Jumat, 13 Maret 2015

My Inner Struggles


“I saw her giving a light smile to the world. How pretty her smile is. And I thought: what life is this, Lord, that you made everything seem so easy for other people to work out but not me?”
Pernah ngga sih kalian ngerasa aneh ketika kalian takut cicak tapi orang lain ngga takut cicak?
Atau malah ketika kalian ngga takut sama satu serangga-pun padahal menurut kalian “orang normal” lainnya memiliki ketakutan pada setidaknya satu serangga?
Sering – gue malah sering merasakan itu.
Gue ngerasa diri gue ini aneh. “Aneh” bukan dalam artian fisik – tapi gaya pikir dan pendirian gue sebagai seorang manusia.
Menurut gue, gue adalah salah satu orang yang paling tertutup dari dunia luar. Gue termasuk jarang membicarakan sesuatu hal pun tentang diri gue sendiri – kelemahan ataupun kelebihan gue. Gue juga memiliki banyak ketakutan bodoh yang bahkan teman baik gue yang udah 6 tahun main sama gue pun bisa jadi ngga sadari.
Hari ini, gue berniat menceritakan ketakutan gue kepada dunia. Gue pengen orang lain tau sesuatu tentang gue – dan gue sadar bahwa untuk mengenal gue, kalian akan harus gue bawa kepada ketakutan gue yang terdalam. Gue sedang belajar; dan walaupun gue takut menerima konsekuensi dari apa yang gue katakan tentang diri gue sendiri hari ini, gue tau ini adalah hal yang benar yang harus gue lakukan. Inilah ketakutan gue yang petama.
Gue udah cukup sering bilang bahwa gue adalah seorang pengecut – satu dari 85% populasi dunia yang ngga berani mengatakan kebenaran yang seharusnya gue bela. Makanya ketika gue ada masalah sama orang, gue cenderung menyimpannya sendiri dan merasakan sakit itu sendiri dibandingkan harus menyakiti orang lain (walaupun gue tau apa yang seharusnya gue katakan ini adalah kebenaran). Gue tau gue ngga pengen ngeliat hidup orang lain semakin buruk, tapi gue juga ngga berani kasih tau mereka karna gue tau ngga akan semudah itu juga untuk mengubah pendirian orang lain least to say that it has been what they lived up for years.
Ketakutan kedua gue datang dari kesadaran bahwa gue seringkali kebanyakan ngomong daripada melakukan. Gue sadar sih gue harus ngebantuin sesuatu – tapi segitu gue dihadapin sama hal yang bisa gue bantuin itu tiba-tiba gue seakan mati kutu – gue jadi ngga tau apa yang harus gue lakukan untuk membantu. Gue belajar untuk ngga banyak ngomong sih, sekarang. Tapi hal ini kemudian membawa gue kepada ketakutan yang ketiga:
Gue takut orang benci sama gue gara-gara sesuatu yang gue katakan – suatu hal yang hanya akan menjadi omong kosong belaka. Gue takut hanya gara-gara satu hal salah yang gue katakan maka orang lain akan benci sama gue dan tidak akan pernah mengampuni gue. Ya, ya. Gue tau apa yang kalian pikirkan: “kan orang lain akan lebih terbantu untuk memperbaiki diri mereka ketika mereka tau kelemahan mereka”. Tapi balik lagi kepada ketakutan pertama gue: gue adalah seorang pengecut, ingat? Gue masih belum berhasil menaklukkan ketakutan pertama dan terutama gue itu untuk mengatasi masalah yang ini.

Itu adalah tiga dari sekian banyak hal yang akhirnya gue selalu bikin gue jatuh lebih dalam pada hal yang seharusnya gue perbaiki: memiliki pendirian gue sendiri.
Untuk beberapa hal oke fine gue merasa bisa mempertahankan pendirian gue. Tapi seberapa banyak sih hal yang gue bisa pertahankan? Hitungan jari loh guys – hanya hitungan jari. Sisanya adalah hal-hal yang gue pengen bisa tentukan gue berdiri disisi mana tapi selalu berujung pada kegagalan karna ide yang orang lain sampaikan seakan “selalu lebih baik daripada punya gue dan lebih acceptable dimata guru-guru”. Kurang selfless apa gue disini guys? SELFLESS BERLEBIHAN, gue tau. Tapi sampe sekarang gue masih belom bisa mengganti pola pikir ini. Entah genetik, entah apa. Gue juga capek, kok.

Gue ngga pernah tau struggle orang lain gimana ketika mereka harus menghadapi diri mereka sendiri karna mereka ngga pernah cerita ke gue – tapi inilah inner struggle yang harus gue hadapi setiap hari dan bahkan hampir setiap jam dalam hidup gue. Gue cerita ke kalian supaya maybe ketika satu hari nanti gue masih berusaha melewati struggle gue ini dan ternyata kalian mengalaminya juga, kita bisa berbagi kisah dan mungkin saja jalan keluarnya. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar