Cinta
Segi Ketek
-Ketika
Ketek Menemukan Cinta-
Apa yang
terjadi ketika ketek menemukan cinta? Gue ngga sanggup membayangkan. Tapi ada
benarnya juga sih, pertanyaan itu. Apa ya yang akan dilakukan si ketek ketika
ia akhirnya menemukan sosok itu untuk dicintai?
Apakah cinta mereka akan
sama seperti jika cinta segitiga terjadi?
Bagaimana cara mereka tahu
bahwa “si dia” yang dianggap tepat adalah pasangan seumur hidup mereka?
Apakah mereka akan bersikap
biasa saja dalam menanggapi gejolak hatinya?
Atau, apakah cinta ketek hanya
sama dengan ketika tanaman ber-regenerasi melalui akarnya?
Malam itu
gue melihat selintas sosoknya melalui ruang mimpi gue. Disana, ia adalah salah
satu manusia yang gue anggap aneh dari kebayakan orang karena
kebiasaan-kebiasaannya. Bukannya gue membenci keanehan tersebut, gue malah
merasa sangat tertarik. Di hati terkecil gue, gue tau kalo kebiasaan itu cuman
dia yang bisa lakukan.
Kalimat
Vicky masih menempel di kening gue; bahwa “ketek” mungkin saja bukan hanya
sebuah benda mati. Ia bisa saja seorang manusia yang ternyata keberadaannya
sangat dekat dengan hati gue. Saat akhirnya gue sedang jalan siang itu di
sebuah pusat perbelanjaan sama nyokap gue, tiba-tiba kita bertemu begitu aja.
Dia, dia yang ternyata adalah anak temen nyokap gue.
Entah
apakah takdir memang nyata, tapi begitu pertama kali kita bertemu gue udah tau
bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan dia. Waktu itu, tatapan matanya seperti
langsung menembus jauh kedalam jiwa gue.
Tak berapa
lama setelah kedua ibu kami berbincang, ia mengulurkan tangan kanannya untuk
berkenelan. Ketika ia memperkenalkan namanya, ada sebuah perasaan berbeda. Rasa
itu, seperti lu memang sudah mengenal dia jauh sebelum hari itu kita bertemu.
Gue gugup, tapi cukup untuk tidak membuat malu diri gue sendiri. Jika cinta
begitu kuat, kemudian pertanyaan gue adalah apa hubungan perkenalan ini dengan
ketek? Gue masih belum sepenuhnya mengerti.
Ketika
ketek menemukan cinta, ia hanya sanggup berdiri disana menunggu sebuah aba-aba
dari alam untuk berbicara. Mungkin waktu itu tidak pernah datang seperti yang
diharapkan. Mungkin, belum tepat. Namun waktu yang dihabiskan untuk menunggu
sang “pangeran tampan” nan sempurna itu untuk datang tidak dapat membayarkan
pengorbanannya.
Seketika itu gue sadar: bahwa ketika ketek yang pada
konteks aslinya akan mengeluarkan keringat saat tertimpa sinar matahari yang
melebihi batas sewajarnya memiliki korelasi kuat mengenai bagaimana kisah dua
anak manusia bertemu. Mereka akan mengeluarkan sebuah zat yang merangsang sebuah
hormon didalam tubuh untuk bereaksi (entah dibidang apa).
Obrolan pertama kami hari itu tidak jauh dari suatu topik
yang sangat mendunia saat ini, dan perbincangan tersebut kian menarik karakter
setiap pribadi untuk keluar. Entah bagaimana, pertemuan pertama itu rasanya
seperti sudah begitu lama mengenal masing-masing. Kami bertukar nomer telepon
dan berjanji untuk saling menghubungi secepatnya. Semua berjalan begitu saja;
seperti tanpa usaha yang terlalu berlebihan. Ternyata, ia adalah sosok yang
sangat empuk untuk diajak bertukar pikiran dan lepas tertawa. Ia sangat
menarik.
Pada hari-hari selanjutnya, kami saling berhubungan dan
secara tak sadar begitu cepat jatuh kepada pertemanan dekat. Memang agak
jarang, namun yang ini adalah kasus khusus.
Cinta ketek
masih menyisakan misteri begitu mendalam buat gue. Kenapa cinta ketek harus
sekomplex ini? Atau, kenapa harus gue yang membuat pembuktian bahwa cinta ketek
itu benar-benar nyata?
Keesokan
hari tak lama setelah gue nonkrong bareng di sebuah kafe dengan ketek, gue
skype-an sama Vicky buat konfirmasi penemuan bodoh gue mengenai ketek ini.
Vicky emang nge-bantu, banget buat bikin gue ngerasa teori ini ngga akan pernah
ada pembuktiannya karena emang dia jomblo akut
“Yah tapi Sel, seengaknya kan kita masih jomblo...”
“Bukan masalah jomblo Vic! Gue udah ketemu nih sama sosok
ketek yang gue anggap ngga pernah nyata itu tapi lu bilang ada. Lah terus
sekarang elu maksa gue untuk jadi jomblo friksional seperti sedia kala lagi
gitu? Terus apa gunanya lu bikin gue percaya sama cinta segi ketek dan
pembuktiannya?”
“Man, santai. Jomblo emang harus diperjuangin, tapi kalo
emang cinta ketek nyata dan orangnya udah muncul ya kenapa engga elu babat?”
“Tau darimana kita dia itu ‘orangnya’?”
“Well, dari cara
dia mencintai elu kali? Ato mungkin dari cara dia mencukur bulu keteknya?!! Gue
jenius!”
“Geli abis lo. Udah ah.”
Jujur aja, gue emang jarang banget bisa seiya sekata sama
Vicky kalo udah urusan teori yang Vicky cetuskan. Masalah gue bukan terletak
pada ketidakpercayaan gue sama dia, tapi lebih kepada biasanya teorinya itu
ngga pernah benar dan ngga masuk akal. Ya kalau mau bukti, ini salah satunya. Namun karena
kehadiran sosok itu, gue mulai berpikir bahwa cinta segi ketek ini memang benar
keadaannya. Apa gue mulai terserang virus abstrak, gue juga kurang mengerti.
Yang gue tahu hanyalah bahwa cinta itu buta.
Masa perkenalan si jomblo dengan keteknya berjalan dengan
mulus seolah sungai itu tidak memiliki hambatan terkecil. Tanpa ragu, kisah
cinta segi ketek mulai menimbulkan teori-teori baru lainnya yang saling
bersilangan tanpa mengetahui kebenarannya diantara berjuta umat manusia yang
tersebar diberbagai belahan bumi.
Untuk gue, spesies pertama yang mengalami kejadian aneh
jenis cinta ini membuat gue merasa apakah gue seorang anomali baru yang akan
berlanjut kehidupannya. Gue ngga nyangka bahwa ketek akan begitu dekat dan
nyata kehadirannya dengan gue. Apakah cinta ketek akan pernah berlanjut?
-Akhir
bagian dua-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar