Karena
cinta datang terlalu cepat baginya, sehingga tak ada ruang lagi untuknya
membuat keputusan. Waktu seakan berjalan begitu saja tanpa meninggalkan bukti
nyata bahwa ia pernah datang. Dia datang kepadaku dengan muka sayu dan mata
bengkaknya – langsung kutebak dia habis menangis deras. Namun bahkan sebelum
dia bisa berbicara untuk menjelaskan keadaannya, dia menangis lagi dalam
pelukanku...
Crystal namanya, sahabat gue sejak kecil. Hari ini adalah
hari yang besar untuknya karena gue tau dia telah lama menyukai salah satu
lawan mainnya di sekolahnya dan dia telah mengambil keputusan untuk berpidah
hati kepada cinta baru yang tiba-tiba datang menghampirinya.
“Dia bilang apaan Tal?”
tanya gue tak lama setelah tangisnya reda dan kami pergi untuk mendapatkan
segelas es teh manis di warung dekat sekolah.
“Ternyata kemaren tuh
nangisnya cuman nangis buaya, Dit, padahal mah emang dari dasarnya hobi PHP-in
cewek”
“Lah?? Bukannya dia semacam
anak berandal hati malaikat gitu ya lu bilang?”
“ah ya kalo lu liat gini apa
lu ga jadi kesel sama dia? Males lah, gue jadi benci banget sama dia”
Sosok pria yang Crystal suka kali ini memang keluar dari
zona nyaman tipe pria idaman Crystal yang biasanya: power forward playboy yang
seringkali ngisengin dia dan nyebelin tapi giliran udah berduaan bisa gentle
setengah mati. Gue emang ngga pernah bisa ngerti ato jadi seperti Crystal, si
tipe cewe dengan segudang koneksi tapi hancur ketika tahu sifat aslinya yang
terlalu impulsif terbuka yang terkadang terlalu terbuka terhadap siapapun.
Gimanapun, dari
semua pria yang selama ini didekati oleh Crystal ga pernah membuat dia nangis
dan kesel sederas ini. Biasanya Crystal adalah panutan gue yang menuntut
kekuatan hati sebagai kaum Hawa untuk menghadapi setan berjenis kelamin pria
tanpa buntut semacam pria yang dekat dengannya sekarang. Namun hanya untuk kali
ini, gue melihat sahabat gue rapuh dan harus menelan pil pahit bahwa cinta ngga
selalu berjalan mulus.
Gue sendiri selama ngikutin perkembangan demi
perkembangan Crystal sejujurnya bingung harus merasakan apa; karena Crystal
sendiri adalah seseorang yang jatuh tanpa diinginkan oleh pihak lawan jenisnya
-- senang sebagai seorang teman yang mendukung penuh sahabatnya, atau iri
karena tidak pernah merasakan apa yang Crystal rasakan selama ini. Entah.
Omong-omong, nama gue Dita. Gue temen lama yang paling
tau Crystal sejak kecil dan pindah sekolah karena beasiswa aksel di sebuah
sekolah internasional Jakarta. Gue pernah pacaran sekali dan bertahan cukup
lama, tapi gue ngga pernah bisa kayak sahabat gue yang punya relasi segudang
sama cowok-cowok sekolahannya. Sampe hari ini, Crystal sama gue selalu tuker
cerita mengenai cowok dikalangan masing-masing.
“Dit, gue berubah pikiran
deh. Gue mau minta maaf aja sama dia kalo gue ada salah, soalnya gue gamau
kehilangan dia, kehilangan lagi itu capek.”
“tapi kan kita cewek, Tal?”
“Kalo cewek emang sekarang
dituntut untuk bikin gerak pertama karena pihak cowok terlalu pecundang untuk
memulai, terus kenapa? It may sound absurd, but don’t be naive”
“.....”
Hari itu,
betapa besarnya dia telah dikecewakan oleh seseorang yang ia cintai, hati
kecilnya berniat untuk bangkit kembali dan mengalahkan kecaman dunia bahwa
wanita tidak berhak memberikan cinta yang lebih bagi orang yang ia pedulikan.
Mungkin, cinta tidak begitu cepatnya. Mungkin inilah waktunya. Mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar