Kenapa harus ada anak-anak kayak Jensae, yang sebenernya adalah anak yang baik tapi harus ngalamin kehidupan yang dalam status “ngga diinginkan serumah” dengan ayah dan ibunya? Jensae bukan anak satu-satunya; dia punya 2 orang kakak.
Kenapa
harus ada anak yang udah susah-susah dilahirin, tapi begitu bisa ‘oek’ dibuang
ibunya ke panti asuhan? Terus ntar udah gede baru dicari-cari deh tuh anak; entah
disuruh kerja, entah disuruh jualan kangkung dipasar. Ni ibu makan nasi gak
sih.
Kenapa
ada anak-anak yang harus cacat fisik seumur hidup tapi malah lebih
menyumbangkan sesuatu yang positif kepada dunia dibandingkan anak-anak yang
fisiknya sempurna? Mereka kesannya lebih... berjasa daripada kita.
Kenapa
anak-anak kembar harus selalu ingin terlihat berbeda dengan kembarannya
sementara anak-anak yang dilahirkan sendiri malah mati-matian ingin memiliki
saudara kembar?
Kenapa
harus ada anak-anak yang deket sama orangtuanya tapi ngga punya kebebasan untuk
bergaul dan ngumpul-ngumpul sama temen-temennya? Kenapa ada anak-anak yang
sebaliknya, yang orangtuanya ngga perduli nyaris sama sekali tapi bukannya
rusak, mereka malah jadi “malaikat-malaikat” sejatinya dunia?
Kenapa
kita yang di kota punya orangtua deket salah, jauh salah, sedeng juga salah?
Gimana kalo orang tua kita kayak anak-anak di kampung yang orangtuanya harus
pergi merantau dan ga pernah balik lagi selama lebih dari separuh hidupnya?
Kenapa
anak-anak ini ga boleh segini-segini aja, kenapa mereka ngga boleh ngga
bertumbuh? Kenapa mereka harus terjebak juga dalam hidup yang rumit nan jahat, yang sebenernya ngga akan
pernah lebih baik daripada kemaren?
Gue
ngga pernah ngerti kenapa ketidak-adilan terhadap anak-anak harus bergitu
sering terjadi terutama di negara gue yang masih belajar sehingga hal-hal
semacam ini terkesan sudah biasa dan tidak menyedihkan lagi bagi para
penontonnya. Ya, berita anaknya diperkosa sama ibu tirinya lah, anak tetangga dibunuh
sama om-nya lah, om-nya ternyata waria lah, ibu jual anak lah, anak jualan
kangkung lah, ayah jual anak lah, ibu bunuh anak lah, ayah bunuh ibu lah, ibu
bunuh ayah lah, sekeluarga mati aja bareng
lah.
Capek
batin gue denger semua berita itu.
Bukan
capek lagi. Nangis hati gue ngeliat nasib mereka yang seharusnya mungkin bisa
mendapatkan kehidupan selayak gue detik ini.
Fakta
menyedihkan ini mau ditolak nggak bisa (karna itu fakta bener-bener terjadi
disekitar gue, ditempat-tempat yang bener-bener deket sama hati gue), mau
ngelakuin sesuatu juga ngga tau apa, dan terlebih penting daripada cuman “ngga
tau apa” adalah apakah gue sebenernya ‘bisa’ membuat perubahan itu. Dan setelah
itu, semuanya mulai terasa menyedihkan lagi. Dan lebih tragisnya, gue ngga
pernah mendapatkan jawaban atas segala ketidak-mengertian gue atas mengapa
harus terjadinya kasus-kasus ini terhadap seorang anak. I am left in wondering
how their life are like if their environment is different by being left
unanswered. Yeah, I never actually understood why.
Ditinggalkan
tak terjawab, gue masih kepikiran anak-anak yang harus mati gara-gara kurang
gizi atau semacem penyakitnya itu di ujung Indonesia timur sana. HIV, kanker,
paru-paru, semuanya yang begituan. Mereka kayaknya masih terlalu kecil untuk
menjalani semua hal itu. Kemoterapi, diasingkan, dilupakan, ngga dibawa ke
dokter lagi karena mama mereka udah ngga punya duit. Mereka masih terlalu polos
dan ngga ngerti apa-apa kecuali kalo mereka bisa aja udah ngga bisa menjalani
cita-cita mereka kecuali mereka sembuh. Mereka ngga tau kalo papa mama mereka
udah nyerah. Sedih.
Gue
jadi inget sebuah pengalaman sekitar 2 taun lalu ketika gue lagi di Lombok. Gue
tinggal sekitar 2 malem disebuah hotel dan abis itu dilanjutin ke Bali. Hari
pertama gue disana, gue langsung ditohok sama obrolan gue dengan seorang gadis
Lombok. Umurnya ngga beda jauh sama gue, paling sekitar 14 tahun waktu itu. Gue
ngga nanya macem-macem sih sebenernya, dan dia juga ngga jawab macem-macem. Dan
waktu itu, keheningan darinya berbicara untuk segalanya; bahwa dia emang ngga
punya cita-cita. Buat dia, hidup yaudah jalanin aja hidup. Mau lu besok masih
hidup dan jomblo kek, masih hidup tapi kawin lari kek, mau hidup tapi
sakit-sakitan kek, yang penting apapun caranya dia harus dapet uang secara
halal dan bisa makan. Itu aja. Hati gue serasa terbakar begitu gue tau dia ngga
punya cita-cita. Ga kebayang kalo gue yang harus jadi dia. Bisa mogok sekolah
kali gue.
Sometimes
gue berpikir, gimana kekuatan cita-cita itu sebenernya sama aja sama harapan
dan cinta. Some other times, gue berpikir bahwa gue ini ngga punya cita-cita.
Tapi kalo gue setarakan cita-cita dengn harapan dan cinta, berarti gue ngga
punya harapan, cinta, DAN cita-cita dong? Gue jadi bingung sendiri.
Tuh
kan, ngga berujung pada jawaban lagi. Ujung-ujungnya pertanyaan-pertanyaan gue
ini hanya membuahkan kebingungan yang lebih daripada sebelumnya. Tetap, tak
terjawabkan. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar