Sabtu, 04 Oktober 2014

Thoughts on What Shouldn’t Be Thought of

Kadang sesuatu emang lebih baik ngga dipikirin, sih.
Makin dipikirin jadi makin berasa beban yang harus dipikul.
Makin dipikirin makin ga kepengen ngejalanin sisa waktu yang emang harusnya dijalanin.
Makin dipikirin rasanya makin ngga mau cepet gede.
Makin dipikirin makin ngga rela, sih.

But how to set this straight, though: otak manusia ini suka banget mainin tipuan kartunya dan membuat kita ujung-ujungnya mikirin juga hal-hal yang ngga mau kita pikirin itu sebagaimanapun kita berusaha menghindarinya.

Tentang harus persiapin UN.
Tentang harus move on dari SMA dan pergi kuliah.
Tentang harus bertumbuh dewasa, kerja, dan memulai keluarga kita sendiri.
Tentang ekspektasi setiap orang tua manapun supaya anaknya mapan dan kalo bisa ngelanjutin usaha mereka.
Tentang kawin dan ternyata salah pilih pasangan.
Tentang harus pisah dari orangtua yang udah ngebesarin kita – baik secara harafiah maupun sebenarnya.
Tentang bayangan sulitnya mendidik anak-anak pada masa mendatang.
Tentang harus kehilangan orang-orang terdekat yang kita kasihi.
Tentang kedatangan kedua.
Tentang kematian.

Dan beneran deh, ngga ada orang manapun yang lebih hebat maupun lebih buruk dari gue dari cara mereka untuk ngga pernah ngomongin hal-hal diatas. Cepat atau lambat semuanya akan diurutkan pada otak masing-masing manusia untuk disinggung dan dibicarakan.

Mendadak gue jadi takut kuliah. Gue jadi takut keluar dari cangkang 12 tahun kenyamanan belajar dan mikir masih punya sisa beberapa tahun lamanya untuk merencanakan ulang bagaimana gue akan menjalani masa depan. Gue jadi takut kalo gue ternyata gagal beradaptasi sama masa depan yang makin semraut ini. Gue takut ngecewain orangtua gue dan terutama diri gue sendiri. Gue takut, kalo ternyata gue sama seperti banyak orang diluar sana yang sankingan udah ngga tahan bernafas lagi akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara yang itu-itu lagi. Gue takut nambah beban pengeluaran negara dan bukan mengharumkan nama mereka; nama pejuang yang udah berceceran darah demi lahirnya sebuah bangsa. Gue takut aja, sih, bahwa akhirnya gue harus bener-bener nelen fakta bahwa segala apapun yang gue bayangin tentang dunia yang lebih aman, tentram, adil, dan makmur ngga akan pernah sedikitpun tercapai; bahwa yang terjadi emang kebalikan dari semua apapun yang gue harapkan dan akhirnya berhenti berharap tentang semuanya yang pernah menjadi sebuh harapan.

Bahwa lagi-lagi gue harus ngalamin patah hati ngga bisa mencapai sebuah mimpi.
Gue akan harus menghadapi dunia yang rusak dan perlahan-lahan mati dalam diamnya.
Gue akan harus berpisah dengan wajah-wajah yang sudah sangat gue kenal; suara-suara yang membangun siapa diri gue hari ini.
Gue akan harus rela mengorbankan keringat yang tidak berbayar setimpal.
Gue akan harus mengerti bahwa apapun aspirasi yang coba gue keluarkan ngga akan pernah dianggap apapun karna gue hanyalah satu dari sekian juta umat yang tinggal disebuah negara kepulauan.

Sering kali orang pikir dengan menulis sesorang akan menjadi jauh lebih berani. Orang pikir gue adalah seseorang yang kuat dan berani karna gue nulis dan ngga pernah terlihat sedih atau kecewa didepan mereka.
Namun menurut gue pikiran mereka mengenai menulis maupun tentang gue salah. Mereka ngga tau seberapa banyak perasaan gundah yang dilibatkan dalam proses penulisan maupun pembentukan jati diri ini. Mereka ngga tau seberapa hancurnya kepingan hati ini ketika gue harus memaksakan diri gue tertancap pada duri bunga mawar. Mereka ngga tau, bahwa kadang – beberapa hal emang jauh lebih baik ketika dibiarkan dalam diam. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar