“I saw her giving a light smile to the world. How pretty her smile
is. And I thought: what life is this, Lord, that you made everything seem so
easy for other people to work out but not me?”
Pernah ngga sih kalian ngerasa aneh ketika kalian takut cicak tapi
orang lain ngga takut cicak?
Atau malah ketika kalian ngga takut sama satu serangga-pun padahal
menurut kalian “orang normal” lainnya memiliki ketakutan pada setidaknya satu
serangga?
Sering – gue malah sering merasakan itu.
Gue ngerasa diri gue ini aneh. “Aneh” bukan dalam artian fisik –
tapi gaya pikir dan pendirian gue sebagai seorang manusia.
Menurut gue, gue adalah salah satu orang yang paling tertutup dari
dunia luar. Gue termasuk jarang membicarakan sesuatu hal pun tentang diri gue
sendiri – kelemahan ataupun kelebihan gue. Gue juga memiliki banyak ketakutan
bodoh yang bahkan teman baik gue yang udah 6 tahun main sama gue pun bisa jadi
ngga sadari.
Hari ini, gue berniat menceritakan ketakutan gue kepada dunia. Gue
pengen orang lain tau sesuatu tentang gue – dan gue sadar bahwa untuk mengenal
gue, kalian akan harus gue bawa kepada ketakutan gue yang terdalam. Gue sedang
belajar; dan walaupun gue takut menerima konsekuensi dari apa yang gue katakan
tentang diri gue sendiri hari ini, gue tau ini adalah hal yang benar yang harus
gue lakukan. Inilah ketakutan gue yang petama.
Gue udah cukup sering bilang bahwa gue adalah seorang pengecut –
satu dari 85% populasi dunia yang ngga berani mengatakan kebenaran yang seharusnya
gue bela. Makanya ketika gue ada masalah sama orang, gue cenderung menyimpannya
sendiri dan merasakan sakit itu sendiri dibandingkan harus menyakiti orang lain
(walaupun gue tau apa yang seharusnya gue katakan ini adalah kebenaran). Gue
tau gue ngga pengen ngeliat hidup orang lain semakin buruk, tapi gue juga ngga
berani kasih tau mereka karna gue tau ngga akan semudah itu juga untuk mengubah
pendirian orang lain least to say that it has been what they lived up for
years.
Ketakutan kedua gue datang dari kesadaran bahwa gue seringkali
kebanyakan ngomong daripada melakukan. Gue sadar sih gue harus ngebantuin
sesuatu – tapi segitu gue dihadapin sama hal yang bisa gue bantuin itu
tiba-tiba gue seakan mati kutu – gue jadi ngga tau apa yang harus gue lakukan
untuk membantu. Gue belajar untuk ngga banyak ngomong sih, sekarang. Tapi hal
ini kemudian membawa gue kepada ketakutan yang ketiga:
Gue takut orang benci sama gue gara-gara sesuatu yang gue katakan –
suatu hal yang hanya akan menjadi omong kosong belaka. Gue takut hanya
gara-gara satu hal salah yang gue katakan maka orang lain akan benci sama gue
dan tidak akan pernah mengampuni gue. Ya, ya. Gue tau apa yang kalian pikirkan:
“kan orang lain akan lebih terbantu untuk memperbaiki diri mereka ketika mereka
tau kelemahan mereka”. Tapi balik lagi kepada ketakutan pertama gue: gue adalah
seorang pengecut, ingat? Gue masih belum berhasil menaklukkan ketakutan pertama
dan terutama gue itu untuk mengatasi masalah yang ini.
Itu adalah tiga dari sekian banyak hal yang akhirnya gue selalu
bikin gue jatuh lebih dalam pada hal yang seharusnya gue perbaiki: memiliki
pendirian gue sendiri.
Untuk beberapa hal oke fine gue merasa bisa mempertahankan
pendirian gue. Tapi seberapa banyak sih hal yang gue bisa pertahankan? Hitungan
jari loh guys – hanya hitungan jari. Sisanya adalah hal-hal yang gue pengen
bisa tentukan gue berdiri disisi mana tapi selalu berujung pada kegagalan karna
ide yang orang lain sampaikan seakan “selalu lebih baik daripada punya gue dan
lebih acceptable dimata guru-guru”. Kurang selfless apa gue disini guys?
SELFLESS BERLEBIHAN, gue tau. Tapi sampe sekarang gue masih belom bisa
mengganti pola pikir ini. Entah genetik, entah apa. Gue juga capek, kok.
Gue ngga pernah tau struggle orang lain gimana ketika mereka harus
menghadapi diri mereka sendiri karna mereka ngga pernah cerita ke gue – tapi
inilah inner struggle yang harus gue hadapi setiap hari dan bahkan hampir
setiap jam dalam hidup gue. Gue cerita ke kalian supaya maybe ketika satu hari
nanti gue masih berusaha melewati struggle gue ini dan ternyata kalian
mengalaminya juga, kita bisa berbagi kisah dan mungkin saja jalan keluarnya. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar