“I know I’m
screwed when I am locked in a room filled with empty papers, books, and writing
utensils but I don’t have anything in mind to put down” –Gloria Ernita
Penulis –
itulah kata yang selalu mereka semua asosiasikan untuk gue. Karna gue jago
nulis; karna gue cepet banget merangkai beberapa paragraf ketika mereka hanya
dapat membuat beberapa kalimat dalam waktu yang sama; karna gue penuh dengan
ide-ide yang bisa dengan mudah gue tuangkan dalam rangkaian kata-kata.
Ngga salah
kalo kalian juga mau mengasosiasikan diri gue dengan hal itu kalo emang itu
adalah apa yang kalian lihat berdasarkan blog gue ini – entah apakah lu dan gue
kenal deket ato kalian lagi sekedar iseng baca-baca blog gue aja. Dan ngga
salah juga kalo kalian bilang ini adalah sekedar hobi yang seseorang jalanin.
Semuanya bisa bener.
Over the years
I have decided to accept what strength I have as much as dealing with what
weaknesses I need to fix. Dan gue punya teori yang berbunyi begini (ini beneran):
salah satu kekuatan, jika digabungkan dengan sebuah kelemahan mematikan, adalah
kombinasi yang sangat SANGAT (seriusan sangat) menyakitkan. Suer.
Kekuatan
absolut gue, seperti yang barusan gue sebutin adalah menulis. Dan kombinasi
maut yang mendampinginya adalah ngeles (mencari-cari alasan untuk tidak
melakukan sesuatu). Untuk seorang penulis kece badai halilintar
menyambar-nyambar macem gue yang ide menulis udah bukan lagi sebuah kebutuhan
utama, yang kemudian harus ada sesuatu yang lain untuk menggantikan kebutuhan
utama itu. DAN DISITULAH KESULITAN FATAL GUE SELALU DIMULAI, OH SAUDARA-SAUDARA.
Kebutuhan utama yang baru adalah “mencari waktu yang tepat”. Mencari waktu yang
tepat ini adalah kelemahan karna cuman bakal ada 2 kemungkinan: 1) gue tunda nulis
dengan ngeles bahwa nulis juga sama kayak belajar – bisa nanti lagi – jadi gue
sekarang boleh leha-leha dulu ato 2) gue harus belajar dulu baru boleh nulis. Dua-duanya menghasilkan hal yang
sama pada akhirnya: gue ngga nulis.
Selain itu,
dalam menulis gue sering menemukan kendala lain yang gue percaya temen-temen semua
juga sering rasain sebagai remaja disuruh nulis essay gajelas adalah 1 kata 6
huruf: MENTOK. Iya, mentok alias ngga ada ide alias ngga tau mau nulis apa
alias desperate nyari ide dari orang lain padahal sebenernya semua hal yang
menarik itu ada pada diri lo sendiri. Permasalahan gue dalam kata “mentok” ini
selalu berawal dan berakhir ketika gue mengambil keputusan untuk nulis
setidaknya 1 kalimat pada sebuah kertas. Jelas, gue harus ngelawan alesan
“mencari waktu yang tepat” gue ini DAN mengentas kebuntuan gue atas topik yang
harus gue bawakan. Setelah kalimat yang pertama, semua isi essay gue akan
seperti yang pernah gue bilang didepan anak-anak di kelas: “cuman langkah
pertamanya doang yang susah. Sisanya abis itu ngalir”.
Mujizat? Not
necessarily.
Sama kayak
hal-hal yang gue liat orang lain jago banget lakuin tapi gue engga, gue sering
ngiri sama mereka. Tapi kemudian kesadaran yang sama selalu datang: usaha yang
mereka keluarkan untuk bisa jadi se-jago itu sama banyaknya dengan usaha yang
gue keluarkan untuk menulis.
Kenapa temen
gue Karen bisa jago banget ballet? Selain karena dia latihan, latihan, dan
latihan, dia menemukan kebahagiaan dalam apa yang dia lakukan – walaupun
mungkin dia tidak menyadarinya; walaupun ketika latihan sakitnya masih sama
seperti ketika awal-awal berlatih.
Kenapa temen
gue Cindy bisa jago banget piano? Karna dia latihan, latihan, dan latihan –
membangun sebuah kebiasaan berulang sejak usia dini. Dan walaupun dia bilang
dia masih ¾ membenci apa yang dia lakukan diatas piano, gue percaya dia seneng
bisa menghasilkan sesuatu dari tarian jari-jemarinya.
Dan kenapa gue
bisa segampang ini dalam menulis? Karna gue latihan, latihan, dan latihan. Dan
gue tau, kesenangan gue dalam menulis ngga akan bisa gue relain mati hanya
karena sebuah alasan atau dua – sama seperti kebahagiaan gue ketika ada sama
mereka. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar