Rabu, 19 Juni 2013

Cinta Segi Ketek



Cinta Segi Ketek
-Ketika Ketek Menemukan Cinta-
Apa yang terjadi ketika ketek menemukan cinta? Gue ngga sanggup membayangkan. Tapi ada benarnya juga sih, pertanyaan itu. Apa ya yang akan dilakukan si ketek ketika ia akhirnya menemukan sosok itu untuk dicintai?
Apakah cinta mereka akan sama seperti jika cinta segitiga terjadi?
Bagaimana cara mereka tahu bahwa “si dia” yang dianggap tepat adalah pasangan seumur hidup mereka?
Apakah mereka akan bersikap biasa saja dalam menanggapi gejolak hatinya?
Atau, apakah cinta ketek hanya sama dengan ketika tanaman ber-regenerasi melalui akarnya?
Malam itu gue melihat selintas sosoknya melalui ruang mimpi gue. Disana, ia adalah salah satu manusia yang gue anggap aneh dari kebayakan orang karena kebiasaan-kebiasaannya. Bukannya gue membenci keanehan tersebut, gue malah merasa sangat tertarik. Di hati terkecil gue, gue tau kalo kebiasaan itu cuman dia yang bisa lakukan.
Kalimat Vicky masih menempel di kening gue; bahwa “ketek” mungkin saja bukan hanya sebuah benda mati. Ia bisa saja seorang manusia yang ternyata keberadaannya sangat dekat dengan hati gue. Saat akhirnya gue sedang jalan siang itu di sebuah pusat perbelanjaan sama nyokap gue, tiba-tiba kita bertemu begitu aja. Dia, dia yang ternyata adalah anak temen nyokap gue.
Entah apakah takdir memang nyata, tapi begitu pertama kali kita bertemu gue udah tau bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan dia. Waktu itu, tatapan matanya seperti langsung menembus jauh kedalam jiwa gue.
Tak berapa lama setelah kedua ibu kami berbincang, ia mengulurkan tangan kanannya untuk berkenelan. Ketika ia memperkenalkan namanya, ada sebuah perasaan berbeda. Rasa itu, seperti lu memang sudah mengenal dia jauh sebelum hari itu kita bertemu. Gue gugup, tapi cukup untuk tidak membuat malu diri gue sendiri. Jika cinta begitu kuat, kemudian pertanyaan gue adalah apa hubungan perkenalan ini dengan ketek? Gue masih belum sepenuhnya mengerti.
Ketika ketek menemukan cinta, ia hanya sanggup berdiri disana menunggu sebuah aba-aba dari alam untuk berbicara. Mungkin waktu itu tidak pernah datang seperti yang diharapkan. Mungkin, belum tepat. Namun waktu yang dihabiskan untuk menunggu sang “pangeran tampan” nan sempurna itu untuk datang tidak dapat membayarkan pengorbanannya.
            Seketika itu gue sadar: bahwa ketika ketek yang pada konteks aslinya akan mengeluarkan keringat saat tertimpa sinar matahari yang melebihi batas sewajarnya memiliki korelasi kuat mengenai bagaimana kisah dua anak manusia bertemu. Mereka akan mengeluarkan sebuah zat yang merangsang sebuah hormon didalam tubuh untuk bereaksi (entah dibidang apa).
            Obrolan pertama kami hari itu tidak jauh dari suatu topik yang sangat mendunia saat ini, dan perbincangan tersebut kian menarik karakter setiap pribadi untuk keluar. Entah bagaimana, pertemuan pertama itu rasanya seperti sudah begitu lama mengenal masing-masing. Kami bertukar nomer telepon dan berjanji untuk saling menghubungi secepatnya. Semua berjalan begitu saja; seperti tanpa usaha yang terlalu berlebihan. Ternyata, ia adalah sosok yang sangat empuk untuk diajak bertukar pikiran dan lepas tertawa. Ia sangat menarik.
            Pada hari-hari selanjutnya, kami saling berhubungan dan secara tak sadar begitu cepat jatuh kepada pertemanan dekat. Memang agak jarang, namun yang ini adalah kasus khusus.
Cinta ketek masih menyisakan misteri begitu mendalam buat gue. Kenapa cinta ketek harus sekomplex ini? Atau, kenapa harus gue yang membuat pembuktian bahwa cinta ketek itu benar-benar nyata?
Keesokan hari tak lama setelah gue nonkrong bareng di sebuah kafe dengan ketek, gue skype-an sama Vicky buat konfirmasi penemuan bodoh gue mengenai ketek ini. Vicky emang nge-bantu, banget buat bikin gue ngerasa teori ini ngga akan pernah ada pembuktiannya karena emang dia jomblo akut
            “Yah tapi Sel, seengaknya kan kita masih jomblo...”
            “Bukan masalah jomblo Vic! Gue udah ketemu nih sama sosok ketek yang gue anggap ngga pernah nyata itu tapi lu bilang ada. Lah terus sekarang elu maksa gue untuk jadi jomblo friksional seperti sedia kala lagi gitu? Terus apa gunanya lu bikin gue percaya sama cinta segi ketek dan pembuktiannya?”
            “Man, santai. Jomblo emang harus diperjuangin, tapi kalo emang cinta ketek nyata dan orangnya udah muncul ya kenapa engga elu babat?”
            “Tau darimana kita dia itu ‘orangnya’?”
             “Well, dari cara dia mencintai elu kali? Ato mungkin dari cara dia mencukur bulu keteknya?!! Gue jenius!”
            “Geli abis lo. Udah ah.”
            Jujur aja, gue emang jarang banget bisa seiya sekata sama Vicky kalo udah urusan teori yang Vicky cetuskan. Masalah gue bukan terletak pada ketidakpercayaan gue sama dia, tapi lebih kepada biasanya teorinya itu ngga pernah benar dan ngga masuk akal. Ya kalau mau  bukti, ini salah satunya. Namun karena kehadiran sosok itu, gue mulai berpikir bahwa cinta segi ketek ini memang benar keadaannya. Apa gue mulai terserang virus abstrak, gue juga kurang mengerti. Yang gue tahu hanyalah bahwa cinta itu buta.
            Masa perkenalan si jomblo dengan keteknya berjalan dengan mulus seolah sungai itu tidak memiliki hambatan terkecil. Tanpa ragu, kisah cinta segi ketek mulai menimbulkan teori-teori baru lainnya yang saling bersilangan tanpa mengetahui kebenarannya diantara berjuta umat manusia yang tersebar diberbagai belahan bumi.
            Untuk gue, spesies pertama yang mengalami kejadian aneh jenis cinta ini membuat gue merasa apakah gue seorang anomali baru yang akan berlanjut kehidupannya. Gue ngga nyangka bahwa ketek akan begitu dekat dan nyata kehadirannya dengan gue. Apakah cinta ketek akan pernah berlanjut?
-Akhir bagian dua-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar