Jumat, 04 Juli 2014

The Fault In Our Stars



Agak jarang ada sebuah buku gue udah baca 2 kali in which 2 kali itu gue garap dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan lamanya. Untuk yang kali ini, malah, kurang dari 3 bulan pembacaan total. Buku itu, yang kali ini gue mau utarakan secara spesifik, juga adalah sebuah buku yang awalnya gue baca gara-gara banyak anak cewek sekelas yang baca dan denger-denger dibilang bagus. Dengan dasar penasaran, akhirnya ‘The Fault In Our Stars’ resmi gue baca pertama kali sekitar bulan Mei akhir sebelom Final Test dan yang kedua baru-baru ini gue selesaiin + nonton filmnya di bioskop sekitar 2 hari yang lalu.

Dan fix saudara-saudara, gue ngga nangis difilm itu. Canggih juga gue.
Selain film beserta buku ‘5 cm’ karya Donny Dhirgantoro yang gue lahap tahun 2012 kemaren, belom ada film yang bener-bener secara utuh gue pernah baca bukunya sebelum nonton filmnya selain 2 film ini. Rasanya... agak mencengangkan dan nyesek juga sih; soalnya gue jadi ngga nangis gara-gara udah tau bakal terjadi apaan. Tapi daripada gue ngga baca bukunya sama sekali gara-gara filmnya ngga semenarik yang gue harapin, gue mendingan baca duluan deh baru nonton filmnya. Selain itu, udah ngebaca bukunya helps to make me really feel excited aja sih selain film-film yang dimainkan oleh Dwayne Johnson, aktor favorit gue.
Kalo gue boleh ngomong jujur gue sebenernya benci-benci suka sama buku TFIOS. Iya, sebel aja gitu cowok segentle dan sebaik Augustus Waters harus mati duluan. Benci kalo emang pada faktanya cinta ga selalu berjalan sesuai yang kita inginkan dan bahwa dunia ini emang bukan wish granting factory yet si Peter Van Houten masih bisa aja berlaku biadab sama fansnya. Suka, karna bahasa literatur yang dipake John Green. Karna buku ini nunjukkin gue bahwa kita bisa milih siapa yang akan menyakiti kita. Dan, karna buku ini nunjukkin bahwa kehilangan orang yang paling disayangi akan selalu menyakitkan. Entah kenapa, kalimat gue barusan begitu gue rasain.
Catch phrase gue di film TFIOS jujur aja waktu Hazel dateng ke pre-funeralnya si Augustus dan disitu dia bilang bahwa kalo dia boleh minta apapun kepada Tuhan, dia akan minta waktu lebih lama untuk Augustus. Disitu hati gue bener-bener berasa ketancep dan kerobek sama perkataannya entah untuk keberapa kalinya seperti ketika gue baca line tersebut dibukunya sendiri. Perih, perih banget.
Gue selalu inget bahwa gue benci fakta kematian Augustus datang begitu cepat. Gue benci surat yang si Augustus tulis kepada Van Houten yang diperuntukkan eulogy untuk Hazel bikin gue serasa ngga kepengen baca buku ini lagi (padahal ujung-ujungnya sih gue baca lagi juga). Gue benci beberapa phrase yang bikin hati gue perih. Tapi entah, rasa perih itu memberikan gue kesenangan tersendiri diantara seluruh kebahagiaan kecil yang gue rasakan dari membaca buku itu.
I have finally learned to always cherish the moments we’ve had with others and notice things. I have found the way I would say about what I want to do for the world; that I want to notice them – that I will always have time to look and listen. Dan emang betul kan, bahwa selalu ada persahabatan dibalik kisah cinta yang baik – sahabat yang akan selalu menjadi “tembok ratapan” ketika kita harus kehilangan yang kita cintai.
Gue mengerti bahwa gue ngga akan pernah mengerti apa yang melintas dipikiran John Green atau Donny Dhirgantoro atau siapapun penulis hebat masa kini ketika mereka menggubah buku-buku yang begitu fenomenal dan mengubah hidup banyak orang, tapi yang gue tau adalah bahwa suatu hari gue akan bisa jadi seperti mereka. Gue bukan kepengen bikin cerita mainstream tentang cinta atau penyakit dan cinta atau sejenisnya. Namun yang ingin gue lakukan adalah sesuatu sesederhana “mengubah hidup orang lain melalui kisah hidup yang gue ceritakan”. –red

“The marks that human leave are too scars” –Augustus Waters

Tidak ada komentar:

Posting Komentar