Jumat, 13 Februari 2015

Human Life Cycle

“The cycle is pretty obvious, you see. To get to the senior part, we’re gonna have to go through the junior years in advance.” –Professor Keran.
Udah dari minggu kemaren gue, Keran, sama Cindy ngomongin soal abis UN kita mau pergi makan-makan bareng. Iya mau ke PIK lah; mau ke IKEA lah; makan di Lippo lah, segala macem lah pokoknya. Rasanya sih semacem kita kuat nyobain semua makanan yang ada gitu ya ceritanya. HAHAHA. Iya, I think we still think that we are all half gods or something.
I know, I know it may not be as much as you think nor as true as other non-bullshitty things that have existed in our realm; but as soon as you are seniors, sooner or later you’ll come to realize that you’ll be just inches away from UN and graduation and all that. You’ll realize how much your senior friends really mean to you, what “perpisahan” really is, and how you seem to have given your best but the final scores that came out are still so far from your initial expectations. But on top of those things, the saddest part for me is to finally having to force myself move out of the life I’ve been so comfortable with.
Iya lah nyaman, wong kita sekolah 12 tahun dilingkungan yang nyaman gini – dibawah ketek bokap nyokap (literally, of course). Anyone going to college soon will understand this feeling we’re going through right now though: college just seems to be a whole different ball game to the one we’re living now like kita bakal dites lagi keberaniannya whatsoever dengan naik ke level yang satu ini. Dan seengga-mau gimanapun kita untuk masuk college, in the end kita harus move on juga. Sedih abis.
Tapi selama seminggu ini juga gue sama sahabat gue Keran ngobrolin soal hal “human life cycle” ini. Menurut kita lucu banget bahwa pada tahap ini (entah tahap SMA-nya atau tahap “udah mau lulus”nya) kita baru sadar bahwa diwaktu sekolah ini kita mulai dari junior dan keluar sebagai senior – which then applies to our whole life cycle and how we came to realize all this just months before graduating.
Semuanya ini berawal ada adek kelas naik ke lantai 6 (which is a ground only for us 12th graders) nyari temen gue buat ngasi tau sesuatu gitu dan dia kayak agak ragu-ragu gitu nyari temen gue ini. Setelah adek kelas kita turun, si Keran ngomong “itu adek kelas kayaknya takut banget ya sama kita kayak bakal kita apain mereka aja”. Tanggepan gue kemudian adalah “emang dulu kita ke senior engga?”
Ya gitu deh; semua rasanya kayak kemaren ketika kita baru masuk SMA dan ngejalanin masa orientasi sekolah yang menurut kita geblek setengah mati kalo kita ngeliat sekarang. Dan emang bener juga kalo kita bilang bahwa cycle yang ini juga berulang lagi dimana “takut sama senior” sama “kita terlalu nunjukkin senioritas” itu cuman dibatasin sama garis tipis banget. Semua junior SMA pasti deg-degan deh kalo naik ke lantainya kakak kelas – kayak kita umpan empuk banget buat digigit ato gimana.
Kemudian obrolan gue sama Keran mengenai hal ini berlanjut tadi siang ketika kita berdua lagi naik dari lantai 4 menuju kelas dan gue ngomong:
“Enak banget yah kita jadi senior. Adek kelas pada kayak takut semua gitu.”
“Iyasih, tapi lu sadar kan tahun depan kita jadi junior lagi Glo gitu masuk kuliah? Terus pas lulus kuliah jadi senior. Abis itu pas kerja kita jadi junior lagi yang musti tunduk sama bos buat bisa naik pangkat. Udah lama kerja, kita senior lagi. Terus kalo kawin kita juga jadi junior yang musti nurut sama mertua karna mereka udah lebih pengalaman. Kalo tua baru deh kita jadi senior and that’s where it all ends”
Iya ya, gila banget.
Human life cycle kita itu emang cuman semacem siklus junior-senior yang direplay terus menerus. Selama ini ngga kepikiran aja bahwa siklus hidup kita itu sama kayak the whole junior and senior level that was put on repeat. Setiap naik tingkat, it starts all over again.
Thanks for helping me realize this, Ran.
Sumpah, otak gue berasa ketiup banget sama pengertian yang begitu sederhana tapi nancep gini. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar