Jumat, 20 Juli 2012

Cerita Eskrim

Gue engga pernah ngerti kenapa gue bisa begitu mencintai eskrim, kenapa gue bisa begitu bergairah saat menemukan eskrim (apalagi kalo dibeliin). Ada sesuatu di dalam diri gue yang menyatakan bahwa kecintaan ini sudah mendarah daging, menjadi suatu bagian dari gue yang ngga bisa dipisahkan lagi. Gue mungkin ngga tahu sejak kapan kedarah-dagingan itu dimulai, yang gue tahu hanyalah apa yang terjadi di awal peradaban kecintaan gue terhadap eskrim. Kejadian ini membawa ingatan gue jauh ke 2 tahun lalu, saat gue masih di akhir masa kelas 2 SMP. Hari itu sudah sore, sekitar pukul setengah enam. Gue baru saja selesai dari tugas gue sebagai panitia di acara olahraga sekolah yang akan berlangsung selama 2 hari berturut-turut. Gue sudah lelah & gue ingin sekali pulang. Namun karena gue harus pulang bersama kakak gue, gue terpaksa menunggu sebentar lagi karena beliau belum selesai berurusan. Karena gue malas menunggu di mobil, akhirnya gue berinisiatif untuk pergi ke sebuah mini market dekat sekolah dengan tujuan mentraktir diri gue sendiri yang sudah bekerja keras hari itu dengan membeli beberapa hal. Akhirnya, gue kembali ke mobil dengan perasaan sangat bahagia setelah membeli sebatang eskrim & sebotol minuman dingin. Tak lama setelah itu, kakak gue-pun kembali dengan muka kusut juga. Diapun pergi ke mini market atas tujuan yang sama & kitapun segera pulang. Kejadian yang sama terulang kembali keesokan harinya. & setelah itu, seperti yang sudah dapat ditebak; gue nyaris tidak pernah makan eskrim selama  setengah tahun lalu kemudian berakhir pada kecintaan gue terhadap eskrim ini. Kecintaan terhadap eskrim gue ini bukan tidak membawa suatu kegusaran dan ketakutan. Waktu itu, gue memakan eskrim secara berlebih dalam waktu seminggu & gue berakhir di toilet dengan mencret-mencret selama lebih dari sehari. Gue sempat takut & jera dalam memakan eskrim. Gue sempat berpikir bahwa inilah akhir dari kecintaan gue terhadap eskrim; tapi ternyata tidak. Justru itulah titik awal penguasaan diri gue yang lebih baik dalam hal keinginan gue untuk makan eskrim. Sampai hari ini, eskrim masih menjadi darah-daging gue sebagaimana dalam beberapa kasus gue akan sangat menikmatinya & dalam kasus lain gue bisa menahan diri dengan sangat baik untuk tidak makan eskrim demi alasan kesehatan (baca: emang lagi engga kepengen eskrim aja makanya engga makan). Dengan demikian, eskrim bukanlah sebuah hal asing lagi bagi gue untuk minta dibelikan. Eskrim adalah sejenis makanan membahagiakan yang membuat gue akan merasa seperti anak kecil yang mendapatkan mainan saat dibelikan. Hidup eskrim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar