Selasa, 07 Januari 2014

Left Unanswered. Part 5

'Kenapa cewek suka ngomongin orang?'
I’ve never heard that question been answered before. I’ve never heard people asking me those questions either. But guess what. This mainstream question sticks to me as I was left in wonder.
Sankingan pertanyaan ini udah terlalu mainstream, orang udah ngga perduli lagi pertanyaannya kejawab apa engga. “Udah terlalu biasa”, katanya; sampe kalo ngga mau dijawab juga ngga apa-apa. Sampe kalo ditanyain begitu sama orang juga pasti udah ngga berasa aneh. We are living in the mode of comfortal questions sih ya, karena udah sanking sering ditanyainnya kita ngga perlu mikir lagi untuk jawab ato engga. But to be honest, seriously, sebenernya jawabannya apa?
Sama kayak ketika lu ditanyain gender ato siapa penyanyi lagu Payphone, gue pikir pertanyaan seperti ini lebih baik gue kategorikan sebagai pertanyaan retoris: sebuah pertanyaan yang jawabannya udah jelas, ngga perlu gue jawab lagi, dan ngga penting untuk ditanyakan. “Dibiarkan tak terjawab lebih baik” kalo kakek gue bilang sih; daripada gue harus kecewa sama jawabannya yang ngga pernah akan membuat gue puas.
Apakah gue kebanyakan nanya sampe udah ngga ada yang mau meluangkan waktu untuk menjawab lagi? Apakah gue terlalu banyak pengen tau sampe orang lain udah ngga mau tau lagi gue mau nanya apa engga? Apakah salah kalo gue pengen tau? Apa gue harus bungkam kemudian? Apakah gue melakukan hal yang benar dengan bertanya?
Dan kemudian, gue mentok. Ngga tau mau ngomong apa lagi. I guess this is the most tragic ending to a sequel I’ve ever had in my entire life. Gue bukan cuman ngga menemukan jawabannya, gue sendiri membiarkan segalanya hanya menggantung diatas awang gue – semakin tertumpuk dan tertumpuk.
Sometimes I wonder, are questions like these worth the answers. Are we supposed to answer those questions or just let it be better left unanswered –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar