“The
cycle is pretty obvious, you see. To get to the senior part, we’re gonna have to
go through the junior years in advance.” –Professor Keran.
Udah
dari minggu kemaren gue, Keran, sama Cindy ngomongin soal abis UN kita mau
pergi makan-makan bareng. Iya mau ke PIK lah; mau ke IKEA lah; makan di Lippo
lah, segala macem lah pokoknya. Rasanya sih semacem kita kuat nyobain semua
makanan yang ada gitu ya ceritanya. HAHAHA. Iya, I think we still think that we
are all half gods or something.
I
know, I know it may not be as much as you think nor as true as other
non-bullshitty things that have existed in our realm; but as soon as you are
seniors, sooner or later you’ll come to realize that you’ll be just inches away
from UN and graduation and all that. You’ll realize how much your senior
friends really mean to you, what “perpisahan” really is, and how you seem to have
given your best but the final scores that came out are still so far from your
initial expectations. But on top of those things, the saddest part for me is to
finally having to force myself move out of the life I’ve been so comfortable
with.
Iya
lah nyaman, wong kita sekolah 12 tahun dilingkungan yang nyaman gini – dibawah
ketek bokap nyokap (literally, of course). Anyone going to college soon will
understand this feeling we’re going through right now though: college just
seems to be a whole different ball game to the one we’re living now like kita
bakal dites lagi keberaniannya whatsoever dengan naik ke level yang satu ini.
Dan seengga-mau gimanapun kita untuk masuk college, in the end kita harus move
on juga. Sedih abis.
Tapi
selama seminggu ini juga gue sama sahabat gue Keran ngobrolin soal hal “human
life cycle” ini. Menurut kita lucu banget bahwa pada tahap ini (entah tahap SMA-nya
atau tahap “udah mau lulus”nya) kita baru sadar bahwa diwaktu sekolah ini kita
mulai dari junior dan keluar sebagai senior – which then applies to our whole
life cycle and how we came to realize all this just months before graduating.
Semuanya
ini berawal ada adek kelas naik ke lantai 6 (which is a ground only for us 12th
graders) nyari temen gue buat ngasi tau sesuatu gitu dan dia kayak agak
ragu-ragu gitu nyari temen gue ini. Setelah adek kelas kita turun, si Keran
ngomong “itu adek kelas kayaknya takut banget ya sama kita kayak bakal kita apain
mereka aja”. Tanggepan gue kemudian adalah “emang dulu kita ke senior engga?”
Ya
gitu deh; semua rasanya kayak kemaren ketika kita baru masuk SMA dan ngejalanin
masa orientasi sekolah yang menurut kita geblek setengah mati kalo kita ngeliat
sekarang. Dan emang bener juga kalo kita bilang bahwa cycle yang ini juga
berulang lagi dimana “takut sama senior” sama “kita terlalu nunjukkin
senioritas” itu cuman dibatasin sama garis tipis banget. Semua junior SMA pasti
deg-degan deh kalo naik ke lantainya kakak kelas – kayak kita umpan empuk
banget buat digigit ato gimana.
Kemudian
obrolan gue sama Keran mengenai hal ini berlanjut tadi siang ketika kita berdua
lagi naik dari lantai 4 menuju kelas dan gue ngomong:
“Enak
banget yah kita jadi senior. Adek kelas pada kayak takut semua gitu.”
“Iyasih,
tapi lu sadar kan tahun depan kita jadi junior lagi Glo gitu masuk kuliah?
Terus pas lulus kuliah jadi senior. Abis itu pas kerja kita jadi junior lagi yang
musti tunduk sama bos buat bisa naik pangkat. Udah lama kerja, kita senior lagi.
Terus kalo kawin kita juga jadi junior yang musti nurut sama mertua karna
mereka udah lebih pengalaman. Kalo tua baru deh kita jadi senior and that’s
where it all ends”
Iya
ya, gila banget.
Human
life cycle kita itu emang cuman semacem siklus junior-senior yang direplay
terus menerus. Selama ini ngga kepikiran aja bahwa siklus hidup kita itu sama
kayak the whole junior and senior level that was put on repeat. Setiap naik tingkat,
it starts all over again.
Thanks
for helping me realize this, Ran.
Sumpah,
otak gue berasa ketiup banget sama pengertian yang begitu sederhana tapi nancep
gini. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar