Apa
artinya cinta?
Bertahun-tahun
lamanya aku mencari; namun aku belum berhasil menemukannya.
Aku
bertanya kepada mereka yang sudah memiliki pasangan – namun mereka sendiri tak
mampu menjelaskan; seakan cinta membuat mereka bisu.
Aku bertanya
kepada yang melajang – namun mereka berkata hal yang sudah sering kudengar
mengenai cinta; bahwa jika cinta tidak jatuh pada pasangan yang tepat akan
menghasilkan sesuatu yang mengenaskan seperti perpisahan. Dan kini objek cinta
kasih mereka adalah keluarga. Klasik.
Aku
bertanya kepada semua kalangan mengenai hal cinta ini seakan aku belum puas
dengan jawaban yang sudah ada - anak muda, dewasa, dan orang tua; mereka semua
menjawabnya. Mereka sepakat bahwa cinta adalah sesuatu yang relatif. Sesuatu yang,
menghasilkan jawaban yang berbeda jika ditanyakan kepada kelompok usia yang
berbeda. Pertanyaannya kini adalah berada digolongan usia manakah aku?
Tidak
tahu – jawabannya adalah aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa itu cinta dan
termasuk golongan manakah diriku. Bukan karena aku tidak pernah merasakan cinta
dari orang lain; namun karena aku merasa belum menemukan definisi yang tepat
dari kata itu sendiri. Aku belum berhasil menetapkan perspektifku mengenai hal
ini.
Sampai
akhirnya hari itu tiba.
Hari
dimana akhirnya aku jatuh cinta.
Kulit
sawo matang; dada bidang; tatapan yang tajam; nafas berat; dan postur yang
kekar.
Itulah
segala hal pertama yang segera aku sadari mengenai dirinya ketika kita pertama
kali bertemu. Pada hari pertama itu, ia bahkan tidak terlihat seperti seorang
pria yang akan membuatku jatuh cinta. Ternyata aku salah.
Kami
pertama kali berkenalan ketika aku diajak menemani seorang teman berlatih bulu
tangkis disebuah lapangan umum dekat rumah. Ternyata, pria yang membuatku jatuh
cinta ini adalah sahabat temanku yang aku temani. Disela-sela istirahat pertama
mereka, temanku memperkenalkanku kepada sahabatnya. Ah, perkenalan yang sudah
sering aku dengar: dikenalin sama temen.
Namun
semakin lama aku memperhatikannya, aku malah merasa semakin sulit untuk
berpaling. Belum lagi ketika ia sesekali menoleh untuk mengelap peluh yang
jatuh dari sudut matanya; atau ketika mata kita sesekali beradu pandang sewaktu
ia berjalan kearah bench dari lapangan. Aku kaku setiap kali mata kita bertemu.
Selang
beberapa waktu lamanya setelah aku dan dia mulai sering bertemu (masih dengan
temanku yang memperkenalkan kami, tentunya), kami mulai berbincang. Ternyata ia
sangat menarik baik secara fisik maupun spiritual karena perbincangan kami
dapat berlanjut sampai berjam-jam jika malam tidak buru-buru datang.
Sejak
saat itu, duduk disampingnya setiap kali ada kesempatan menjadi sebuah
kebiasaan yang tidak perlu paksaan untuk dilatih; sesuatu yang terjadi seolah
karena tarikan magnetik alam dibawah kaki ini. Kami bertumbuh menjadi tak
terpisahkan; tak terkalahkan sejauh mata dapat menelaah. Dan aku menyadari satu
hal: if it hurts my feelings to be apart from
him even though it did not actually hurt me in any way, then I am in love.
Iya,
aku jatuh cinta.
Aku
merasa begitu nyaman walaupun hanya mendengar desahan nafas beratnya
disampingku – tanpa sentuhan.
Aku
merasa aman ketika ia berada disampingku – karena aku tahu dia akan menjagaku
dari apapun yang mencoba mengganguku.
Aku
merasa waktu seakan berhenti ketika akhirnya aku berakhir dipelukannya malam
itu; dimalam dimana kita mengambil keputusan untuk menjalani komitmen bersama
sebagai pasangan yang akan saling belajar.
…
Sejak
hari itu tiba, aku mengerti mengapa anak-anak kecil senang memimpikan pangeran
tampannya datang menjemput. Karena walaupun pangeran itu tidak datang dengan
kereta kuda, setidaknya kita merasa sangat bahagia ketika kita datang dijemput
oleh orang yang kehadirannya begitu kita nanti-nantikan.
Sejak
hari itu pula aku mengerti mengapa bagi para dewasa muda cinta itu membuat
mereka bisu. Karena kebahagiaan yang ditimbulkan oleh perasaan itu tidak
mungkin bisa kita deskripsikan dengan kata-kata penjelas apapun; karena cinta
membuat kita bungkam, bisu, dan tuli pada saat yang sama dari dunia sekeliling
kita.
Dan
dari orang tua aku belajar bahwa jika sejak hari itu aku memilih pasangan yang
salah dalam hal mencinta, maka aku tidak akan bisa memutar balik waktu yang
sudah aku habiskan bersamanya – baik aku menyesalinya maupun tidak.
Maka
dari itu, sekarang aku tahu jawabanku jika orang bertanya akan arti sebuah
cinta. Jawabanku adalah ini:
Cinta
adalah perjuangan rasa, asa, dan keinginan.
Perjuangan
rasa; karena rasa indah diawal akan selalu harus diperbaharui seiring dengan
berjalannya waktu.
Asa;
karena usaha mencapai cita-cita apa yang sudah kita targetkan untuk capai pada
hubungan ini harus dijalankan dengan penuh komitmen oleh kedua belah pihak.
Dan
perjuangan keinginan adalah untuk mempertahankan keinginan untuk terus
bersamanya ketika waktu berkata “hey, bagaimana jika aku memberimu lemon, batu,
dan jengkol? Pasti ngga tahan, deh”.
“Apa
artinya cinta?”, diri mudaku yang bodoh bertanya. Cinta berarti berjuang. Dan
jika cinta yang seperti inilah yang merupakan perjuangan yang diharapkan semua
orang, maka kita semua akan mati sebagai pejuang yang mati demi kehormatan
rajanya. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar