Jumat, 24 Oktober 2014

Dalam Diam



HEY GUYS. Back to weekend bloggings. Ceritanya entri yang ini gue bikin karna gue lagi ikut lomba cerita mini buat acara bulan bahasa sekolah gue yang bakal diadain Selasa depan. Gue bikin 2 cerita yang gue harus pilih salah satunya untuk gue submit. ‘Dalam Diam’ adalah cermin yang ngga gue sumbit ke panitia karna a) gue bikin entri ini dalam waktu semalem dan b) karna cuman proses semalem, gue ngga puas sama hasil yang gue kasih dalam kisah ini karna menurut gue terlalu patah antar scene (jauh dari harapan gue yang nyambung mulus gitu). So, yeah. Semalem coy. Macem cerita Tangkuban Perahu gitu ya...
Tapi gue ngga akan upload apa yang gue kirim ke panitia karna itu rahasia publik. Tapi darisini gue sadar bahwa gue sama sekali ngga memiliki kemampuan untuk nulis cerita pendek kecuali terinspirasi dari cinta gue yang selalu bertepuk sebelah tangan #curhat. Oke. Cukup. So here we go. ENJOY!


Sinar sore yang hangat menembus kilauan kaca dalam keheningan hangatnya.
Diam, gedung yang berdiri selama bertahun-tahun itu telah berdiri dalam diam.
Gedung itu telah memperhatikan setiap pagi yang datang dengan keramaian dan setiap sore yang pergi dalam hening.
Sore itu sama seperti sore-sore lainnya ketika malam turun dan gedung menjadi sepi ketika salah satu anak bangsa menyusuri tangga utama yang sepi.
Namanya Bagas; seorang jurnalis harian media cetak bangsa yang namanya membawanya kepada banyak panggilan internasional untuk berbicara dan berbagi mengenai pengalamannya selama menulis dan menjelajahi dunia. Bangunan yang baru saja ia terlusuri tangga-tangganya adalah sebuah bangunan sekolah dimana ia mengecap pendidikan menengah keatasnya kurang lebih 7 tahun lalu.
Hari ini bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda; sebuah hari yang bersejarah bagi Bagas serta banyak anak muda Indonesia lainnya ketika mereka mengaku berbangsa, berbahasa, dan bernegara yang satu. Bagas selalu mendapat kehormatan untuk menjadi petugas sumpah pemuda ketika sekolah dulu – dan kegiatan mengunjungi sekolah sudah menjadi kebiasaan tahunan baginya ketika Bagas akhirnya lulus. Ia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung untuk melihat perkembangan sekolah yang telah membesarkan namanya itu sesibuk apapun dirinya.
Semua seperti cerita ulas kembali ketika Bagas baru saja datang sore tadi. Menaiki tangga-tangga menuju ruang guru, ia ingat sekali betapa ia dulu membenci kegiatan yang ia rindukan sekarang; untuk hanya bahkan naik tangga menuju ruang kelasnya. Juga bagaimana ia bermain basket di lapangan atas ketika waktu istirahat tiba, nongkrong dan berbincang dengan sobat-sobat putih abu-abunya ketika sore datang dan mereka enggan pulang, serta guru-gurunya yang setia mengingatkannya untuk belajar. Semua ingatan itu merasuk pikiran  Bagas dan memberi sinyal kepada pupilarinya untuk meneteskan air mata.
Ketika masuk ke ruang guru, ia melihat beberapa wajah lama yang ia kenal betul. Sosok guru geografinya, Pak Mukhlis, yang telah sangat sabar menghadapinya semasa SMA dulu tersenyum lebar ketika melihat wajah gempal Bagas memasuki ruangan. Jelas terlihat guratan yang dulu masih halus kini nampak jelas seiring dengan waktu yang bergulir. Juga sosok guru sejarah favoritnya yang mahir menyihir seluruh murid mengenai kisah sejarah sehingga kisah-kisah itu seakan hidup dan anak-anak menjadi bagian perjuangan para pahlawan, Bu Jumrinah. Dan satu sosok lain yang begitu ia rindukan adalah wajah kepala sekolah mereka dulu yang sekarang ternyata menjadi guru agama, Bu Linawati. Sosok Bu Lina begitu berarti bagi Bagas karna ketika SMA dulu, Bu Lina-lah yang banyak membantu Bagas dalam memperbaiki watak dan tingkah lakunya. Bu Lina-lah yang mendengarkan dan peduli terhadap kisah hidup Bagas yang masih memerlukan banyak pembuktian.
Setengah jam berlalu – Bagas nampak masih asyik berbincang dengan Bu Lina disalah satu ruang kelas ketika sosok Bu Lina tiba-tiba menyinggung tentang bagaimana ia begitu bangga terhadap pencapaian Bagas; bagaimana sedari dulu ia percaya terhadap mimpi dan setiap cita-cita Bagas, bagaimana ia begitu menyukai hasil karya Bagas yang kini selalu tak sabar ia baca tiap pagi. Baginya, Bagas sudah berhasil mencapai cita-citanya yang berangkat dari keinginan kecil seorang anak muda untuk menulis dan meninggalkan sebuah jejak mengenai kehidupannya. Ia kagum, bahwa pada era globalisasi ini masih ada anak muda yang tulisannya begitu menggubah dan begitu penuh hasrat sehingga siapapun yang membacanya akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk berbuat.
Kemudian semuanya menjadi begitu jelas bagi Bagas. Ia ingat bagaimana dulu ia berusaha untuk membuktikan bahwa apapun, jika dijalani dari hati yang terdalam akan menghasilkan buah yang lebih baik daripada pekerjaan yang setengah hati dijalankan. Sedari dahulu Bagas juga percaya bahwa ikatan yang dibentuk oleh siswa-siswi maupun guru-guru secara bergantian akan membuahkan sebuah harmoni yang indah bagi langit Indonesia yang telah memberikan tanah dan airnya; walaupun entah bagaimana pembuktiannya. Bertahun-tahun pula Bagas mencari arti bagi kata “sepenuh hati” yang harusnya dijalani tiap orang untuk mencapai kehidupan maksimalnya. Dan ia ingat sekarang dengan penglihatannya akan guru-guru yang bertahan di sekolah ini bahwa kenyamanan lingkungan kerja serta panggilan bagi pekerjaan itu sendiri akan mengalahkan segala keburukan tempat itu maupun seberapa kecil penghasilannya. Bahwa ternyata salah selama ini jika kita mengatakan bahwa hidup itu selalu tentang cara memperoleh harta sebanyak-banyaknya dan mendapatkan pasangan yang sempurna.
Ternyata jawaban yang selama ini Bagas cari terletak pada guru-gurunya yang telah meninggalkan goresan yang lebih dalam terhadap pencerdasan bangsa. Mereka yang membuktikan persepsi Bagas mengenai hidup dan panggilan itu benar.
Ketika hujan rintik-rintik mulai berjatuhan di bumi pertiwi, Bagas makin dibuat kagum dengan bagaimana gedung sekolah itu sudah menyaksikannya selama bertahun-tahun – semua didalam diamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar