Gue baru aja mendengar sebuah berita yang menyayat hati gue sangat dalam. Kejadian ini bukan kejadian pribadi gue, tapi gue tau gimana rasanya kalo gue jadi dia, kalo gue jadi si korban.
Berita ini gue denger dari radio, beberapa jam sebelum ahkirnya gue menyelesaikan postingan blog gue ini.
Pikiran gue ga lepas dari berita yang barusan aja gue denger. Walaupun rasanya kejadian seperti ini ga mungkin terjadi, tapi di setiap negara manapun pasti ada kejadian seperti ini. Mungkin, hanya mungkin, hari ini adalah kali pertama gue mendengarnya.
Dari radio sebuah mobil Nissan March putih yang meluncur kearah Tangerang terdengar sebuah perbincangan mengenai seorang anak Indonesia (perempuan) berusia 13 tahun yang diperkosa oleh seorang Jepang (pria) berusia 38 tahun. Menurut sumber, tersangka sedang mengurus izin cerai dengan istrinya dan sudah tinggal di negri ini belasan tahun lamanya.
Gila. Sungguh, gila.
Nyokap langsung nyeletuk dari kursi pengemudi, “harusnya dibunuh aja tuh orang Jepang. Gatau diri banget. Dia menghancurkan masa depan orang kan kalo kayak gitu. Apalagi anak muda, masa depannya masih panjang. Udah gitu, anak Indonesia lagi! Ato setidaknya di penjara seumur hidup kek…” dengan penuh emosi.
Jujur, gue belum sepenuhnya ngerti kenapa kita harus bersikap seperti itu kepada si tersangka. Umur gue udah 15, tapi entah kenapa kasus ini terdengar terlalu kejam untuk mengakhiri hidup seseorang; meskipun tersangka berlaku sangat buruk.
Semua orang pernah mengalami masa dimana umur mereka 13 tahun. Dan untuk gue, usia 13 tahun itu baru saja berlalu 2 tahun.
Didalam diri gue masih membekas kuat apa yang pernah terjadi di usia itu. Didalam skenario otak gue yang masih cenderung kekanak-kanakan, gue justru berpikir bahwa orang tua anak tersebut adalah orang yang lebih bersalah daripada tersangka. Anak itu masih begitu labil. Ga mungkin kalo tersangka adalah ayahnya anak tersebut rela memperlakukan anaknya seperti itu.
Tersangka memang sudah terbukti salah karena selain karena pemerkosaan, yang paling parah adalah tersangka membunuh mimpi seorang anak bangsa untuk berkarya. Pengalaman seperti ini gue percaya sangat amat traumatis. Entah dia akan berkarya untuk menghalangi orang lain berkejadian yang sama seperti dirinya, atau terpuruk.
Tapi mau kita paksa seperti apapun, balik lagi, semua ini adalah relatif.
Kita sekarang tinggal berharap, bahwa apapun yang akan dilakukan oleh orang yang mengurus kasus ini memilih pilihan yang terbaik atas apa yang akan dilakukannya terhadap tersangka; dengan bijak. Supaya hal ini tidak terulang lagi kedepan.
Gue gamau generasi setelah gue mendengar cerita seperti itu lagi. Kalo bisa, selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar