Senin, 06 Januari 2014

Left Unanswered. Part 3


Kenapa harus ada anak-anak kayak Jensae, yang sebenernya adalah anak yang baik tapi harus ngalamin kehidupan yang dalam status “ngga diinginkan serumah” dengan ayah dan ibunya?  Jensae bukan anak satu-satunya; dia punya 2 orang kakak.

Kenapa harus ada anak yang udah susah-susah dilahirin, tapi begitu bisa ‘oek’ dibuang ibunya ke panti asuhan? Terus ntar udah gede baru dicari-cari deh tuh anak; entah disuruh kerja, entah disuruh jualan kangkung dipasar. Ni ibu makan nasi gak sih.
Kenapa ada anak-anak yang harus cacat fisik seumur hidup tapi malah lebih menyumbangkan sesuatu yang positif kepada dunia dibandingkan anak-anak yang fisiknya sempurna? Mereka kesannya lebih... berjasa daripada kita.
Kenapa anak-anak kembar harus selalu ingin terlihat berbeda dengan kembarannya sementara anak-anak yang dilahirkan sendiri malah mati-matian ingin memiliki saudara kembar?
Kenapa harus ada anak-anak yang deket sama orangtuanya tapi ngga punya kebebasan untuk bergaul dan ngumpul-ngumpul sama temen-temennya? Kenapa ada anak-anak yang sebaliknya, yang orangtuanya ngga perduli nyaris sama sekali tapi bukannya rusak, mereka malah jadi “malaikat-malaikat” sejatinya dunia?
Kenapa kita yang di kota punya orangtua deket salah, jauh salah, sedeng juga salah? Gimana kalo orang tua kita kayak anak-anak di kampung yang orangtuanya harus pergi merantau dan ga pernah balik lagi selama lebih dari separuh hidupnya?
Kenapa anak-anak ini ga boleh segini-segini aja, kenapa mereka ngga boleh ngga bertumbuh? Kenapa mereka harus terjebak juga dalam hidup yang  rumit nan jahat, yang sebenernya ngga akan pernah lebih baik daripada kemaren?
Gue ngga pernah ngerti kenapa ketidak-adilan terhadap anak-anak harus bergitu sering terjadi terutama di negara gue yang masih belajar sehingga hal-hal semacam ini terkesan sudah biasa dan tidak menyedihkan lagi bagi para penontonnya. Ya, berita anaknya diperkosa sama ibu tirinya lah, anak tetangga dibunuh sama om-nya lah, om-nya ternyata waria lah, ibu jual anak lah, anak jualan kangkung lah, ayah jual anak lah, ibu bunuh anak lah, ayah bunuh ibu lah, ibu bunuh ayah lah,  sekeluarga mati aja bareng lah.
Capek batin gue denger semua berita itu.
Bukan capek lagi. Nangis hati gue ngeliat nasib mereka yang seharusnya mungkin bisa mendapatkan kehidupan selayak gue detik ini.
Fakta menyedihkan ini mau ditolak nggak bisa (karna itu fakta bener-bener terjadi disekitar gue, ditempat-tempat yang bener-bener deket sama hati gue), mau ngelakuin sesuatu juga ngga tau apa, dan terlebih penting daripada cuman “ngga tau apa” adalah apakah gue sebenernya ‘bisa’ membuat perubahan itu. Dan setelah itu, semuanya mulai terasa menyedihkan lagi. Dan lebih tragisnya, gue ngga pernah mendapatkan jawaban atas segala ketidak-mengertian gue atas mengapa harus terjadinya kasus-kasus ini terhadap seorang anak. I am left in wondering how their life are like if their environment is different by being left unanswered. Yeah, I never actually understood why.
Ditinggalkan tak terjawab, gue masih kepikiran anak-anak yang harus mati gara-gara kurang gizi atau semacem penyakitnya itu di ujung Indonesia timur sana. HIV, kanker, paru-paru, semuanya yang begituan. Mereka kayaknya masih terlalu kecil untuk menjalani semua hal itu. Kemoterapi, diasingkan, dilupakan, ngga dibawa ke dokter lagi karena mama mereka udah ngga punya duit. Mereka masih terlalu polos dan ngga ngerti apa-apa kecuali kalo mereka bisa aja udah ngga bisa menjalani cita-cita mereka kecuali mereka sembuh. Mereka ngga tau kalo papa mama mereka udah nyerah. Sedih.
Gue jadi inget sebuah pengalaman sekitar 2 taun lalu ketika gue lagi di Lombok. Gue tinggal sekitar 2 malem disebuah hotel dan abis itu dilanjutin ke Bali. Hari pertama gue disana, gue langsung ditohok sama obrolan gue dengan seorang gadis Lombok. Umurnya ngga beda jauh sama gue, paling sekitar 14 tahun waktu itu. Gue ngga nanya macem-macem sih sebenernya, dan dia juga ngga jawab macem-macem. Dan waktu itu, keheningan darinya berbicara untuk segalanya; bahwa dia emang ngga punya cita-cita. Buat dia, hidup yaudah jalanin aja hidup. Mau lu besok masih hidup dan jomblo kek, masih hidup tapi kawin lari kek, mau hidup tapi sakit-sakitan kek, yang penting apapun caranya dia harus dapet uang secara halal dan bisa makan. Itu aja. Hati gue serasa terbakar begitu gue tau dia ngga punya cita-cita. Ga kebayang kalo gue yang harus jadi dia. Bisa mogok sekolah kali gue.
Sometimes gue berpikir, gimana kekuatan cita-cita itu sebenernya sama aja sama harapan dan cinta. Some other times, gue berpikir bahwa gue ini ngga punya cita-cita. Tapi kalo gue setarakan cita-cita dengn harapan dan cinta, berarti gue ngga punya harapan, cinta, DAN cita-cita dong? Gue jadi bingung sendiri.
Tuh kan, ngga berujung pada jawaban lagi. Ujung-ujungnya pertanyaan-pertanyaan gue ini hanya membuahkan kebingungan yang lebih daripada sebelumnya. Tetap, tak terjawabkan. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar