Gua rasa lu semua udah tau siapa gua; apa cita-cita kebangsaan gua; kenapa gua bisa hobi menulis. Malam ini, gua akan ceritain lagi kepada lo semua siapa gua serta apa identitas gua, identitas lo, dan identitas kita semua sebagai warga negara bangsa.
Nama gua, Gloria Ernita. Gua cewek kelahiran Jakarta, 30 November 1996. Gua baru aja berumur 15 tahun belum sampai sebulan yang lalu. Gua duduk di bangku 3 SMP.
Gua anak tunggal di keluarga. Meskipun begitu, gua bukan anak manja yang apa-apa maunya dipenuhin. Gua juga bukan anak tomboy karena gua bukan diajarin untuk jadi laki-laki. Itu membuat gue sangat bersyukur sebagai anak tunggal, karena di usia gue ke-15 kemarin gue semakin dewasa dalam pemikiran gua.
Cita-cita inti gua, psikologh dan guru di pedesaan, atau disekolah gratis ibukota. Gua sangat berharap kepada Tuhan untuk menjalani pekerjaan sesuai takdir dan cita-cita gua karena gua emang gak mau kerja yang lain. Sebisa mungkin. Hobi gua adalah menulis dijam luar sekolah maupun ditengah pelajaran tanpa melupakan tugas utama gua sebagai murid dan tentunya anak. Selain itu, gua hobi olahraga walaupun bisa dibilang lebih sering malasnya. Tapi yah, setidaknya masih ada lah didalam darah gua untuk berolahraga. Gua suka lompat tali, futsal, berenang, dan bersepeda.
Gua punya permasalahan dengan mata gua yang silinder turunan dari bokap dan minus yang lumayan parah. Jadi, maklumlah kalo gua emang ga gitu demen olahraga.
Gua punya kecintaan berlebih terhadap bangsa gua yang herannya gua sendiri gak tau itu keturunan darah dari siapa. Bokap gua, orang yang cincay macay. Lebih berpandangan negatif terhadap negara; namun skeptis pun tidak. Nyokap, sebatas kecintaan biasa terhadap sesuatu. Pokoknya, kekuatan lain gua adalah mencintai sebuah bangsa yang tidak sempurna disaat terkadang dia sendiri tidak tahu apa yang harus dicintai dari bangsanya.
Gua belum lama ini menemukan seorang tokoh inspriatif yang belum pernah gua temukan dimanapun di negri gua ini. Seorang yang gak akan gua bahas kali ini. Tapi orang itu, dia radikal. Dia percaya akan kemampuan bangsa ini; awal kecintaan ekstrem gua terhadap bangsa INDONESIA. Lagu-lagunya, buku karya tulisnya, blognya, semua gua resapi sebagai akar untuk bergerak dibidang gua nantinya. Sebagai radar; untuk menyadarkan lebih banyak lagi mengenai bangsa ini. Sedikitnya, beliau membantu gua untuk menemukan passion gua untuk Indonesia dan juga untuk lo.
Gua mendapat pelajaran dari siapapun, tanpa mengenal derajat dan tanpa membedakannya. Dari sahabat, organisasi, sekolah, orangtua, bahkan film keluaran Indonesia sekalipun yang menurut banyak masyarakat sangat tidak mendidik. Loh, siapa bilang? Menurut banyak masyarakat yang selalu diedarkan luas sejak dulu, bahwa film Indonesia genrenya begitu-begitu saja, tidak bermutu. Loh, memang siapa kita? Bisakah kita membuat film seperti mereka yang sudah-sudah? Buktinya, sekarang ini banyak film Indonesia yang bagus; semakin banyak yang berkarya untuk menaikkan rating film karya anak bangsa.
Contoh yang mudah, coba gua sebutkan. Coba ya, apa lo ga setuju. Denias. Film produksi Ari Sihasale dan istrinya beberapa tahun silam; Laskar Pelangi, jebolan dari novel tebal Andrea Hirata; Garuda di Dadaku I & II yang dipersembahkan Kompas; KING yang juga adalah karya Ari Sihasale; atau Pocong juga Pocong dan seputarnya yang sedang booming di bioskop? Masih banyak film produksi anak bangsa cuy yang akan menjadi buah bibir di tahun mendatang. Apa itu kurang membuat lo bangga? Coba jangan dibandingin dulu sama film luar negri deh, tapi apa rating perfilman Indonesia ga semakin naik? Semakin banyak hey! Semakin banyak yang sadar akan potensi bangsa kita. Masih ada kan buktinya anak Indonesia yang kuliah mengambil jurusan perfilman? Film Indonesia gua katakan MASIH punya masa depan yang cerah.
Gua baru nonton garuda di dadaku malem gua meluncurkan entri blog gua ini, dan film itu berhasil membakar semangat gua lagi. Gua katakan secara jujur, kali ini produser film garuda di dadaku berhasil lagi, bahkan lebih dari sebelumnya. Bioskop tidak sepi, tidak juga penuh sesak; tapi impresi yang gua dapatkan dari film Indonesia ini adalah bahwa memang anak INDONESIA sebenarnya MAMPU. Ya, dapat dikembangkan terus, tapi ini adalah awal untuk menjadi batu loncatan kepada sesuatu yang lebih besar.
Identitas kita semua disini adalah menaikkan standar bangsa kita di mata manca negara. Kalau kita berhasil meraik perak di sepak bola SEA GAMES ke-26 kemarin, kita sebagai generasi manapun harus membuat bangsa lain melihat perkembangan kita. Siapa yang tidak mau, melihat bangsanya maju. Banyak orang telah melakukan bagiannya di berbagai bidang, sekarang giliran kita. Harusnya kita bisa seperti saat kita nonton bola, kita semua MENDUKUNG timnas bangsa kita dan mengetahui siapa lawan kita. Bukan malah perang saudara. Saling menyokong bahu sesama untuk masa depan yang terbaik.
Itu sedikit tentang gua dan bangsa gua. Gua harap dari sini lo ngerti; apa hasrat gua sebagai anak muda yang haus akan berkarya untuk bangsa. Garuda di Dadaku, Indonesia harum namamu.
Terima Kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar