Rabu, 21 Agustus 2013

Untuk Indonesia, Ditahun Kemerdekaannya yang Ke-68



Usia 68 tahun untuk sebuah negara masih tergolong muda kalau kita bandingkan dengan negara semacam Amerika atau Cina. Namun 68 tahun sudah membawa perjuangan besar bagi sebuah bangsa berpulau untuk tetap bersatu dibawah sinar matahari yang sama setiap hari. Banyak orang sudah memberikan hadiah perubahan mereka untuk Indonesia kemarin, tapi buat gue inilah harinya.
Inilah ulasan gue mengenai pahlawan-pahlawan yang terus melawan pembodohan dan menolak lupa untuk menayomi bagian-bagian terkecil dunia ini. Mereka adalah para pahlawan tanpa tanda jasa.
Gue ngga akan pernah lebih bersyukur dari tahun lalu; waktu Mr. Lucas jadi wali kelas gue dan temen-temen 10A. Masih ga kebayang gimana tangan yang sama yang ngajar gue beberapa tahun lalu adalah tangan yang sama yang mengayomi kita selama 12 bulan. Cerita beliau mengenai “saya yang memilih kalian” membuat gue sangat bersyukur gue boleh mendarat di SMA yang benar. Gue tau aja ini SMA yang terbaik. Entah gimana proses sampai semuanya ada disini, tapi yang jelas doa gue 5 tahun lalu dijawab Tuhan. 4 taun lamanya Tuhan mempersiapkan mental gue untuk Mr. Lucas. Reka ulang memori jangka panjang gue dimulai dari pemikiran ini mengenai betapa bersyukurnya gue atas kebersamaan kembali Mr. Lucas di kelas PKN/Agama kelas IPS selama 1 jam pelajaran setiap minggu. Beliau memang sosok yang luar biasa.
Semua guru adalah manusia yang luarbiasa. Tanpa dedikasi yang mereka miliki, gue rasa TB ngga akan pernah menjadi sekolah yang seperti ini. Karena gue pernah diajar oleh seorang guru lain selain  Mr. Lucas, gue sangat mempunyai perbandingan atas cara mengajar yang gue sukai. Anggaplah, namanya Mr. X. Selama gue diajar PKN/Agama oleh Mr. X, nilai gue ngga pernah lebih bagus ketika gue diajar oleh Mr. Lucas. Lumayan sih nilainya, tapi bukan sesuatu yang sue bisa sebut sebagai nilai yang memuaskan. Kepercayaan yang mereka berikan sebenarnya sama, namun ada yang membuat hati gue lebih nyaman kalo diajar oleh guru yang do’i juga. Satu hal yang gue saat ini sadar adalah begini: gue menghargai kedua guru gue tersebut, namun pada level yang berbeda. Gue pada dasarnya seneng diceritain Mr. X, tapi pada akhirnya semua cerita tersebut membuat gue ngga cukup memperhatikan pelajaran untuk mendapat nilai bagus karena pada tahap itu gue sudah terlanjur bosan dengan cerita hidupnya sementara ketika gue sama Mr. Lucas, gue mau ga mau maksain diri buat dengerin pertanyaan-pertanyaannya – kalo engga berarti nilai gue jadi korban. Ada target mingguan yang harus gue peroleh.
Sejujurnya gue tahu bahwa ada begitu banyak orang-orang berjasa diseluruh penjuru Indonesia yang mungkin tidak akan pernah diketahui keberadaannya maupun terluangkan sedikit waktu untuk diberikan penghargaan dari Kick Andy atau semacamnya. Gue sempet berharap bahwa seandainya ada lebih dari 1 Andy di Indonesia, maka lebih banyak “pahlawan” bangsa yang bisa dikenali jasanya. Namun jika semua menjadi Andy maka esensi utama dari seorang pahlawan mungkin akan menjadi senyawa langka di negri ini. Lalu siapa yang bisa menghargai pahlawan-pahlawan ini dengan hanya 1 Andy di Indonesia? Kita, rakyat Indonesia dapat mengambil peran untuk bangsa dengan hal ini. Mungkin kecil, namun perjuangan kita besar jikalau dibandingkan dengan tidak melakukan apapun pada akhirnya. Saya Gloria Ernita, Dirgahayu Indonesiaku. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar