Kamis, 26 Maret 2015

BEHIND THE SCENE



 Hai guys!
Jadi ceritanya Rabu kemaren kita ada kelas jurnalistik di sekolah yang diconduct oleh representatif dari Media Indonesia (yang selalu gue selalu inget sebagai media kawasan -__-).
This was the essay that I made due to the big project they give us pas pelatihan itu dimana kita dikelompokkin sama anak creative design dan disuruh bikin 1 lembar magazine gitu ceritanya.
Biasa deh, kalo udah gitu pasti gue disuruh nulis. Dan beneran, kali ini gue disuruh nulis feature – sebuah berita yang bersifat longlasting. Dan karna gue ngga biasa, jadinya hasil akhir gue adalah novel-ish form of it (seperti kebiasaan gue nulis di blog). Untungnya sih ada back up dari orang lain, jadi gapapa. HUAH.
I still have a long way to learn mate.
Initially pas gue dapet ide, gue udah tau bahwa ide gue won’t work in such feature news karna a) gue mentok banget disuruh nulis berita longlasting dengan gaada fakta yang bisa gue pegang dan b) otak gue ngga bisa nulis kearah sana.Udah maunya maunya deh nulis novel. Susah.
Walaupun begitu, gue masih akan post hasil yang gue bikin dalam waktu kurang lebih 45’ itu ditengah chaos dan kebuntuan otak gue. Judul essaynya adalah “Behind The Scene”.


Apakah yang orang-orang sebut sebagai takdir, jika garis hidupku tidak seberuntung mereka?
Apakah yang disebut takdir, jikalau aku harus terpaksa tenggelam dalam sesuatu yang tidak dapat aku perbaiki, jika pekerjaanku adalah sebuah sesuatu yang tidak diinginkan oleh manusia manapun termasuk diriku?
Adil, kata mereka? Bagaimana denganku? Adilkah katamu jika aku tidak memiliki kemampuan secara finansial untuk melanjutkan pendidikan? Adilkah katamu jika aku tidak memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja disebuah perusahaan dimana orang lain memiliki kesempatan hanya karna aku tidak mencukupi kriteria mereka?

Namun, disinilah aku berdiri; disebuah ruangan sebuah sekolah dipagi buta. Murid-murid belum datang. Lelah – aku lelah. Walaupun hari ini adalah sebuah hari baru dan matahari baru saja bersinar dari tempat peraduan ketika malam tiba, aku sudah merasa tidak sanggup. Setiap hari aku membersihkan kelas mereka, kamar mandi untuk mereka pakai, menyapu, mengepel, semuanya. Tapi apa reaksi mereka? Sama sekali tidak ada rasa terima kasihnya! Mereka hanya lalu lalang dengan senyuman diwajah mereka. Apakah aku harus iri atau merasa senang, aku tidak tahu. Yang aku tahu adalah aku ingin segera pulang dan melepas lelah.
Sudah lima tahun lamanya aku bekerja disini. Awalnya, seperti banyak pekerja lain, aku merasa cukup puas dengan pekerjaan ini. Aku merasa puas karena setelah sekian lama akhirnya aku mampu membiayai diriku sendiri dan sedikit meringankan beban orang tuaku yang usianya sudah menjelang senjanya. Namun setelah setahun lebih dengan kurangnya perhatian dan apresiasi tempat kerja, aku lesu. Aku kian merasa lelah dengan tiap tawa mereka yang seakan ditujukan hanya kepadaku.

Akulah sang petugas kebersihan sekolah. Tugasku, adalah membuat sesi belajar mereka lebih menyenangkan dengan kelas yang bersih dan mengilap walaupun itu berarti mengorbankan kebahagiaanku dan terpaksa menerima dengan lapang dada apapun yang sudah ditakdirkan sang Maha Kuasa untukku. Jika mereka dapat berbahagia dengan apa yang aku kerjakan, maka aku akan turut dalam sukacita mereka. Jika dalam kebisuan dan ketidakperhatian mereka akan menjadi lebih berhasil daripadaku, maka itulah tujuan hidupku; aku berjanji bahwa aku akan puas dengan apa yang aku lakukan. Apalah arti menjadi sesuatu yang dapat dilihat orang lain namun tidak berarti apa-apa? Mungkin, pekerjaankumasih lebih berarti, dibelakang layar. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar