Jumat, 13 Februari 2015

Apa Arti Cinta?


Apa artinya cinta?
Bertahun-tahun lamanya aku mencari; namun aku belum berhasil menemukannya.
Aku bertanya kepada mereka yang sudah memiliki pasangan – namun mereka sendiri tak mampu menjelaskan; seakan cinta membuat mereka bisu.
Aku bertanya kepada yang melajang – namun mereka berkata hal yang sudah sering kudengar mengenai cinta; bahwa jika cinta tidak jatuh pada pasangan yang tepat akan menghasilkan sesuatu yang mengenaskan seperti perpisahan. Dan kini objek cinta kasih mereka adalah keluarga. Klasik.
Aku bertanya kepada semua kalangan mengenai hal cinta ini seakan aku belum puas dengan jawaban yang sudah ada - anak muda, dewasa, dan orang tua; mereka semua menjawabnya. Mereka sepakat bahwa cinta adalah sesuatu yang relatif. Sesuatu yang, menghasilkan jawaban yang berbeda jika ditanyakan kepada kelompok usia yang berbeda. Pertanyaannya kini adalah berada digolongan usia manakah aku?
Tidak tahu – jawabannya adalah aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa itu cinta dan termasuk golongan manakah diriku. Bukan karena aku tidak pernah merasakan cinta dari orang lain; namun karena aku merasa belum menemukan definisi yang tepat dari kata itu sendiri. Aku belum berhasil menetapkan perspektifku mengenai hal ini.
Sampai akhirnya hari itu tiba.
Hari dimana akhirnya aku jatuh cinta.
Kulit sawo matang; dada bidang; tatapan yang tajam; nafas berat; dan postur yang kekar.
Itulah segala hal pertama yang segera aku sadari mengenai dirinya ketika kita pertama kali bertemu. Pada hari pertama itu, ia bahkan tidak terlihat seperti seorang pria yang akan membuatku jatuh cinta. Ternyata aku salah.
Kami pertama kali berkenalan ketika aku diajak menemani seorang teman berlatih bulu tangkis disebuah lapangan umum dekat rumah. Ternyata, pria yang membuatku jatuh cinta ini adalah sahabat temanku yang aku temani. Disela-sela istirahat pertama mereka, temanku memperkenalkanku kepada sahabatnya. Ah, perkenalan yang sudah sering aku dengar: dikenalin sama temen.
Namun semakin lama aku memperhatikannya, aku malah merasa semakin sulit untuk berpaling. Belum lagi ketika ia sesekali menoleh untuk mengelap peluh yang jatuh dari sudut matanya; atau ketika mata kita sesekali beradu pandang sewaktu ia berjalan kearah bench dari lapangan. Aku kaku setiap kali mata kita bertemu.
Selang beberapa waktu lamanya setelah aku dan dia mulai sering bertemu (masih dengan temanku yang memperkenalkan kami, tentunya), kami mulai berbincang. Ternyata ia sangat menarik baik secara fisik maupun spiritual karena perbincangan kami dapat berlanjut sampai berjam-jam jika malam tidak buru-buru datang.
Sejak saat itu, duduk disampingnya setiap kali ada kesempatan menjadi sebuah kebiasaan yang tidak perlu paksaan untuk dilatih; sesuatu yang terjadi seolah karena tarikan magnetik alam dibawah kaki ini. Kami bertumbuh menjadi tak terpisahkan; tak terkalahkan sejauh mata dapat menelaah. Dan aku menyadari satu hal: if it hurts my feelings to be apart from him even though it did not actually hurt me in any way, then I am in love.
Iya, aku jatuh cinta.
Aku merasa begitu nyaman walaupun hanya mendengar desahan nafas beratnya disampingku – tanpa sentuhan.
Aku merasa aman ketika ia berada disampingku – karena aku tahu dia akan menjagaku dari apapun yang mencoba mengganguku.
Aku merasa waktu seakan berhenti ketika akhirnya aku berakhir dipelukannya malam itu; dimalam dimana kita mengambil keputusan untuk menjalani komitmen bersama sebagai pasangan yang akan saling belajar.
Sejak hari itu tiba, aku mengerti mengapa anak-anak kecil senang memimpikan pangeran tampannya datang menjemput. Karena walaupun pangeran itu tidak datang dengan kereta kuda, setidaknya kita merasa sangat bahagia ketika kita datang dijemput oleh orang yang kehadirannya begitu kita nanti-nantikan.
Sejak hari itu pula aku mengerti mengapa bagi para dewasa muda cinta itu membuat mereka bisu. Karena kebahagiaan yang ditimbulkan oleh perasaan itu tidak mungkin bisa kita deskripsikan dengan kata-kata penjelas apapun; karena cinta membuat kita bungkam, bisu, dan tuli pada saat yang sama dari dunia sekeliling kita.
Dan dari orang tua aku belajar bahwa jika sejak hari itu aku memilih pasangan yang salah dalam hal mencinta, maka aku tidak akan bisa memutar balik waktu yang sudah aku habiskan bersamanya – baik aku menyesalinya maupun tidak.
Maka dari itu, sekarang aku tahu jawabanku jika orang bertanya akan arti sebuah cinta. Jawabanku adalah ini:
Cinta adalah perjuangan rasa, asa, dan keinginan.
Perjuangan rasa; karena rasa indah diawal akan selalu harus diperbaharui seiring dengan berjalannya waktu.
Asa; karena usaha mencapai cita-cita apa yang sudah kita targetkan untuk capai pada hubungan ini harus dijalankan dengan penuh komitmen oleh kedua belah pihak.
Dan perjuangan keinginan adalah untuk mempertahankan keinginan untuk terus bersamanya ketika waktu berkata “hey, bagaimana jika aku memberimu lemon, batu, dan jengkol? Pasti ngga tahan, deh”.
“Apa artinya cinta?”, diri mudaku yang bodoh bertanya. Cinta berarti berjuang. Dan jika cinta yang seperti inilah yang merupakan perjuangan yang diharapkan semua orang, maka kita semua akan mati sebagai pejuang yang mati demi kehormatan rajanya. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar