang kuat karna aku sudah melewati begitu banyak cibiran dari
media dimana aku menceritakan aspirasi-aspirasiku. Menurut mereka aku seharusnya
lebih kuat dari kebanyakan orang.
Mereka bilang,
enak menjadi diriku karena aku sudah begitu kebal dengan kritik sehingga aku
bisa terus melangkah maju.
Mereka bilang,
aku tak perlu mempedulikan apa kata mereka karena apa yang aku bela adalah
sesuatu yang benar; apa yang aku bela adalah sesuatu yang seharusnya dibela.
Mereka bilang,
orang yang kuat adalah orang yang melakukan apa yang menjadi aspirasi hidupnya
dan aku adalah bukti hidup dari perkataan itu – bahwa aku tidak takut mati.
Apa yang tidak
pernah mereka lihat adalah bagaimana perjuangan untuk menjadi kuat itu. Mereka
tidak tahu apa rasanya, apa akibatnya, dan apa yang diperlukan untuk menjadi
kuat.
Dan siapa
bilang aku tidak takut mati? Aku hanya sudah menantangnya ribuan kali sehingga
aku kebal terhadap perasaan itu – bukannya aku tidak takut.
Aku senang
jika mereka menganggap aku kuat, namun aku tidak ingin mengaminkannya sepenuh
hati karena aku sebenarnya masih serapuh
ketika aku mengawali semuanya itu – sepuluh tahun yang lalu.
sepuluh tahun
lalu ketika aku lulus SMA, aku adalah orang yang sangat berbeda dari apa yang kau
lihat sekarang. Walaupun aku bukan tipe orang yang emosional dan mampu
mengeluarkan air mata semudah ketika ada sesuatu yang menyakitkan muncul,
seringkali aku memendam rasa sedih itu untuk diriku sendiri. Aku banyak kali
tidak menunjukkan, karna menurutku menunjukkan adalah kelemahan. Pikiranku
berkata bahwa aku memang tidak seharusnya menunjukkan, karena menurutku orang
lain-pun sudah terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing untuk
mempedulikan perasaan orang lain sehingga aku perlu menjadi orang yang mandiri.
Aku harus
mengakui bahwa aku tidak pernah kuat menanggung semuanya sendiri. Aku sendiri
sering terluka parah – dan beberapa dari luka itu membutuhkan waktu yang cukup
panjang untuk sembuh. Disinilah aku menemukan pengalih rasa sakit itu; morfin
untuk setiap kesedihanku dan ekstasi untuk luka bakar yang menganga, yakni menulis
– menulis dengan bahasa yang menusuk dan tajam. Dari situ aku tahu bahwa luka
parah itu akan sembuh; walaupun ketajaman itu harus datang dengan resiko yang setimpal
dengan rasa sakit yang dituangkan.
Keuntunganku
dalam menulis adalah bahwa aku tahu aku mampu mengutarakan semua perasaan yang
macet dimulutku ketika aku harus meneriakkannya dengan lantang dari atas tembok
kemenangan. Dari menulis aku kemudian mampu mendaki gunung rintangan yang ada
dijalanku; dan setelah aku susah payah mendaki aku tahu akan ada perasaan puas
yang mengikutinya. Maka dari itu aku dapat mempertahankan posisiku dan tidak
menyerah. Karena menulis, kakiku terkunci ditanah dan aku mampu bertahan dari
angin yang bertiup.
Aku tahu bagi
sebagian orang prinsip ini akan terdengar aneh, tetapi aku percaya bahwa inilah
jalan yang harus aku tempuh sebagaimana orang lain mempunyai perjuangannya masing-masing.
Aku sadar bahwa aku mudah tersulut api – maka dari itu aku harus memilih api
yang benar untuk membakarku.
Untuk diriku sepuluh
tahun mendatang, saranku adalah hadapilah masalahmu dengan berani sebagaimana
kau selalu menghadapinya. Kau harus tahu bahwa dirimu hari ini akan memandangmu
dengan puas atas setiap pencapaian yang berhasil kau lalui. Kau harus tahu
bahwa aku bangga – sangat bangga bahkan – untuk hanya bahkan dapat mengantarkanmu
kepada keberhasilanmu. Ingat, aku melatihmu untuk bertanggung jawab dan membela
apa yang benar walaupun sulit, bukan untuk memutarkan fakta yang ada demi
mendapat perhatian khalayak luas. Jika waktunya datang, kau akan menerima apapun
yang menjadi bagianmu.
Jika kau
merasa hendak menyerah karena tantangan yang bertubi-tubi, ingatlah mengapa kau
memilih jalur yang kau pilih ini dari awal. Ingatlah bahwa aku tidak ingin
melihatmu menyerah ketika sebenarnya sebentar lagi kau akan mendapatkan
kemenanganmu. Ingatlah akan berapa banyak orang yang kau buat kecewa dengan
kepergianmu dari melakukan apa yang kau cintai ini. Ingatlah akan mereka yang
percaya kepadamu. Namun diatas segalanya, ingatlah akan nasib orang-orang yang
mengagumi hasil karyamu dan hendak berjuang bersamamu; apa yang akan terjadi
pada mereka jika kau menyerah?
Aku tidak
perlu banyak pengakuan darimu, diriku sepuluh tahun mendatang. Tapi jika kau
tahu darimana kariermu dimulai, aku mau kau menghargainya. Aku percaya padamu.
–red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar