Usia 68
tahun untuk sebuah negara masih tergolong muda kalau kita bandingkan dengan
negara semacam Amerika atau Cina. Namun 68 tahun sudah membawa perjuangan besar
bagi sebuah bangsa berpulau untuk tetap bersatu dibawah sinar matahari yang
sama setiap hari. Banyak orang sudah memberikan hadiah perubahan mereka untuk
Indonesia kemarin, tapi buat gue inilah harinya.
Inilah
ulasan gue mengenai pahlawan-pahlawan yang terus melawan pembodohan dan menolak
lupa untuk menayomi bagian-bagian terkecil dunia ini. Mereka adalah para
pahlawan tanpa tanda jasa.
Gue ngga
akan pernah lebih bersyukur dari tahun lalu; waktu Mr. Lucas jadi wali kelas
gue dan temen-temen 10A. Masih ga kebayang gimana tangan yang sama yang ngajar
gue beberapa tahun lalu adalah tangan yang sama yang mengayomi kita selama 12
bulan. Cerita beliau mengenai “saya yang memilih kalian” membuat gue sangat
bersyukur gue boleh mendarat di SMA yang benar. Gue tau aja ini SMA yang
terbaik. Entah gimana proses sampai semuanya ada disini, tapi yang jelas doa
gue 5 tahun lalu dijawab Tuhan. 4 taun lamanya Tuhan mempersiapkan mental gue
untuk Mr. Lucas. Reka ulang memori jangka panjang gue dimulai dari pemikiran
ini mengenai betapa bersyukurnya gue atas kebersamaan kembali Mr. Lucas di
kelas PKN/Agama kelas IPS selama 1 jam pelajaran setiap minggu. Beliau memang
sosok yang luar biasa.
Semua guru
adalah manusia yang luarbiasa. Tanpa dedikasi yang mereka miliki, gue rasa TB
ngga akan pernah menjadi sekolah yang seperti ini. Karena gue pernah diajar
oleh seorang guru lain selain Mr. Lucas,
gue sangat mempunyai perbandingan atas cara mengajar yang gue sukai. Anggaplah,
namanya Mr. X. Selama gue diajar PKN/Agama oleh Mr. X, nilai gue ngga pernah
lebih bagus ketika gue diajar oleh Mr. Lucas. Lumayan sih nilainya, tapi bukan
sesuatu yang sue bisa sebut sebagai nilai yang memuaskan. Kepercayaan yang
mereka berikan sebenarnya sama, namun ada yang membuat hati gue lebih nyaman
kalo diajar oleh guru yang do’i juga. Satu hal yang gue saat ini sadar adalah
begini: gue menghargai kedua guru gue tersebut, namun pada level yang berbeda.
Gue pada dasarnya seneng diceritain Mr. X, tapi pada akhirnya semua cerita
tersebut membuat gue ngga cukup memperhatikan pelajaran untuk mendapat nilai
bagus karena pada tahap itu gue sudah terlanjur bosan dengan cerita hidupnya
sementara ketika gue sama Mr. Lucas, gue mau ga mau maksain diri buat dengerin
pertanyaan-pertanyaannya – kalo engga berarti nilai gue jadi korban. Ada target
mingguan yang harus gue peroleh.
Sejujurnya
gue tahu bahwa ada begitu banyak orang-orang berjasa diseluruh penjuru
Indonesia yang mungkin tidak akan pernah diketahui keberadaannya maupun
terluangkan sedikit waktu untuk diberikan penghargaan dari Kick Andy atau
semacamnya. Gue sempet berharap bahwa seandainya ada lebih dari 1 Andy di
Indonesia, maka lebih banyak “pahlawan” bangsa yang bisa dikenali jasanya.
Namun jika semua menjadi Andy maka esensi utama dari seorang pahlawan mungkin
akan menjadi senyawa langka di negri ini. Lalu siapa yang bisa menghargai
pahlawan-pahlawan ini dengan hanya 1 Andy di Indonesia? Kita, rakyat Indonesia
dapat mengambil peran untuk bangsa dengan hal ini. Mungkin kecil, namun
perjuangan kita besar jikalau dibandingkan dengan tidak melakukan apapun pada
akhirnya. Saya Gloria Ernita, Dirgahayu Indonesiaku. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar