Gue ga pernah nyangka hidup gue bakal pernah balik lagi kayak gini. Suatu shit de javu yang ga gue pikir pengen gue rasain lagi sejak awal. Semua terjadi unexpectedly, tanpa gue harapkan sepeserpun. Dalam satu pandangan, gue percaya kalo dalam persahabatan kita kali ini gue lebih banyak terbuka sama dia karena gue kayak mengenal dia sekali lagi padahal kita udah pernah kenal. Gue pikir gue salah dengan membuka percakapan ngga perlu dan berakhir makin canggung. But I tell you once more time that what happens this time wasn’t what I truly expect. Ternyata dia belum berubah sebanyak itu, dia masih orang yang dulu pernah gue kenal. Sahabat, kawan, teman, kakak, dan selalu, saudara.
Gue sering menceritakan diri gue sendiri sebagai dia dulu. Duluuuu banget, jauh sebelum waktu akhirnya gue bisa disebut ‘bersatu’ sama dia. Gue ceritain semua itu sama satu orang, sahabat gue yang masih nempel sama gue sekarang. Cowo itu, yang sering gue anggap sbagai diri gue… Dia, sosok yang paling bikin gue nyaman kalo cerita tentang semuanya. Dia, yang selalu perhatian, yang selalu gue percaya bahwa dia cowo terbaik yang pernah ada dalam hidup gue. Dia, yang menurut gue ga matre dan dia yang selalu bisa tutup mulut saat gue cerita tentang rahasia yang bahkan sahabat terbaiknya sekalipun ga pernah bisa menguak.
Semua orang mengenal dia sebagai satu pribadi ini, yang tidak membiarkan sahabat laki-lakinya terlupakan. Namun fakta memang kadang menyakitkan; tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita; dan demikianlah yang sekarang terjadi. Dia malah diperlakukan seperti itu oleh sahabatnya sendiri yang sudah lama sekali menjadi karibnya. Dikhianati, diperlakukan tidak adil. To be honest, I hate to talk about people who, to my own, didn’t know much about them self. But, this is for what we should learn as lessons. Gue kalo jadi dia, mungkin gue uda tonjok aja sahabat gue itu karena kalo hanya gara-gara cewe barunya dia begitu, seperti ada pepatah berkata “habis manis sepah dibuang”; ga bisa bedain yang mana uda 4 tahun sama yang mana baru 4 hari. Satu kata: Bodoh.
Gara-gara satu orang gadis belia inilah, semua orang seangkatan gue hampir dan sudah kehilangan seorang sahabat. Gue, sahabat gue, kawan lelaki gue, banyaaaak! Gue berharap dulu dia ga pernah masuk ke sekolah gue. Karena sekarang sudah terlalu terlambat, gue hanya tinggal bisa memohon pada Tuhan bahwa semua orang akan mendapatkan sahabat mereka kembali. Gue ga tega kalo semua orang harus pergi dari satu hal yang mereka sudah terbiasa bertumbuh dengan. Hal paling menyakitkan di dunia ini adalah saat seseorang yang dulu lo tau akan selalu ada di sisi lo hanya tinggal ampas dan mereka pergi bersama orang yang lo ga pernah minta untuk dipertemukan.
Mengenai bocah yang gue ceritakan diawal, anggaplah namanya Bino. Dulu waktu kita semua awal masuk kelas 7, gue (masih dengan sahabat gue yang sekarang), dia bersama sahabatnya. Kalo dulu gue dan sahabat gue ngomongin tentang Bino, dalam pembicaraan kita dia pasti selalu identik dengan kawan sepermainannya itu. Sekarang, jangankan berbicara mengenai mereka. Mengenai sahabat lamanya pun sepertinya sudah tidak lazim. Memang semua pasti ada waktunya berubah, apalagi masa remaja adalah masa transformasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Namun Bino, seorang yang masih sama perhatian, baik, nyaman, dan ga bikin canggung seperti dulu membuat gue yakin bahwa gue bisa percaya sama dia sesempurna dulu. Dia akan bisa mendapankan sahabatnya kembali.
Selalu sepanjang pembicaraan yang pernah gue tahu gue bicarakan bersama sahabat gue yang anggaplah namanya Santi ini --tidak pernah kami luput menyelipkan doa untuk Bino. Karena tanpa sadar, kami berdua merasakan sebuah kasih yang kami ingin sampaikan untuk Bino yang pernah dekat dengan kami (walaupun rentang waktunya berbeda). Entah, kami sudah sangat dekat dengannya dan kami pikir kami tidak dapat melakukan apapun untuk menolongnya. Sehingga cara terakhir yang kami tahu dapat kami lakukan kami lakukan. Berdoa mengharapkan yang terbaik.
“Karena kasih seorang sahabat sejati melawan segala ketidakadilan; sahabat akan selalu ada di sisimu untuk mendukung. Kala sedih dia kan menghibur; kala bahagia dia kan tertawa bersamamu; kala dibutuhkan dia kan setia mendengarkan; dan yang terpenting adalah dia tidak kan pernah pergi dari hidup lo karena pribadi lain akan sirna dalam hitungan detik sementara kasihnya buat seorang sahabat adalah senantiasa. Sahabat, selalu ada untuk berbagi suka dan duka; tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah; Sebagai seorang sahabat yang terbaik…” –Gloria Ernita, penulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar