Rabu, 21 Agustus 2013

Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?


Penjajahan. Satu kata yang menggambarkan Indonesia banget. Dari 68 tahun lalu sampe sekarang, penjajahan masih menjadi terror terindah yang bisa dateng buat negri ini. Letak perbedaan kata “penjajahan” cuman pada subyek atau pelakunya saja, toh penjajahan masih terjadi diseluruh pelosok Indonesia. Kata orang tanah kita tanah surga, tapi surga apanya kalo tiap hari nemunya Jakarta yang macet dan padet? Kata orang tanah kita melimpah air dan susu, tapi mana bagian “melimpah air dan susu” kalo masih banyak orang Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan?
Penjajahan dulu dan sekarang jelas berbeda. Dulu, orang angkat bambu untuk lawan Belanda. Nyawa mereka jadi taruhan demi kata MERDEKA. Sekarang, kita yang ngerasa “benar” akan berusaha berjuang demi kata ADIL. Masalah nyawa, kayaknya itu udah basi sejak tahun ’45, deh. Mungkin ada, tapi itu cuman 3% yang bener-bener rela mati demi keadilan. Dulu, Indonesia belum punya bendera sendiri – masih nebeng. Sekarang giliran udah punya sendiri malah ga ada artinya kali punya bendera. Latihan buat upacara seminggu sekali aja masih suka sewot. Bendera cuman jadi lambang pengakuan dunia luar bahwa ada nih negara kepulauan yang namanya Indonesia.
Kata orang yang pro Soeharto, masa pemerintahan beliau adalah masa terbaik Indonesia. Oh ya? Kemana uang trilyunan yang kita ga pernah ketahui perginya? Siapa yang bertanggungjawab atas hilangnya jurnalis yang berani mengungkap “kebenaran yang terselubung” pada masa itu? Mereka ‘dijajah’ oleh sebuah mindset. Kata orang Jakarta, Indonesia itu jelek banget sampe mau pindah ke luar negri. Kalo gue tanya mereka pernah liat-liat bagian Indonesia yang dipelosok pasti bilangnya selama ini cuman tinggal di Jakarta. Iyalah jadi “budak” jalanan tiap hari kalau tidak mau meluangkan waktu untuk melihat Indonesia seutuhnya. Mereka ‘dijajah’ keadaan hidup yang memang tak mudah di ibu kota. Kata orang luar negri, Indonesia itu kaya, makanya mereka mau ‘jajah’ kita terus dengan cara menyerang dari segala arah yang merupakan kelemahan kita. Liat aja Freeport kalo ga percaya.
Buat mereka yang selalu jadi “orang penting” atau orang yang berstatus sosial tinggi, mungkin mereka ngga pernah ngerti perasaan yang namanya capek jadi underdog; yang selalu dijelek-jelekin – dibanding-bandingin – dianggap ga mampu – dianggap ga penting oleh pihak lain – masih banyak lagi. Itulah yang terjadi sama Indonesia. Kalo manusia aja punya satu titik balik dari masa suram itu, lalu kapan masa buat negara ini untuk maju?
Pertanyaan paling mendasar buat gue saat ini adalah apakah sebenarnya secara mental kita sudah merdeka? Secara fisik ya, kita sudah membangun negara ini selama 68 tahun – sebuah bukti perjalanan lepas dari penjajahan fisik. Namun mental? Gue meragukan ketangguhan Indonesia.
            Indonesia boleh merdeka dan berdiri pada kedua kakinya sendiri sekarang, namun ada sebuah statement yang sangat membuat tertampar ketika gue merasa benci banget sama Indonesia: “kalo Tuhan aja cinta banget sama Indonesia sampe bela-belain dateng ke dunia untuk nylamatin Indonesia masa kita yang lahir di Indoensia sendiri ngga cinta sih?” Wow.
Sejak saat itu, gue yakin bahwa gue bisa mencintai Indonesia dengan segenap hati gue sama kayak kalo misalnya gue mencintai seseorang – lebih daripada yang sekarang. Mungkin hari itu gue hanya seorang bocah ingusan yang ngga tau bagaimana cara membawa perubahan buat Indonesia, tapi hari ini gue tahu bahwa gue sudah meluangkan waktu gue untuk melatih adik kelas maupun kakak kelas demi kesuksesan upacara tahunan sekolah. Gue meluangkan kekuatan, pikiran, dan pola pikir gue terhadap apa yang pahlawan jaman dulu akan bilang ke gue kalau mereka melihat perjuangan gue ini.
Gue tau diluar sana masih banyak orang yang ngga ngerti kenapa atau gimana rasa cinta terhadap Indonesia bisa menumbuhkan sekian besar pengorbanan gue yang mereka anggap ngga penting. Tapi kalo orang tanya apa gue yakin sama rasa cinta gue terhadap Indonesia, gue akan jawab: “cinta sama Indonesia itu kayak AIDs, menular dengan sangat cepat. Hati-hati saja, karena lu bisa jadi korban gue berikutnya.”
Gue sudah mengambil bagian yang gue bisa untuk membawa sebuah perubahan positif di Indonesia. Bagaimana dengan bagian lo? -red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar