Agak jarang ada sebuah buku gue
udah baca 2 kali in which 2 kali itu gue garap dalam jangka waktu kurang dari 6
bulan lamanya. Untuk yang kali ini, malah, kurang dari 3 bulan pembacaan total.
Buku itu, yang kali ini gue mau utarakan secara spesifik, juga adalah sebuah
buku yang awalnya gue baca gara-gara banyak anak cewek sekelas yang baca dan
denger-denger dibilang bagus. Dengan dasar penasaran, akhirnya ‘The Fault In
Our Stars’ resmi gue baca pertama kali sekitar bulan Mei akhir sebelom Final Test
dan yang kedua baru-baru ini gue selesaiin + nonton filmnya di bioskop sekitar
2 hari yang lalu.
Dan fix saudara-saudara, gue ngga nangis difilm itu. Canggih juga gue.
Selain film beserta buku ‘5 cm’
karya Donny Dhirgantoro yang gue lahap tahun 2012 kemaren, belom ada film yang
bener-bener secara utuh gue pernah baca bukunya sebelum nonton filmnya selain 2
film ini. Rasanya... agak mencengangkan dan nyesek juga sih; soalnya gue jadi
ngga nangis gara-gara udah tau bakal terjadi apaan. Tapi daripada gue ngga baca
bukunya sama sekali gara-gara filmnya ngga semenarik yang gue harapin, gue
mendingan baca duluan deh baru nonton filmnya. Selain itu, udah ngebaca bukunya
helps to make me really feel excited aja sih selain film-film yang dimainkan
oleh Dwayne Johnson, aktor favorit gue.
Kalo gue boleh ngomong jujur gue
sebenernya benci-benci suka sama buku TFIOS. Iya, sebel aja gitu cowok segentle
dan sebaik Augustus Waters harus mati duluan. Benci kalo emang pada faktanya
cinta ga selalu berjalan sesuai yang kita inginkan dan bahwa dunia ini emang
bukan wish granting factory yet si
Peter Van Houten masih bisa aja berlaku biadab sama fansnya. Suka, karna bahasa
literatur yang dipake John Green. Karna buku ini nunjukkin gue bahwa kita bisa
milih siapa yang akan menyakiti kita. Dan, karna buku ini nunjukkin bahwa
kehilangan orang yang paling disayangi akan selalu menyakitkan. Entah kenapa,
kalimat gue barusan begitu gue rasain.
Catch phrase gue di film TFIOS
jujur aja waktu Hazel dateng ke pre-funeralnya si Augustus dan disitu dia
bilang bahwa kalo dia boleh minta apapun kepada Tuhan, dia akan minta waktu
lebih lama untuk Augustus. Disitu hati gue bener-bener berasa ketancep dan
kerobek sama perkataannya entah untuk keberapa kalinya seperti ketika gue baca
line tersebut dibukunya sendiri. Perih, perih banget.
Gue selalu inget bahwa gue benci
fakta kematian Augustus datang begitu cepat. Gue benci surat yang si Augustus
tulis kepada Van Houten yang diperuntukkan eulogy untuk Hazel bikin gue serasa
ngga kepengen baca buku ini lagi (padahal ujung-ujungnya sih gue baca lagi
juga). Gue benci beberapa phrase yang bikin hati gue perih. Tapi entah, rasa
perih itu memberikan gue kesenangan tersendiri diantara seluruh kebahagiaan
kecil yang gue rasakan dari membaca buku itu.
I have finally learned to always cherish the moments we’ve had with
others and notice things. I have found the way I would say about what I want to
do for the world; that I want to notice them – that I will always have time to
look and listen. Dan emang betul kan, bahwa selalu ada persahabatan
dibalik kisah cinta yang baik – sahabat yang akan selalu menjadi “tembok ratapan” ketika kita harus kehilangan yang kita cintai.
Gue mengerti bahwa gue ngga akan
pernah mengerti apa yang melintas dipikiran John Green atau Donny Dhirgantoro
atau siapapun penulis hebat masa kini ketika mereka menggubah buku-buku yang begitu fenomenal dan mengubah hidup banyak orang, tapi yang gue tau adalah
bahwa suatu hari gue akan bisa jadi seperti mereka. Gue bukan kepengen bikin
cerita mainstream tentang cinta atau penyakit dan cinta atau sejenisnya. Namun
yang ingin gue lakukan adalah sesuatu sesederhana “mengubah hidup orang lain
melalui kisah hidup yang gue ceritakan”. –red
“The marks
that human leave are too scars” –Augustus Waters
Tidak ada komentar:
Posting Komentar