HEY GUYS. Back to weekend bloggings. Ceritanya entri yang ini gue bikin
karna gue lagi ikut lomba cerita mini buat acara bulan bahasa sekolah gue yang
bakal diadain Selasa depan. Gue bikin 2 cerita yang gue harus pilih salah
satunya untuk gue submit. ‘Dalam Diam’ adalah cermin yang ngga gue sumbit ke
panitia karna a) gue bikin entri ini dalam waktu semalem dan b) karna cuman
proses semalem, gue ngga puas sama hasil yang gue kasih dalam kisah ini karna
menurut gue terlalu patah antar scene (jauh dari harapan gue yang nyambung
mulus gitu). So, yeah. Semalem coy. Macem cerita Tangkuban Perahu gitu ya...
Tapi gue ngga akan upload apa yang gue kirim ke
panitia karna itu rahasia publik. Tapi darisini gue sadar bahwa gue sama sekali
ngga memiliki kemampuan untuk nulis cerita pendek kecuali terinspirasi dari
cinta gue yang selalu bertepuk sebelah tangan #curhat. Oke. Cukup. So here we
go. ENJOY!
Sinar sore
yang hangat menembus kilauan kaca dalam keheningan hangatnya.
Diam, gedung
yang berdiri selama bertahun-tahun itu telah berdiri dalam diam.
Gedung itu
telah memperhatikan setiap pagi yang datang dengan keramaian dan setiap sore
yang pergi dalam hening.
Sore itu sama
seperti sore-sore lainnya ketika malam turun dan gedung menjadi sepi ketika
salah satu anak bangsa menyusuri tangga utama yang sepi.
Namanya Bagas;
seorang jurnalis harian media cetak bangsa yang namanya membawanya kepada
banyak panggilan internasional untuk berbicara dan berbagi mengenai
pengalamannya selama menulis dan menjelajahi dunia. Bangunan yang baru saja ia
terlusuri tangga-tangganya adalah sebuah bangunan sekolah dimana ia mengecap
pendidikan menengah keatasnya kurang lebih 7 tahun lalu.
Hari ini
bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda; sebuah hari yang bersejarah bagi Bagas serta
banyak anak muda Indonesia lainnya ketika mereka mengaku berbangsa, berbahasa, dan
bernegara yang satu. Bagas selalu mendapat kehormatan untuk menjadi petugas sumpah
pemuda ketika sekolah dulu – dan kegiatan mengunjungi sekolah sudah menjadi
kebiasaan tahunan baginya ketika Bagas akhirnya lulus. Ia selalu menyempatkan
diri untuk berkunjung untuk melihat perkembangan sekolah yang telah membesarkan
namanya itu sesibuk apapun dirinya.
Semua seperti
cerita ulas kembali ketika Bagas baru saja datang sore tadi. Menaiki
tangga-tangga menuju ruang guru, ia ingat sekali betapa ia dulu membenci
kegiatan yang ia rindukan sekarang; untuk hanya bahkan naik tangga menuju ruang
kelasnya. Juga bagaimana ia bermain basket di lapangan atas ketika waktu
istirahat tiba, nongkrong dan berbincang dengan sobat-sobat putih abu-abunya
ketika sore datang dan mereka enggan pulang, serta guru-gurunya yang setia
mengingatkannya untuk belajar. Semua ingatan itu merasuk pikiran Bagas dan memberi sinyal kepada pupilarinya untuk
meneteskan air mata.
Ketika masuk
ke ruang guru, ia melihat beberapa wajah lama yang ia kenal betul. Sosok guru
geografinya, Pak Mukhlis, yang telah sangat sabar menghadapinya semasa SMA dulu
tersenyum lebar ketika melihat wajah gempal Bagas memasuki ruangan. Jelas
terlihat guratan yang dulu masih halus kini nampak jelas seiring dengan waktu
yang bergulir. Juga sosok guru sejarah favoritnya yang mahir menyihir seluruh
murid mengenai kisah sejarah sehingga kisah-kisah itu seakan hidup dan
anak-anak menjadi bagian perjuangan para pahlawan, Bu Jumrinah. Dan satu sosok
lain yang begitu ia rindukan adalah wajah kepala sekolah mereka dulu yang
sekarang ternyata menjadi guru agama, Bu Linawati. Sosok Bu Lina begitu berarti
bagi Bagas karna ketika SMA dulu, Bu Lina-lah yang banyak membantu Bagas dalam
memperbaiki watak dan tingkah lakunya. Bu Lina-lah yang mendengarkan dan peduli
terhadap kisah hidup Bagas yang masih memerlukan banyak pembuktian.
Setengah jam
berlalu – Bagas nampak masih asyik berbincang dengan Bu Lina disalah satu ruang
kelas ketika sosok Bu Lina tiba-tiba menyinggung tentang bagaimana ia begitu bangga
terhadap pencapaian Bagas; bagaimana sedari dulu ia percaya terhadap mimpi dan
setiap cita-cita Bagas, bagaimana ia begitu menyukai hasil karya Bagas yang
kini selalu tak sabar ia baca tiap pagi. Baginya, Bagas sudah berhasil mencapai
cita-citanya yang berangkat dari keinginan kecil seorang anak muda untuk
menulis dan meninggalkan sebuah jejak mengenai kehidupannya. Ia kagum, bahwa
pada era globalisasi ini masih ada anak muda yang tulisannya begitu menggubah
dan begitu penuh hasrat sehingga siapapun yang membacanya akan berusaha dengan
sekuat tenaga untuk berbuat.
Kemudian
semuanya menjadi begitu jelas bagi Bagas. Ia ingat bagaimana dulu ia berusaha
untuk membuktikan bahwa apapun, jika dijalani dari hati yang terdalam akan
menghasilkan buah yang lebih baik daripada pekerjaan yang setengah hati
dijalankan. Sedari dahulu Bagas juga percaya bahwa ikatan yang dibentuk oleh
siswa-siswi maupun guru-guru secara bergantian akan membuahkan sebuah harmoni yang
indah bagi langit Indonesia yang telah memberikan tanah dan airnya; walaupun entah
bagaimana pembuktiannya. Bertahun-tahun pula Bagas mencari arti bagi kata
“sepenuh hati” yang harusnya dijalani tiap orang untuk mencapai kehidupan
maksimalnya. Dan ia ingat sekarang dengan penglihatannya akan guru-guru yang
bertahan di sekolah ini bahwa kenyamanan lingkungan kerja serta panggilan bagi
pekerjaan itu sendiri akan mengalahkan segala keburukan tempat itu maupun
seberapa kecil penghasilannya. Bahwa ternyata salah selama ini jika kita
mengatakan bahwa hidup itu selalu tentang cara memperoleh harta
sebanyak-banyaknya dan mendapatkan pasangan yang sempurna.
Ternyata
jawaban yang selama ini Bagas cari terletak pada guru-gurunya yang telah
meninggalkan goresan yang lebih dalam terhadap pencerdasan bangsa. Mereka yang membuktikan
persepsi Bagas mengenai hidup dan panggilan itu benar.
Ketika hujan
rintik-rintik mulai berjatuhan di bumi pertiwi, Bagas makin dibuat kagum dengan
bagaimana gedung sekolah itu sudah menyaksikannya selama bertahun-tahun – semua
didalam diamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar