Gue yakin sebenernya power ranger pas baru pertama kali dapet kekuatannya untuk berubah pasti transformasinya sakit.
Hulk juga. (padahal dia cuman harus marah kalo mau berubah wujud).
Cuman mereka ngga pernah bilang aja kan kalo hal semacem itu sebenernya sakit?
Mereka cuman ngasih liat kita apa yang
kita mau liat –
apa yang dunia kita butuhkan:
seorang pahlawan, seorang penyelamat.
Padahal didalam kekristenan sendiri kita punya penyelamat
(gue gak tau soal agama lain. Beberapa ngga punya
“penyelamat” untuk sampai kepada surganya mereka. They’re their own savior).
Kita ngga tau pengorbanan yang mereka lakukan untuk sebuah perubahan; berapa banyak emosi yang terlibat untuk perubahan itu, siapa aja yang
udah kena getahnya duluan, dan yang paling penting: alasan dasar kenapa orang tersebut harus berubah. Rasa-rasanya, perubahan selalu menuntut
sebuah harga yang mahal.
“Apa sih sebenernya yang
lebih menyakitkan daripada ngeliat sahabat yang dulu lu kenal dan deket banget
sama lu, sekarang udah berubah Glo? Berubah dan lu gak tau kenapa dia berubah.
Mau diusahain kayak dulu lagi udah ga bisa. Dan semuanya left unanswered."
Tadinya gue mau jawab
‘iya, gue juga jomblo kok’. Hm.
Kalo gue tanya soal perubahan, mungkin perubahan yang paling susah sebenernya adalah ngeliat orang lain berubah secara emosi dan kita
yang disekelilingnya kena dampaknya (ato lebih tragis lagi cuman bisa ngeliatin
doang dari jauh tanpa bisa lakuin apa-apa). Mungkin kata-katanya
bukan “susah banget ngeliat mereka berubah”, it’s more of the SAD thing when we, their friends, harus ngeliat sifat
lama mereka yang kita suka banget, yang menurut kita paling menarik dari mereka
harus hilang gitu aja dan digantikan dengan yang baru. Mending kalo berubahnya
jadi bagusan dikit. Nah ini masalahnya perubahan itu tuh biasanya jadi lebih
menyedihkan daripada sebelumnya. Karakter gila mereka masih ada disitu, but the way they see and/or feel things
are just so different now. Fakta itu yang susah kita terima.
Ya, emang ngga ada yang lebih menyakitkan daripada sahabat lama yang udah ngga ada lagi buat kita tanpa kita ketahui alasan dibalik kepergiannya. Apa yang lebih perih daripada itu, ato daripada menaruh cuka pada luka. Nggak ada bro, nggak ada. Tapi kenapa ya kita harus ngalamin kejadian begini juga, kita harus berhubungan dengan masalah perubahan dalam persahabatan? Entah. Gue cuman berhasil menerka-nerka.
Siapa tau, “rumah” yang
kita sediain buat mantan sahabat kita ini udah ngga senyaman ketika dulu mereka
bisa mengatakan mereka bangga kenal sama kita. Atau rasa percaya dan aman yang
udah ngga setinggi dulu lagi sampe dia harus ngerelain kita pergi. Entahlah, emang
udah terlalu sempit kali ruangan itu buat dirinya.
Mungkin aja kita berdua
lagi keluar untuk mencari angin; but where were we when we needed each other’s
back? Where were we when we need their shoulder to cry on? Could they still be
waiting for us at the corner we first met?
Mungkin sebenernya ngga
selalu dia yang berubah. Mungkin kita juga udah berubah – bukan kayak kita
yang dulu lagi. Awalnya perasaan itu terkesan bener untuk membiarkan saling
mencari teman lain, tapi akhirnya kebablasan gini. Bisa jadi ga sih kita yang
malah dorong mereka pergi dari kehidupan kita?
Atau, ada
pemikiran-pemikiran yang pada akhirnya ngga pernah kita utarakan kepada dia
karena kita takut menyakiti perasaannya. Jujur deh, lebih takut nyakitin
perasaannya atau lebih takut kehilangan dia? Lebih takut kehilangan, sering
kali. Dan pada akhirnya, jawaban yang paling logis yang bisa gue dapatkan untuk
penghiburan adalah bahwa emang bukan dia aja orangnya buat jadi sahabat setia
kita.
Sometimes, all we need to
do is ask “what’s next, Lord?” for the things we leave unanswered. Yea,
sometimes, it takes the randomest explorations to finish your sentence. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar